A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fopen(/var/cpanel/php/sessions/ea-php56/ci_sessiona55631fc271ecebf01ce290d419fc275ddcbcf357bf0789b827ae7f7c15e1266215ef0fb): failed to open stream: Disk quota exceeded

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 156

Backtrace:

File: /home/kabar928/public_html/application/controllers/WebAll.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/kabar928/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/kabar928/public_html/system/core/Exceptions.php:272)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 140

Backtrace:

File: /home/kabar928/public_html/application/controllers/WebAll.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/kabar928/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/kabar928/public_html/system/core/Exceptions.php:272)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 140

Backtrace:

File: /home/kabar928/public_html/application/controllers/WebAll.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/kabar928/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Ilmu, Emas dan Berlian, Diraih Tanpa Sekat Usia

Ilmu, Emas dan Berlian, Diraih Tanpa Sekat Usia

Cinque Terre
Alexander Gobai

3 Bulan yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

PENAMPILANNYA sederhana. Dari balik sosok kesederhanaan itu menyimpan segundang spirit hidup yang tidak pernah lelah meraih ilmu. Baginya, ilmu ibarat emas dan berlian. Harta karun yang tiada pernah lekang dimakan waktu. Ilmu harta  yang tiada pernah dimakan ngengat dan rayap.

 

“Ilmu itu ibarat emas dan berlian dan harta karun yang tidak pernah lekang oleh waktu dan tidak dimakan rayap serta ngengat. Meraih ilmupun tiada batas usia dan jabatan,” kata pemilik  filosofi hidup yang menggenggam erat dalam nafas hidupnya semangat pantang menyerah.

 

Dialah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Propinsi Papua, Drs. Fransiskus Xaverius Mote, M.Si.

 

Sosok yang satu ini, walau kelelahan mendera dalam tanggungjawab  moral dan sosial memikul amanat sebagai Kepala DKP di Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua, Frans panggilan akrab Fransiskus Xaverius Mote tetap menata jadwal meraih mimpi dan impian menyandang Magister Antropologi di Uneversitas Cendrawasih (Uncen) tercapai.

 

Gelar Magister Antropologi dan berhak memasang satu gelar baru  menambah sempurna impian hidupnya. Ketika namanya disebut dan dikukuhkan gelar Magister Antropologi dalam rapat senat terbuka bersama 451 wisudawan   dari program Magister (S2), S1 dan Diploma dari berbagai Fakultas  di Auditorium Uncen, Kamis (22/3).

 

Frans mengaku peristiwa bersejarah dalam perjuangannya meraih Magister Antropologi lahir dari sebuah impian dan komitmen lebih baik menabung ilmu dari pada menabung harta duniawi.

 

“Saya memilih mendalami Antropologi di Uncen, lahir dari sebuah kerinduan untuk memahami spirit hidup masyarakat Papua yang beraneka ragam suku. Dan saya mudah menerapkan konsep pendekatan pembangunan yang selaras dengan jiwa dan semangat warga Papua. Bagi saya pintu masuk membangun warga Papua dari berbagai suku mesti memahami nilai-nilai budaya dari berbagai suku di Papua ini,” tuturnya dengan wajah berseri-seri kepada media ini usai dikukuhkan Magister Antropologinya di Uncen.

 

Dia menyerankan Uncen harus memperjuangkan Antropologi menjadi satu Faultas bukan hanya program studi. Uncen terkenal diberbagai belahan dunia, karena memiliki keahlian Antropologi.

 

“Kita bisa lihat, Uncen dikenal dengan nama Alm. Arnold AP, Mambesak dan beberapa grup-grup musik terkenal di tanah Papua. Karena syair dan lirikan-lirikan lagu yang diekspresikan tokoh-tokoh itu lahir dari kasanah budaya Papua,” katanya.

 

Frans mengaku kalau sempat mendalami pasca sarjana jurusan Pemerintahan. “Saya merasa dengan ilmu pemerintahan belum sempuna, kalau saya tidak mendalami dan meraih Magister Antropologi. Sehingga, saya selalu menata waktu kuliah itu mendalami Antropologi. Supaya, saya bisa memahami jati diri orang Papua. Mendalami Antropologi sangat penting dan saya berharap banyak anak Papua yang mendalami antropologi,” akunya.

 

Menjawab media ini ketika ditanyai mengapa meneliti perilaku hidup dan Budaya Sentani Timur sebagai acuan menulis tesis dan tidak meneliti dan menulis budaya Mee? Dia mengaku suka hal-hal yang menantang, menarik dan ingin mengetahui beraneka ragam suku dan gaya hidup beberapa suku di Papua, itu pertama. Kedua, lokus penelitian dekat dengan tempat kerja dan Uncen.

 

Dan dia mengagumi gaya hidup (Yele-bahasa ibu Sentani) dan tata cara hidup masyarakat Sentani yang sangat khas dan terawat dari turun-temurun.

 

“Perilaku orang sentani yang sudah turun-termurun, terutama dalam membayar pajak sangat menarik.  Apa yang menjadi hak untuk Tuhan dan apa yang hak  Ondofolo dan juga kepada pemerintah, itu mereka sangat patuh dan setia. Nilai-nilai budaya itu bisa dilihat dalam keseharian hidup warga di Kampung Harapan, Nolokla, Nendali, Netar Sentani Timur, Asai. Saya berharap dengan tesis yang saya buat memperkuat nilai-nilai itu dan  terus dipertahankan serta tidak boleh hilang pada era sekarang,” tuturnya.

 

Dia mengaku akan melanjutkan mendalami antropologi di Fakultas Antropologi Universitas Indonesia (UI) untuk meraih doktor. “Saya berniat seperti itu,” akunya. 

 

Pewarta       : Alexander Gobai

 

#Budaya

Baca Juga, Artikel Terkait

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Unknown: Failed to write session data (user). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/var/cpanel/php/sessions/ea-php56)

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: