Solidaritas Mahasiswa dan AMP Gelar Diskusi Tentang Pemutaran Film The First Graden

23 Hari yang lalu

PENDIDIKAN

ADMIN


SURABAYA, KABARMAPEGAA.com— Selasa (27/03/2018) bertempat di Asrama Kamasan III Papua, Surabaya kurang lebih 70-an orang turut berpartisipati dalam pemutaran film tentang The First Graden yang menceritakan tentang kisah nyata. Film ini bercerita soal sosok Kimani Nganga Maruge yang saat usia 85 tahun belajar di bangku Sekolah Dasar (SD). Di masa mudanya, Maruge menghabiskan waktu melawan kolonial Inggris dengan bersenjata. Dan dia juga salah satu yang mendorong dan berjuang untuk pembebasan Nasional Kenya, diselenggarakan oleh Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Surabaya sebagai bentuk solidaritas untuk membentuk ruang gerak untuk diskusi bersama.

 

Kegiatan nonton film dan diskusi  yang berlangsung di Asrama Papua itu selama tiga jam dan dihadiri oleh solidaritas mahasiswa serta organisas PMKRI Cabang Surabaya dan Pergerakan Nasionalisme, di Kota Surabaya.

 

Sebelum mulai keiatan pemutaran film dan diskusi pihak Kepolisian sempat mau apel di depan Asrama Papua untuk melakukn razis untuk mengintimidasi kawan-kawan. Tetapi, kegiatan bisa berjalan lancar yang dihadirkan oleh sekitar 70-an lebih kawan-kawan saat nonton dan diskusi bersama.

 

“Kami terus aktif membangun kesadaran bagi mahasiswa melalui diskusi dan berbagai kegiatan yang bersifat membangun jiwa dan karakter manusia yang mampu mengeyam pendidikan dan terus belajar sebagai bentuk perlawanan dari aspek politik, pendidikan, ekonomi, sosial - budaya, dan aspek-aspek lainnya, sama seperti apa yang di alami oleh Maruge. Dia berjuang demi pembebasan nasional di Negara Kenya, hanya mau baca surat di usia tua 85 tahun di mengeyam pendidikan SD," hal itu disampaikan oleh Stefanus Pigai, Ketua Aliansi Mahasiswa Papua, Surabaya.

 

Pigai juga menyatakan bahwa kisah nyata dari film The First Graden memberikan semangat jiwa nasionalisme kepada setiap mahasiswa, terutama Mahasiswa Papua dalam mempelajari sejarah bangsa sendiri, dan perlu membuka mata untuk melihat realita Papua dan itu sebagai bentuk perlawanan yang tak bisa dibiarkan untuk terus berjuang.

 

“Untuk itu saya harap dengan pemutaran film The First Graden ini mahasiswa Papua dapat mengetahui kondisi terkini Papua saat ini,” tuturnya.

 

Kemudian, pantauan media di lapangan, pemutaran film berlangsung sangat dramatis, sehingga setiap orang yang hadir pada saat itu terharu ketika mengetahui perjuangan pembebasan bangsa Kenya dan suku-suku setempatnya.

 

“Saya terharu melihat perjungan Maruge berasal dari Kenya dalam dunia pendidikan, Ia kembali mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar sesudah bangsa Kenya merdeka,” ujar seorang mahasiswa Unitomo asal Maluku  kepada kabarmapegaa.com usai pemutaran film.

 

 “Harap kegiatan diskusi ini menjadi kekuatan kita untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dalam bentuk perjuangan nyata, bukan hanya teoritis yang dipelajarinya," kata mantan ketua BEM Mahasiswa Unitomo Surabaya itu.

 

Lebih lanjut Ia menambahkan, pemutaran film tersebut bertujuan memberikan pembelajaran terkini kepada rakyat Papua, bagaimana Papua dikatakann bangsa yang sudah merdeka namun, salah satu contoh yang kita lihat bahwa, ketersediaan sumber daya alam yang ada hanya di kuasai oleh bangsa lain, dilihat melalui Badan Pusat Statistik (BPS) negara ini, Papua kaya tapi dikatakan miskin. Garis kemiskinan yang memuncak tinggi di bumi Papua, karena menurutnya diskusi ini melibatkan semua mahasiswa  Papua di Surabaya untuk melihat hal-hal demikian.

 

Pemutaran film ini merupakan salah satu kegiatan untuk solidaritas bersama guna membukan intelektual dan menyadarkan akan nilai moral kemanusiaan yang sejati dalam menangani setiap problem yang terjadi, terutama di tanah Papua. Akhirnya, pemutaran film tersebut berjalan tertib, aman dan kondusif hingga pukul 22.00 WIB.

 

Pewarta: Frans Pigai

Foto Kabar Peristiwa