Tindakan-Tindakan Kecil OAP Sebagai Bentuk Perlawanan Untuk Kemerdekaan Bangsa Papua

29 Hari yang lalu

ARTIKEL

ADMIN


Oleh, Carla Makay Assem

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.com – Dalam bukunya Steve Crawshaw dan John Jackson tentang “Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan” dijelaskan bahwa, banyak perubahan besar di dunia ini justru, dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang pada awalnya mungkin terlihat sepele atau dianggap tidak ada apa-apanya. Namun, tindakan kecil sangat berpengaruh besar dalam bentuk perlawanan guna kemerdekaan suatu bangsa, yakni bentuk perlawanan demi pembebasan bangsa Papua. Terbukti jika Orang Asli Papua (OAP) mampu mempersatukan jiwa perlawanan yang sangat ketat dan berani melawan segala bentuk penjajahan yag kain memerata di tanah air, Papua.

 

Mahatma Gandhi, Bob Marley, Jhon Lennon, Arnold C. Ap, dan masih banyak lagi telah menjadi contoh bahwa kekerasan fisik bukan jalan satu-satunya untuk mencapai kebebasan yang mesti kita harus pelajari dan membutikan bahwa suatu perlawanan mempunyai makna tersendiri dalam kemerdekaan suatu bangsa.

 

Pembahasan ini diambil dari bukunya Steve Crawshaw dan John Jackson tentang “Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan” dan akan dibahas sebagian dari yang dianggap penting dan perlu memehami nilai-nilai perlawanan yang benar-benar mempertahankan kedaulatan bangsa dalam perlawanannya.

 

Cuci Gombal di Depan Umum

Kisah ini terjadi di Peru. Pada saat itu presiden Alberto Fujimori yang telah berkuasa selama lebih dari satu dasawarsa dipermalukan oleh rakyatnya dengan cara mencuci bendera nasional yang berwarna merah-putih-merah dengan tujuan untuk menunjukan kepada dunia bahwa peru dan bendera nasionalnya sudah sangat kotor oleh tindakan kejahatan yang dilakukan pada zaman Alberto Fujimori. Siapa sangka, aksi massa mencuci kain beramai-ramai itulah yang menjadi unsure kunci melengserkan presiden peru yang sudah tidak merakyat. Di Papua kita juga bisa melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan di Peru.

 

Bayangkan saja jika rakyat Papua secara bersama-sama melakukan hal yang sama dengan cara mencuci Bendera Nasional Indonesia Merah-Putih, ini saja sudah membuat orang lain berpikir, sebenarnya apa yang terjadi dengan aksi mencuci bendera ini, orang akan berusaha mencari tahu sampai mereka menemukan jawabannya. Tentunya makna dibalik aksi ini adalah ingin menunjukan pada dunia bahwa apa yang terjadi dipapua khususnya pelanggaran HAM adalah murni kejahatan Indonesia lewat aparat keamanannya TNI/Porli tidak bisa ditolerir lagi.

 

1. Impian Tim

Ada orang yang percaya bahwa sepak bola adalah perkara hidup dan mati. Saya justru akan lebih meyakinkan anda bahwa sepakbola jauh lebih penting dari sekedar soal hidup dan mati.

 

Negara Pantai Gading di Afrika Barat terbagi menjadi dua setelah Kudeta tahun 2002 Bagian Selatan yang setia pada pemerintah dan Bagian Utara yang memberontak. Perpecahan etnis dan politik semakin mendalam. Akibatnya warga sipillah yang kena akibatnya. Mereka dibunuh, diperkosa, dan dicincang selama perang sipil berlangsung. Namun, ada seseorang yang mengubahnya. Didier Drogba, bintang sepak bola Internasional asal Pantai Gading menjadikan sepak bola sebagai unsure pemersatu.

 

Tepat pada tanggal, 03 Juni 2007 Drogba mengumumkan akan ada pertandingan babak kualifikasi Piala Afrika yang diselenggarakan di Bouake Ibu Kota Pemberontak. Mendengar hal itu rakyat pantai gading yang selama 0-5 tahun berperang tidak mampu mendamaikan perbedaan-perbedaan diantar mereka, kini bergandengan tangan datang ke Bouake untuk menonton pertandingan sepak bola. 25.000,- Rakyat Pantai Gading bersama-sama menonton kesebelasan nasional mereka mengalahkan Madagaskar dengan angka 5-0.

