Korban Selebaran KNPB 43 Rakyat Papua Ditahan

17 Hari yang lalu

POLITIK DAN PEMERINTAH

ADMIN


JAYAPURA KABAMAPEGAA.com –  Sekertaris I Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat, Mecky Yeimo mengaku penahanan 43 orang warga Papua itu korban dari beredarnya selebaran dan isu yang tidak berujung. Isu dan selebaran itu diduga Komite Nasional Papua Barat hendak mendeklarasikan persiapan kemerdekaan Papua Barat. Ke 43 Rakyat Papua dicurigai berada dibalik isu itu. Mereka sempat ditahan semalam di Kantor Polisi (Kapolresta) Kota Jayapura Rabu (4/4). Namun, polisi sudah membebaskan 43 rakyat Papua itu Kamis (5/4) sekitar pukul 02.15 WIT.

 

Menurutnya dari 43 rakyat Papua yang sempat ditahan itu ada dua kategori, diantaranya tujuh orang akitivis KNPB dan lainnya mahasiswa dan pemuda. Selebaran dan isu itu, dua hari sebelum dekelarasi sudah ada penolakan dan pernyataan resmi dari organisasi yang dikeluarkan KNPB melaui media cetak maupun elektronik bahwa itu tidak benar.

 

"Meski pernyataan resmi KNPB sudah diterbitkan, anggota keamanan tetap menyisir dan melakukan penahanan serta penggrebekan. “Seharusnya yang ditangkap adalah aktornya, buka aktivis dan rakyat Papua yang tidak tahu apa-apa yang ditahan,” ujarnya.

 

Dia mengaku kecewa dengan pendekatan yang dilakukan anggota keamanan tidak melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan pihak  KNPB. Supaya aktor dibalik selebaran dan isu itu bisa diktehaui siapa yang menyebarkan. “Kami tidak tahu kegiatan dekalrasi itu, karena belum ada rekomendasi dari semua organasasi, bahkan ULMWP,” ujarnya.

 

Yeimo meminta kepolisian tidak mengembangkan skenario Freeport yang dimainkan  TPN di Timika sebangun dengan perjuangan KNPB. “Jangan mengaitkan masalah dari TPN dengan masalah KNPB disini. KNPB punya masalah sendiri,” pintanya.

 

Meski situasinya seperti itu, dia mengaku keinginan terwujud, 43 rakyat Papua sudah dibebaskan. “Ya,  walau agak berat menerima kondisi 43 orang rakyat Papua ditahan tanpa koordinasi dengan KNPB, ya diterima,” katanya.

 

Ketua BEM Uncen, Paskalis Boma mengaku kaget dengan penyisiran yang dilakukan anggota keamanan di wilayah Kampus Uncen. “Kami merasa kesal. Karena, koordinasi dan komunikasi sama sekali tidak ada,” akunya.

 

Penggerebekan KNPB

 

Dari data yang dihimpun media ini dan dilansir dari Antara News Rabu (4/4) memberitakan, penggrebekan terhadap KNPB dipimpin Kapolres Jayapura Kota AKBP Gustav R.Urbinas. Pada moment pembongkaran panggung Panitia Persiapan Deklarasi Kemerdekaan Negara Republik West Papua dilanjutkan dengan pemeriksaan asrama Rusunawa Uncen. Asrama Rusunawa Uncen ini terletak  di Kali Kampwolker Perumnas III Kelurahan Yabansai Distrik Heram. Tim penggrebekan gabungan  TNI/Polri sekitar 250 orang.

 

Dikabarkan,  pada saat aparat TNI-Polri tiba di lokasi  melaksanakan pembongkaran panggung, masyarakat lebih memilih membongkar sendiri. Setelah itu,  anggota TNI/Polri melanjutkan kegiatan berjalan kaki menuju asrama Rusunawa. Setiba disana, mereka melakukan pemeriksaan asrama rusunawa mulai dari Unit I hingga Unit VI.  Asrama Rusunawa didapati aparat  banyak pintu kamar terkunci, karena ditinggal pemiliknya.

 

Pada saat, anggota melaksanakan  pemeriksaan tidak ada gangguan dan hambatan dari beberapa penghuni yang tinggal saat itu. Dari hasil pemeriksaan yang dijadikan barang bukti diantaranya, ditemukan bendera KNPB yang masih berkibar dikantor KNPB Rusunawa Unit VI, Umbul-umbul dan laptop. Selain itu, ditemukan sepatu PDL dan sekitar 15 unit Motor tanpa surat. Aparat membawa barang bukti dan beberapa orang penghuni kamar ke Polresta Jayapura untuk dimintai keterangan terkait kepemilikan barang bukti tersebut.

 

Pewarta : Alexander Gobai

Foto Kabar Peristiwa