Biak Berdarah: Histori Pahit Mucul Di ingatan

Cinque Terre
Alexander Gobai

7 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh : Paulo G

 

Setiap mendekati tanggal 6 Juli, rona histori pahit pun muncul dalam ingatan. Di Kota iIak, dikaki Tower (yang berada ditengah2 kota), 6 Juli 1998 terjadi pembantaian kemanusiaan; Memerkosa Ibu-ibu dan perempuan mudah; penculikan paksa terhadap, bahkan sebagian mayat ditemukan di tepian pesisir pantai PNG--Hingga Bapak Filep Jees Karma menjalani Hukuman Penjarah selama 15 Tahun.

 

Tower di tengah-tengah Kota Biak iyalah bukti sejarah pertumpahan ratusan darah manusia. Tower itu menyimpan cerita pembantaian itu kepada setiap Generasi Papua, tentang tindakan dan perilaku Militer RI dibawa kontrol Negara Kolonial dari Rentetan Sejarah Berdarah-darah di Papua.

 

Sejak Anesasi Papua--Berpindah-tangan kolonial Belanda ke NKRI--Sejarah perjangan hidup Rakyat Papua Barat yang berdarah-darah tercatat rapih oleh sebuah sistim tanpa masa depan menduduki, mengeskploitasi (merusak atas kepentingannya) alam, dehumanisasi dan depopulasi penduduk koloni beserta Genosida dan Rasisme (hitam vs putih, gunung sv pante, suku vs suku; suku vs Marga).

 

Beberapa waktu kemaring telah kita peringati 16 Tahun Wasyor berdarah (2001); 17 tahun Wamena Berdarah (2000 dan 2003); 11 Tahun Abepura Berdarah (2006); 3 tahun Paniai Berdarah (2014), dan kasus-kasus HAM berat lainnya yng melibatkan Militer (pelaku) dalam pembantaian itu. Belum tercatat Sejarah Memaksakan Papua dalam Indonesia dengan tindakan militeristik dalam rangkaian Operasi-Operasi Militer (DOM Papua) yang menewaskan ratusan ribu rakyat Papua; dan ratusan lainnya mengevakuasi diri ke Negara2 Pasifik hingga di Australia.

 

Maka Idealisme kita, dan mekanisme formalitasnya, Negara bertanggungJawab atas Kejahatan Kemanusiaan di Papua, sebagaimna tanggungjawab Konstitusi Negara (kolonial) Indonesia serta hukum Internasional.

 

Namun, sampai pada hari ini, Biak berdarah pun dilupakan oleh Negara. Militer, para pelaku dibiarkan tanpa mengadili tindakan kebiadabannya atas menghilangkan nyawa Manusia Papua--Niali hidup Manusia Papua seakan tak ada Nilainya di mata Mereka. Para pelaku diberikan pangkat yang lebih tinggi atas label Pahlawan karena Membunuh manusia Papua. 

 

Para Pelaku dan watak militeristiknya dipupuki dan merawatnya agar Operasian militeristik dan rasismenya terus menjaga eksistensi kolonisasi Papua, pengerukkan Alam Papua serta dehumanisasi, Depopulasi (penduduk asli).

 

Posisi Gerakan Pemuda dan Mahasiswa (khususnya Papua) hari ini, telah menyatakan benci terhadap eksistensinya. 

 

Kita semua disini muak dengan busuknya kapitalis ini, muak dengan eksploitasi dan ketidak adilan, diskriminasi, kebohongan, kemunafikan dan kebrutalannya.

 

Maka, untuk mempertegasi Pemuda-Mahasiswa Revolusioner dan menjadi Pemberontak Seumur Hidup, menurutku, dua Artikel berikut ini sangat detail memberikan hal itu.

 

Yang pertama, Menjadi Pemberontak Seumur Hidup

 

Dikutib dari kata-kata John Percy, Sekretaris Nasional Democratic Sosialist Party dalam sambutannya menegaskan posisinya sebagai agitator yang kontra pada masyarakat kapitalis—sistem kapitalis—dan memilih jalan sebagai pemberontak. Meyakini bahwa kaum muda di seluruh dunia adalah yang paling mungkin menjadi pelopor pemberontakan, adalah kaum yang menjadi tulang punggung pemberontakan dan pembuat revolusi—yang melakukan kerja-kerja revolusi yang terarah antara teori dan praktek. Lebih jelas anda bisa klik  sini 

 

Kedua, Menjadi Kaum Muda Pemberontak Seumur Hidup!

 

Kita semua disini karena kita muak dengan busuknya masyarakat kapitalis ini, muak dengan eksploitasi dan ketidak adilan, diskriminasi, kebohongan, kemunafikan dan kebrutalannya. 

Kaum muda disini dan diseluruh dunia adalah yang paling mungkin memberontak: melawan merajalelanya rasialisme di Australia dibawah rejim Koalisi Hansonite, melawan seksisme, terutama dorongan agresif agar perempuan kembali ke rumah sebagai ibu dan istri, melawan perang dan militerisme (John Howard ingin membuang 110 miliar dollar Australia lebih untuk belanja militer), dan melawan tirani korporasi kapitalisme. Lebih jelas anda bisa Klik  Disini.

 

Sebab Self-Determination itu wujud daripada gerakan Rakyat Papua yang sadar, yg dipimpin oleh kaum termaju dalam teori dan praktek. Secara mental, materi, ideloginya sudah matang, serta semangat juang yang tinggi. Kaum termaju itu adalah hasil daripada proses keterlibatan induvidu dalam Pemberintakan.Dia tidak akan turun dari langit. Atau panggilan. itu adalah mistis. Propaganda Kolonial yang selalu ditanamkan kepada kaum mudah-mahasiswa Papua adalah soal pembangunan, bagimna menjadi pemimpin model borjuis, menjadi DPR atau Bupati lalu perubahan itu akan sejalan.itu adalah Ilusi-ilusi borjuasi (lokal dan non) kolonial.

 

Penulis adalah mahasiswa Papua, Kuliah di Yogyakarta

 

 

Baca Juga, Artikel Terkait