Mahasiswa Minta Pemerintah dan Gabungan Aparat untuk tidak mengalihkan isu Kasus Dogiyai

8 Hari yang lalu

HUKUM DAN HAM

ADMIN


YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com—Bertempat, Asrama Dogiyai, Jln. Klebengan, Yogyakarta, Kamis, (12/4/2018). Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai kota studi Yogyakarta dan Solo (Ipmanapandode Joglo) dan mahasiswa Papua lainnya yang peduli dengan kemanusian kembali gelar dsikusi  terkait kasus penembakan yang mengakibatkan korban Geri Goo dan Rudi Auwe mengalami luka serius yang sedang dalam keadaan kritis.

 

 Dengan demikian Andy Pigai menjelaskan kronologi yang diterima langsung dari kabupaten Dogiyai yang  dilaporkan oleh toko pemuda Dogiyai, Benediktus Goo , Yesaya Goo dan Dokter Fredy Goo.

 

Andy menambakan, pengalihan isu sedang terjadi. Hal ini dikatakannya setelah Andy wawancara lewat telepon dengan warga Dogiyai.

 

Semenatara itu, jelas Benediktus Goo dalam kronologisnya, terkait olah TKP yang dilakukan oleh pihak gabungan aparat di Dogiyai yang dipimpin langsung ole Kapolsek Moanemani ke TKP tepatnya di kios jualan ayam potong di samping kali Mauwa pada tanggal 11 April 2018, pada pukul 9:00 sampai 10:00 waktu setempat adalah bukti dari pengelabuhan fakta dan penggalihan Isu.

 

“karena kejadian penembakan di atas Jembatan kali Mauwa adalah penembaknya tim gabungan Polisi, Brimob dan Timsus),” papar  Beni Goo.

 

Terkait pengalihan isu ini dijelaskan legi oleh Yesaya Goo.  Papar  Yesaya, kutip penjelasan yang disampaikan oleh Polisi setempat, bahwa rumah salah satu warga non Papua (Alifin) dibongkar oleh pemuda setempat untuk mencuri barang-barangnya sehingga Polisi turun ke TKP.

 

“Dalam laporannya, Polisi ke TKP untuk membubarkan pemuda -pemuda Dogiyai tetapi polisi menemukan  semua pemuda pada minum miras sehingga kami memberikan peringatan tetapi mereka masih melawan sehingga kami menembaknya,” paparnya dalam laporan kronologi.

 

Analisa pelapor Polisi, tulis Yesaya datang menciptakan isu bahwa perampok dan pemiras. “Dengan alasan perampok dan pemiras polisi menembak dengan mati pemuda dengan trategi dan terlatih dan terdidik,” ungkapnya.

 

Sementara dari pelapor Benediktus Goo menggungkapkan bahwa di TKP (Jembatan Kali Mauwa) tidak ada aktivitas Miras.

 

Pemuda kampung Mauwa dan kampung Dikiyouwo duduk cerita di rumahnya Jufri Dogomo, diantara mereka ada tiga pemuda yang mabuk, tetapi dalam rumah.  Mereka kaget dengan bunyi tembakan kemudian mereka keluar untuk memastikan penyebabnya.

“Sesampainya di jembatan kali Mauwa, polisi menyuru mereka bubar sampai membuang peluru...” jelasnya.

 

Dari data-data yang diteriam dari pelapot ini, mahasiswa dan pelajar yang terlibat dalam diskusi ini, menyepakati dan akan kawal kasus ini sampai pelaku yang menembak dan kepada pemerintah tembahkan di proses secara hukum yang berlaku negara ini.

 

Badan Pegurus Haria Ipmado Joglo, Yance Yobe menyatakan kami akan mengadakan beberapa kegiatan diantara, jumpa pers, mimbar bebas dan aksi.

 

“Kami melawan lupa, pemerintah dan polisi jangan mengputarbalikan  fakta dan mengalikan isu. Jangan buat masyarakat seperti bintang yang terus diburu oleh senjata api milik negara,” katanya kepada media ini saat diwawancara. Kamis (12/4/2018).  

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

Foto Kabar Peristiwa