Pembangunan Jalan Trans di Papua Jangan Mengejar Target

Cinque Terre
Alexander Gobai

5 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

JAYAPURA, KABARMAPEGAA.com - Dosen Jurusan Geografi Universitas Cendrawasih (Uncen) Papua, Eka Kristina Yeimo, S.Pd, M.Si menyatakan, pembangunan jalan trans Papua yang sedang dikerjakan di Wilayah Papua sesuai program Presiden RI Joko Widodo diharapakan jangan  mengejar target namun mengedepankan kwalitasnya.

 

“Pembanguan jalan  itu harus dilihat sisi iklim, tofografi, air dan tanah. Karena beberapa sektor itu akan menentukan kwalitas pembangunan jalannya,” kata Yeimo Kepada kabarmapegaa.com, Kamis, (21/12/17) Abepura.

 

Kata dia, pembangunan jalan trans di Papua sangat berbeda dengan pembanguan jalan di luar Papua. Karena di Papua adalah daerah pegunungan, tebing, lereng dan rawah. Maka, perlu melakukan analisi Amdal, survei dan studi kelayakan, sehingga muda diketahui keuntungan dan kerugian.

 

Dirinya, ikut melihat dan merasakan salah satu pembangunan jalan trans  di daerah puncak Jaya menuju ilaga. Disana sudah hampir 20 tahun jalan trans tak Nampak baik

 

“Jalan itu, semenjak saya masih kelas lima SD, masih belum dibangun baik. Hal ini, saya jadi bingung, apakah orang yang bangun salah atau proyek yang membangunnya yang salah,” tanyanya.

 

Dosen Fakultas Keguruaan Ilmu Pendidikan Program Studi Geografi itu, mengatakan, lebih baik membangun jalan mengikuti teknik orang belanda yang berpuluh-puluh tahun bisa bertahan dari pada membangun dari karya bangsa ini, yang tidak mengedepankan kwalitas.

 

Sebelumnya, Ketua Dewan Adat Daerah (DAD) Paniai, John N.R. Gobai mengatakan, dirinya mengapresiasi kepada  Presiden RI yang punya niat baik membangun jalan trans Papua sehingga mempermuda mengakses jalan antarkabupaten dan antardistrik

 

“Namun, saya berharap, pembangunan jalan trans itu perlu dilihat kehidupan masyarakat adat, perlu melibatkan mereka, karena dari segi ekologi alam mereka  sangat paham, tanyakan daerah mana yang sakral dan tidak, sehingga jalan itu tidak terganggu seperti longsor dan kemiringan gunung lainnya,” ungkapnya.

 

Terpisah, Marta Dogomo, yang selalu naik-turun jalan trans antara Nabire menuju Dogiyai, membenarkan, diantara KM 100 – KM 340 antara disrik siriwo dan Dogiyai ada beberapa ruas jalan yang rusak, padahal dibangun bagus lalu kembali rusak lagi.  

 

Pewarta        : Alexander Gobai

 

#Budaya

Baca Juga, Artikel Terkait