Lima Pernyataan Sikap Komunitas Green Papua Dalam HUT Perdana  

Cinque Terre
Alexander Gobai

6 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

MALANG,KABARMAPEGAA.com - Komunitas Green Papua merayakan  Hari Ulang Tahun (HUT) Perdana pada Jumat, (15/12) di Kontrakan Jl. Raya Candi III, Karang Besuki, Sukun, Malang. Thema yang diusung dalam kegiatan itu ialah "Bersatu, Selamatkan Tanah Air dan Bebaskan Rakyat".

 

Ketua Umum Komunitas Green Papua Yohanes Giyai mengatakan, acara HUT ini untuk mempererat, menjalin konsolidasi dan koordinasi yang lebih baik agar kedepan, Gren Papua hadiri untuk mengadvokasi kehidupan lingkungan dan hutan di berbagai tempat di Papua.

 

“Tahun depan, kami akan mengadvokasi masalah lingkungan terhadap masyarakat adat di Wondama dan sekitar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua,” katanya kepada kabarmapegaa.com, Minggu, (17/12.17).

 

Ia menjelaskan, di dalam kegiatan itu dihadiri 17 kru green Papua yang berasal dari berbagai kota studi, diantarnaya, Surabaya, Malang, Salatiga,  juga  dari  Papua, Tambraw dan Wondama.

 

Giyai mengindahkan, setelah HUT berbagai program akan dilakukan seperti kunjung ekowisata Mangrove di Sendang Biru yang dikelola oleh Lembaga Masyarakat Konservasi Mangrove.

 

“Kami kesana untuk belajar Teknik Konservasi Manggrove berbasi partisipasii Masyrakat. Kami juga akan belajar membangun suatu kelembagaan yang dikontrol langsung masyarakat untuk mengelola kearifan lokal yang dapat berguna untuk pelestarian ekologis, ekonomi, sosial dan budaya,” jelasnya.

 

Senada juga dikatakan salah satu Anggota Komunitas Green Papua, Frans Madai, komunitas ini hadir untuk menyelamatkan kekayaan alam Papua.

 

“Dengan moment Ulang tahun ini kami seluruh Kru Green Papua menyepakati kelola taman nasional di teluk cenderawasih,” Ujarnya Lelaki Asal Deiyai yang sedang mengeyenam study di Surabaya.

 

Dalam rilis yang diterima Wartawan Kabarmapegaa.com ada lima pernyataan sikap yang dibuat komunitas lingkungan Papua sebagai Berikut:

 

(1) Freeport adalah aktor perusak lingkungan; Tutup, Audit, sita aset-asetnya untuk rakyat, dan menanggung seluruh biaya rehabilitasi lingkungan dikawasan Tambang,

(2) Menolak secara tegas perluasan Lahan Perkebunan Sawit di Seluruh Tanah Papua,

(3) Mengecam tindakan militeristik terhadap masyarakat adat yang berjuang mempertahankan ruang hidup,

(4) selamatkan Bumi Papua dari koorporasi dan pemerintah perusak lingkungan dan

(5). Bangun konsolidasi perlawanan nasional masyarakat adat terhadap keserakahan koorporasi dan aktor pemerintah yang mengkomersialisasi potensi alam milik rakyat demi kepentingan ptofit.

 

Pewarta      : Martinus Pigome

 

Editor          : Alexander Gobai

 

Baca Juga, Artikel Terkait