TUHAN DAN KEBEBASAN

7 Hari yang lalu

OPINI

ADMIN


Oleh, Ismael Asso)*

 

Proyek Pembebasan Pemikiran

 

Kembali mau diingatkan:  “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum (manusia) itu merubah nasibnya sendiri” (QS. Ar-Ra'd, ayat 11)

 

Kebiasaan kita selalu secara berlebih menyerahkan nasib kepada Tuhan bukan pada usaha diri sendiri sebagai Tuan, pemilik nasib itu sendiri yakni kita sebagai manusia. Karena itu disini saya ingin tekankan kembali kepada para pejuang dan utamanya pemuka tidak boleh selalu menggantungkan nasib rakyat Papua pada Tuhan.

 

Karena Dia sama sekali tidak ada peran, hanya perasaan kita, yang kita ciptakan sendiri, seolah Dia ada peran dan ikut ambil bagian dalam perbuatan dan rencana kita mau merdeka. Padahal Dia, sekali lagi, sama sekali tidak ikut campur tangan ambil bagian dalam pembebasan dan kemerdekaan bangsa Papua Barat.

 

Demikian juga saudara-saudara se-Papua jangan banyak berharap pada pemeluk agama seagama kita, tapi percayalah pada kebaikan agama, kalau mau, kalau bisa, tapi sering diingatkan selama ini sebagaimana dikatakan Frederick Nietzche, sesungguhnya peran agama hanya, sekali lagi hanya, hiburan atas ketidakmampuan kita atas kekalahan dalam kompetisi kehidupan. Hiburan itu yang karena ketidakmampuan kita, kita sering katakan “nanti Tuhan akan menolong dan menghancurkan musuh”, atau sebagai ada "tangan-tangan tak kelihatan akan menolong", itulah isi kosong dari apa yang dinamakan agama sesungguhnya. Maka dengan sendirinya pesan agama hanya menghibur hati kekalahan yang kita alami demikian kata Nietszhe dalam “Zaratustra”-nya.

 

Bagi yang percaya akan adanya kebenaran peran Tuhan, saya mau ingatkan disini, bahwa Tuhan adalah bukan kebenaran pada dirinya kita pandang tapi kebenaran pikiran kita. Apakah Tuhan pikir tentang kita? Siapa tahu Tuhan pikir tentang Papua mau merdeka? Padahal itu hanya pikiran orang Papua sendiri yang menciptakannya tentang adanya peran Tuhan didalam usaha dan perbuatannya. Manusia Papua akhirnya diperbudak oleh ciptaan pikirannya sendiri tentang Tuhan dalam otaknya.

 

Tapi bagi yang percaya peran Tuhan ada dalam kemerdekaan Papua silahkan, saya tidak melarang orang berfikir demikian sebagaimana juga saya mau berfikir sebaliknya tidak mau dilarang. Sebab pemaksaan pemikiran secara etika tidak etis, sebab ada pertanyaan atas dasar apa dan sejauh mana kita memaksakan kebenaran pikiran kita kepada orang lain, apalagi dari sudut pandang HAM sudah melanggar hak asasi keyakinan orang lain berarti melanggar dan bertentangan dengan HAM. Tapi ingat! Saya mau katakan disini bahwa jasa langsung dari Tuhan atau peranan manusia atas nama seagama itu tidak ada sama sekali, sungguh itu utopia psikologi dan terapi bagi orang kalah.

 

Karena itu bagi kita agama hanya sebagai spirit bagi kemantapan mental dalam berjuang kalau bukan hanya sekedar hiburan. Allah/Yesus/Tuhan siapapun barang-barang itu, sekalipun tidak perduli akan nasib orang Papua. Semua hanya perasaan pemeluk agama belaka, atas dasar ketidak berdayaan dan karena kalah. Semua manusia mengatakan Tuhan akan menolong. Tapi kenyataannya Tuhan tidak berbuat apapun. Manusia sendiri yang kerja lalu kita katakan perbuatan Tuhan, gilakah kita? Tuhan dalam perbuatan manusia sesungguhnya tidak pernah terbukti. Semua keberhasilan atas jerih-payah manusia sendiri bukan perbuatan Tuhan.

