Pelayanan Kesehatan Gratis Namun Angka Kematian Terus Meningkat di Papua

29 Hari yang lalu

ARTIKEL

ADMIN


Oleh : Frengky Syufi)*

 

 “ Generasi muda yang sehat adalah bangsa yang berdikari

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.com--Pada awal pembukaan lembaran baru di tahun 2018 tepat pada tangggal 15 Januari 2018 di Propinsi Indonesia yang  paling timur tempat terbitnya sang surya, khususnya Kabupaten Asmat Propinsi Papua begitu dihebohkan oleh media lokal, nasional bahkan internasional tentang suatu kejadian luar biasa (KLB) yang melanda masyarakat setempat.  Kematian tersebut yang disebabkan oleh penyakit campak dan kekurangan gizi buruk yang menewaskan 71 bayi yang tersebar di beberapa daerah pelosok Asmat_Agats yang diberberitakan oleh Harian Kompas pada bagian Headline  selama kurang lebih dua minggu. Selain itu juga, penyakit kekurangan gizi buruk yang dialami oleh para ibu maupun anak-anak terus mengalami suatu peningkatan secara drastis.

 

Penyakit yang membahayakan bahkan mematikan ini dapat merenggut nyawa 71 bayi secara cuma-cuma dalam kurun waktu yang singkat. Dengan adanya kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi berupa penyakit campak dan kekurangan gizi buruk di Kabupaten Asmat Propinsi Papua yang diberitakan oleh media elektronik maupun media cetak dapat menjadi suatu seruan atas misi kemanusiaan. Seruan kemanusiaan yang diliput oleh para awak media di tempat kejadian, baik media elektronik maupun media cetak dapat menarik simpati para pemerhati kemanusiaan untuk turut mengambil bagian dalam misi kemanusiaan.

 

Pemberitaan yang dilakukan tersebut dapat direspon secara cepat oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, para donatur dan pegiat kemanusiaan untuk memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian dan kebutuhan hidup lainnya yang dapat di sumbangkan bagi para korban penderita penyakit campak dan malnutrisi di Kabupaten Asmat_Agats. Pemberian bantuan  tersebut disalurkan secara berkala melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat dalam hal ini Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial untuk menanggulanggi dan mengatasi penyakit yang menyerang bayi dan para ibu di Kabupaten Asmat yang menjadi pusat perhatian utama publik.

 

Di samping pemberian bantuan berupa sandang dan pangan, Pemerintah Pusat serta Pemerintah Daerah juga menjalankan misi kemanusiaan dengan berkoordinasi serta bekerja sama dengan istansi-instansi terkait dalam rangka mendatangkan tenaga medis yang diturunkan ke lokasi-lokasi untuk menangani cecara langsung penyakit campak dan malnutrisi yang di alami oleh para ibu dan anak-anak di daerah tersebut. Selain itu juga, pemerintah pusat dan pemeritntah daerah bekerja sama dengan POLRI dan TNI beserta tenaga medis untuk turun melakukan penyisiran ke daerah-daerah pelosok Kabupaten Asmat yang kurang mendapatkan akses transportasi maupun akes komunikasi untuk merelokasi sekaligus mengevakuasi masyarakat yang menderita penyakit campak dan gizi buruk ke ibu Kabupaten Asmat untuk mendaptkan penanganan kesehatan oleh tim medis dari berbagai instansi.

 

Misi kemanusiaan terus bergulir ke Agats, Kabupaten Asmat Propinsi Papua yang merupakan tempat terjadinya KLB campak dan malnutrisi. Berbagai pihak mulai dari instansi swasta, militer hingga pemerintah dapat bersinergi untuk menjalankan misi kemanusiaan di Agats, ibu kota Kabupaten Asmat. Tujuan adanya misi kemanusiaan ini ialah kepedulian dari berbagi instansi untuk menuntaskan kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk agar menyelamatkan nyawa generasi muda harapan bangsa ke depan.   

 

Apabila kita melihat kembali ke belakang beberapa tahun silam mulai dari tahun 2000-2018 beberapa kejadian luar biasa (KLB) yang dapat menimpa masyarakat Papua baik itu anak-anak, remaja, para ibu dan orang tua yang tak kunjung henti. Kejadian luar biasa (KLB) yang menimpa masyarakat di Kabupaten Asmat bukan merupakan suatu kejadian yang baru terjadi kali ini di Papua melainkan berulang kali terjadi di beberapa daerah ibu kota Kabupaten yang ada di ke dua  Propinsi yakni Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat. Kejadian-kejadian tersebut sering kali tidak terekspos secara luas oleh media baik media lokal maupun media nasional sehingga tidak diketahui oleh khlayak ramai.

 

Angka kematian yang semakin meningkat tersebut tidak hanya disebabkan oleh satu jenis penyakit melainkan berbagai penyakit yang berbeda dan kejadian lain yang berbeda pula. Berbagai penyakit dan kejadian yang merenggut nyawa orang asli Papua (OAP) yang tersebar di beberapa Kabupaten (Asmat, Nduga, Paniai, Lani Jaya, Deiyai, Wamena, Yahokimo dan Pegunungan Bintang) yang terdapat di Propinsi Papua  bukan mengalami penurunan melainkan semakin meningkat. Dalam kurun waktu selama tiga tahun (2015-2018) angka kematian bayi mencapai 2.044 jiwa. Penyebab lain meningkatnya angka kematian di Papua adalah penyakit HIV AIDS, tabrak lari, keracunan makanan, dibunuh oleh orang tidak dikenal, ditembak oleh TNI dan POLRI serta diserang  oleh berbagi penyakit sehingga mencapai 5.610 jiwa.

 

Berdasarkan Undang-Undang Otonomi Khusus (OTSUS) Nomor 21 Tahun 2001 Bab XVII Pasal 59 tentang Kesehatan. Bunyi pasal 59 ayat 2 yang menyatakan bahwa Pemerintah, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban mencegah atau menanggulanggi penyakit-penyakit endemis dan/atau penyakit-penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup penduduk dan pasal 59 ayat 3 yang menyatakan bahwa setiap penduduk Papua berhak memperoleh pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksusd pada ayat (1) dengan beben masyarakat yang serendah-rendahnya. Ini artinya bahwa, seharusnya kesehatan masyarakat di Papua semakin membaik karena pelayanan kesehatan yang gratis dengan beban biaya yang serendah-rendahnya.

 

Namun pertanyaan yang perlu direfleksikan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, para aktivis, pegiat kemanusiaan dan semua kalangan mahasiswa  adalah sebagai berikut:

  1. Mengapa pelayanan kesehatannya gratis namun angka kematian di Papua terus meningkat secara signifikan?
  2. Sampai kapan kah kejadian luar biasa (KLB) ini berakhir di Papua?
  3. Apakah ada upaya lain yang dilakukan untuk menuntaskan angka kematian di Papua sehingga nyawa generasi muda tumpuan bangsa dapat diselamatkan?
  4. Kemana kah dana Otonomi Khusus (OTSUS) yang dianggarkan setiap tahun untuk menanggani kesehatan masyarakat di Papua?

 

Penulis adalah mahasiwa kerjasama Keuskupan Manokwari-Sorong dan Keuskupan Agung Agats-Asmat yang mengenyam pendidikan di Yogyakarta)*

Foto Kabar Peristiwa