Dalam Perlawana di Lapangan Hijau OAP Membutuhkan Tim Mutiara Hitam Persipura

Cinque Terre
Alexander Gobai

4 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Frans Pigai *)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com - Di era reformasi, masih ada polisi dan tentara sewenang-wenang. Tapi ini jangan kita ketakutan atau terkungkung dalam ketakutan. Kita bebaskan diri dari rasa ketakutan itu dan menyampaikan apa yang sebenarnya ada di hati nurani kita .

 

Kita melihat bahwa saat ini seluruh Orang Asli Papua (OAP) sangat membutuhkan tim Mutira Hitam, Persipura dalam memajukan pergerakan dalam pertempuran di lapangan hijau, mengapa karena perjuangan pembebasan dan kemerdekaan sangat dibutuhkan dari sisi pergerakan sepak bola di lapnagan hijau.

 

Contohnya, Boaz Solossa dan dkk setelah isi gol, lalu keluarkan bendera negaranya.

“Kita adalah orang Papua, Boaz dan dkk!”

 

Apa salahnya, kalau Boaz dan dkk angkat baju, di dalamnya ada gambar bendera Papua. Itu juga bagian dari pernyataan jati diri dia. Sebagai striker atau pencetak gol yang subur, tidak mungkin dia akan disingkirkan. Dia sangat dibutuhkan. Mereka tidak akan menyingkirkan dia, karena dia sangat dibutuhkan di dalam kesebelasan Indonesia.

 

Mungkin waktu pertama orang kaget, “Kenapa dia begitu?” Tapi kalau itu terus-menerus dia lakukan, lama-lama orang akan menganggap hal ini biasa. Ini efeknya sangat besar bagi masyarakat. Itu menumbuhkan kepercayaan diri, kebanggaan akan nasionalisme Papua.

 

Begitu juga mungkin atlet-atlet di bidang lain atau juga masyarakat waktu nonton Persipura main di Mandala. Apa salahnya mengibarkan bendera saat Persipura isi gol?

 

Kalau polisi mau tangkap. Tak usah takut, kita hadapi saja. Jadi tidak usah melarikan diri, karena melarikan diri itu jadi alasan untuk mereka pukul, tendang, dan tembak. Tapi duduk saja, tunggu mereka datang.

 

“Okay Bapak, saya siap ditangkap, tapi saya tidak memukul orang, tak merusak barang. Saya hanya mengibarkan bendera untuk menyatakan identitas saya sebagai bangsa Papua.”

 

Jadi ikut saja ke kantor polisi dan diperiksa dan ditanya, “Kamu mau merdeka?”

 

“Memang betul kami mau merdeka. Tapi kami berjuang dengan damai, tak memukul orang, tak merusak fasilitas lapangan atau mencacimaki, tapi kami bicara aspirasi yang ada dalam hati.”

 

Indonesia akan kelihatan dungu bila terus-menerus kasih penjara orang yang aksi damai dengan bendera Papua.

 

Itu antara lain bentuk-bentuk yang bisa dibuat. Atau mungkin misalnya, sakit sampai sudah napas-napas terakhir. Sudah keluarga bawa turun depan kantor polisi. Lari dengan bendera Papua. Masuk ke dalam Polres kemudian berteriak merdeka. Jatuh mati depan pos polisi. Itu polisi repot akan menjawab pertanyaan yang masuk, “Kenapa ada orang mati di depan pos penjagaan?”

 

Orang Asli Papua (OAP) sangat kecewa bahwa mengapa sampai seluruh pemain Persipura akan lari ke glup lain pada liga kali ini, padahal Persipura mampu mempertahankan tim Mutiara Hitam dengan semangat yang dimilikinya. Namun, yang menjadi pertanyaan bahwa penyebabnya; apakah menajer kurang kontrol untuk memanajemen tim Persipura dengan baik, ataukah karena pemainnya sendiri berinisiasi untuk pindah di glup lain? Ataukah kurangnya sponsor untuk membangkitkan semangat sepak bola, Persipura di liga Piala Presiden tahun 2018 ini?

 

Kami OAP merasa kehilangan tim kebanggaan kami pada kesempatan ini, yang selalu kami mengharapkan agar tim Mutiara Hitam tetap jaya di lapangan hijau pada liga-liga yang ada, dan pada Piala Presiden 2018. Karena perlawana pergerakan bagi tim Mutiara Hitam juga merupakan salah satu bentuk pergerakan yang membangkitkan semangat perlawanan dengan tujuan mempertahankan kedaulatan bagi kemerdekaan bangsa Papua.

 

Salah satunya Itu bentuk perjuangan damai, antara lain, yang bisa dilakukan oleh tim Mutiara Hitam, Persipura Papua.

 

Kalau penjara di Papua penuh dengan tahanan politik atau pergerakan lain seperti yang diulaskan diatas tentang glup Persipura ini akan menjadi sesuatu yang sangat memalukan bagi pemerintah Indonesia. Sebab Indonesia kampanye bahwa ia negara demokrasi, dibuktikan pemilihan presiden yang langsung dan ada bukti juga pemilihan gubernur.

 

Oleh sebab itu, sebagai solusi bahwa harapan kami untuk kedepan Persipura harus bersatu kembali untuk mewujudkan cita-cita sebagai perlawanan yang sangat OAP butuhkan “mampu mengibarkan bendera bintang kejora di lapangan hijau” karena itu sebagai bentuk perlawanan dari penjajahan yang kian memgembara di bumi Papua. Jangan lagi terjadi seperti pada liga kali ini, anggaplah bahwa ini sebagai pembelajaran bagi setiap manajer dan  jajaran maupun pemain Persipura itu sendiri. Karena OAP sangat membutuhkan tim kebaggaan kami Mutiara Hitam Persipura Papua.

 

Sumber; Kutipan catatan dari buku Bapak Filep Karma “Sekan Kitorang Setengah Binatang”

 

* Penulis adalah Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait