PEMDA Deiyai Bertanggung Jawab, Akibat Penyakit Wabah Serampah 40 Bayi Balita Meninggal Dunia

Cinque Terre
Alexander Gobai

6 Bulan yang lalu
KESEHATAN

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh: Mateus Tekege

 

Statement FORKOPMADE se-Jawa dan Bali, semestinya Pemerintah Daerah Kabupaten Deiyai mengutamakan untuk membangun rakyat atau manusianya sendiri bukan pembangunan fisik atau infrastruktur. Karena di seluruh tanah Papua khususnya di daerah Meeuwodide sangat nampak pembangunan fisik atau infrastruktur kalau kita bandingkan dengan pembangunan atau pemberdayakan manusia itu sendiri.

 

Berapa banyak anak-anak Mee yang telah menyekolahkan di jurusan atau bidang keguruan dan atau kedokteran atau kesehatan yang nantinya akan kembali mengabdi di daerahnya sendiri?

 

Berapa banyak meeyoka yang menyekolahkan oleh pemda di jurusan penerbangan yang nantinya menjadi pilot orang Mee? Dan sebagainya.

 

Pertanyaannya adalah pembangunan fisik atau infrastruktur di daerah terlihat meningkat seperti membangun gedung-gedung Sekolah yang mewah tanpa mengandalkan dan memikirkan pendidik atau guru. 

 

Membangun Postu atau Puskesmas tanpa pekerja dan pelayanan medis yang memang orang asli Mee dan sebagainya.

 

Jangan lagi pemerintah daerah memakai sistim kontrak pekerja dari luar Papua. Ini kesalahan fatal yang dilakukan oleh pemda terkait dengan kontrak guru dan medis dari luar Papua. Ini kita rugi dua kali lipat ganda.

 

Alangkah baiknya PEMDA Deiyai salurkan dan khususkan dana kesehatan dan pendidikan untuk menyekolahkan di jurusan keguruan dan Kesehatan untuk bekerja sama dengan universitas jurusan terkait yang menonjol.

 

Oleh sebab itu, PEMDA Deiyai harus bertanggungjawab atas kematian anak di bawah umur (balita), PEMDA Deiyai harusnya membangun manusia bukan infrastruktur.

Maka, atas akibat penyakit wabah serampah 40 bayi balita meninggal dunia, PEMDA Deiyai segera bertanggung jawab dengan tindakan yang secepatnya agar terhindari dari penyakit yang menimpah terhadap balita.

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Bandung

 

Baca Juga, Artikel Terkait