 

Tuhan tidak ikut bekerja bersama kecuali hasil akhir kerja manusia sebagai karunia Tuhan atau berkat Tuhan. Semua itu omong kosong para pengajar agama (Ustadz, Pendeta dan Pastor). “Ini semua rencana Tuhan”, kita manusia selalu mengatakan demikian padahal Tuhan tanpa peran apa-apa selain manusia sendiri. Manusia banyak berdo’a seakan Tuhan yang buat kita Papua merdeka dan berharap pada orang seagama kita adalah adanya suatu harapan yang karena rasa solidaritas itu muncul dari bibir yang jujur karena percaya pada satu Tuhan, Yakni Yesus Kristus, atau Allah SWT, namun kenyataannya telah banyak terbukti bahwa semua itu adalah jauh dari harapan itu, malah sebaliknya bertolak belakang dari yang kita harapkan.

 

Banyak pejabat baik milter maupun non militer seagama dengan kita, namun kelakuan tidak sesuai harapan sebagimana harapan kita karena satu iman dan agama, malah karena satu iman yang kita percayai berbuat baik pada kita itu, malah sebaliknya berbuat baik demi jabatan, demi uang, dan demi nasionalisme dia sendiri, bukan atas nama Yesus Kristus yang membawa pesan kedamaian untuk umat manusia. Semua pejabat mengatasnamakan Agama kita berharap dapat berpihak kepada kita, justeru kebalikannya terbukti Amir Sembirng telah banyak membantai masyarakat Pulau Biak dalam tahun 1999, Albert Dien di Wamena 1977, Sudomo yang datang ke Papua merebutnya tahun 1962, dan LB Murdani yang datang berperang dengan Belanda untuk menginfasi Papua, kemudian menganeksasinya sampai sekarang dan banyak kasus lain lagi yang melibatkan para pejabat beragama sama dengan agama kita umumnya orang Papua yakni beragama Kristiani melakukan itu.

 

Kita sekarang orang Papua jangan percaya pada mereka yang tujuan sesungguhnya datang ke Papua tidak lain hanya membunuh, merampok, mencuri, dan menindas hak-hak atas tanah air kita atas nama Yesus, kebaikan, kasih, damai, atau apapun, sebab mereka semua omong kosong belaka. Mereka juga para pejabat ini yang seagama dengan agama kita orang Papua telah memainkan kekuasaan atas nama kasih Tuhan demi kepentingan urusan perut mereka sendiri dengan mendekati kita sebagai seagama. Sebab iblis, sekali lagi Tuhan mereka bukan Tuhan Yesus Kristus lagi namun Tuhan mereka Nasionalisme, Jabatan/naik pangkat dan uang.

 

Kesimpulannya kita kecewa, karena manusia yang seagama dengan kita yang sebelumnya yang kita harapkan dapat menolong malah sebaliknya membunuh kita. Adalah suatu kesimpulan cara berfikir kita yang sudah salah sebelumnya, karena sesungguhnya agama tidaklah sama dengan manusia yang menganut agama, manusia berbeda dengan agama. Demikian sama halnya dengan Tuhan, sebab Tuhan juga sangat lain, Tuhan sesungguhnya adalah damai, kebenaran, keadilan kebebasan, karena itu Tuhan kita adalah Tuhan idealisme Papua Merdeka, titik! Karena itu kebenaran kesimpulan kebenaran logika demikian adalah bahwa yang akan membebaskan manusia Papua adalah oleh Papua sendiri, bukan siapa-siapa.

 

Ismail Asso, Kelahiran Walesi Wamena, adalah Ketua Umum Forum Komunikasi Muslim Pegunungan Tengah Papua (FKMPT) Papua, pernah belajar di Pesantren dan Kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Syari’ah (Hukum Islam).

Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait

Foto Kabar Peristiwa