 

Pertandingan ini semakin dikenang karena gol kelima diceploskan oleh drogba sendiri padamenit-menit terakhir. Maka, suatu rangkaian kemenanganpun terjadi di seluruh negeri. Pada hari ini. Suatu permainan indah telah mempersatukan kembali satu negeri.

 

Apa kabar persipura? Apa kabar Boaz Salosa dkk? Bisakah kalian seperti drogba? Kisahnya boleh berbeda seperti yang terjadi dengan Papua saat ini namun semangat dan kecintaannya terhadap tanah kelahirannya yang patut ditiru. Sejauh yang kita tahu dalam dunia sepakbola tim mutiara hitam Persipura adalah raja lapangan hijau.

 

Tim kebanggaan masyarakat Papua ini telah membuktikan bahwa diujung timur matahari terbit masih ada harapan untuk terus berkarya. Namun, sedikit yang membuat saya kecewa adalah ketika pemain Persipura tidak mengambil kesempatan ini dengan mengkolaborasikannya sesuai dengan perjuangan masyarakat Papua saat ini.

 

Seharusnya dengan popularitas yang dimiliki, pemain Persipura lebih leluasa untuk menyuarakan kebenaran yang terjadi ditanah Papua. Saya bangga karena beberapa kali mereka telah mengharumnkan nama papua lewat dunia sepak bola, namun tidak selamanya kejayaan itu berada di pundak kita karena ada pepatah yang mengatakan ‘semua massa ada waktunya dan semua waktu ada masanya.  Untuk itu semoga popularitas atau kejayaan yang masih ada sekarang bisa digunakan dengan baik seperti yang dilakukan Drogba untuk negaranya.

 

2. Kereta Bayi Mengalahkan Tank Baja

Kekerasan akan kalah juga akhirnya. Di satu kota kecil, warga menemukan cara mereka sendiri. Setiap petang, bermula pada tanggal, 05 Februri 1982, warga kota kecil Swidnik dibagian Timur Polandia mulai bertindak. Begitu televisi mulai menyiarkan berita-berita resmi pemerintah selama setengah jam, semua warga Swidnik keluar rumah memenuhi jalan-jalan, mondar mandir bercengkrama satu sama lain ngobrol menghabiskan waktu. Ada juga yang meletakan pesawat televisi yang sudah dimatikan didalam kereta-kereta dorong bayi atau yang biasa dipakai berbelanjan. Mereka menggelandang kereta-keret dorong berisi pesawat televise itu dijalan-jalan sepanjang malam.

 

Taktik membawa televisi jalan-jalan itu, membuat pemerintah benar-benar berang. Akhirnya pemerintahpun mempercepat pemberlakuan jam malam, dari yang awalnya mulai pukul 10 malam menjadi mulai 19:00 malam. Warga Swidnik menanggapi larangan itu justru, dengan keluar rumah dan memenuhi jalan-jalan lebih awal pada pukul, 17:00 sore yakni saat siaran berita resmi petang hari. Pembangkangan yang terjadi di Swidnik cukup sederhana namun imbasnya besar sekali. Percayalah masyarakat Papua mampu melakukan tindakan ini dengan baik.

 

3. Selarik Lirik Hebat

Gemetarlah dikau,para tiran! Uruguay sejak tahun 1973 terkenal sangat kejam terhadap semua penentangnya. Ketika barisan pemusik mulai mengumandangkan lagu kebangsaan sebelum acara pertandingan dimulai, ribuan warga Uruguay yang hadir di stadion sama sekali tidak bersemangat untuk bernyanyi. Pada saat lagu kebangsaan tiba pada lirik Tiranos Temblad ‘gemetarlah dikau, para tiran’ ribuan penonton itu tiba-tiba berdiri dan gemuruh bernyanyi bersama’ Tiranos Temblad’ sambil mengibarkan bendera yang mereka bawa. Apa yang anda pikirkan? Terlalu beresiko? Tidak ada perjuangan tanpa resiko hanya saja mana yang menjanjikan hasil maksimal itu yang perlu dilakukan.

 

* Penulis adalah Mahasiswa Papua

Editor: Frans Pigai

Foto Kabar Peristiwa


Fatal error: Maximum execution time of 30 seconds exceeded in /home/kabar928/public_html/system/libraries/Session/drivers/Session_files_driver.php on line 253