Tutup Freeport  artinya Amerika Ambil Prakarsa untuk Refrendum bagi Papua Barat

11 Hari yang lalu

ARTIKEL

ADMIN


Oleh, Goo, Egedy)*

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--Rakyat Papua telah lama menderita karena kehadiran PT. Freeport. Perasaan sakit dan derita mereka disampaikan dalam berbagai bentuk dan dibanyak tempat, mulai dari tempat terhormat di ruang-ruang berase, hingga di jalan-jalan. Kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh rakyat Papua secara umum dan para pemilik hak ulayat tanah Amungsa menyimpulkan untuk PT. Freeport harus ditutup. Permintaan rakyat Papua ini sebenarnya jelas kepada siapa dan alasannya. Sekarang pertanyaannya, dapatkah Amerika mengambil prakarsa untuk mengubah semua darita rakyat pemilik ulayat atau masih mau menyakiti, bahkan memusnahkan mereka?

 

Sasaran-sasaran Aspirasi Rakyat

Pertama, Kepada Amerika Serikat. Sasaran pertama dan utama rakyat Papua menuntut PT. Freeport adalah Amerika. Rakyat Papua meminta untuk Amerika bertanggung-jawab atas kematian rakyat Papua khususnya akibat kehadiran PT. Freeport. Amerika wajib mengambil prakarsa, insiatif pribadi untuk semua permasalahan yang terjadi, baik masalah kemanusiaan juga lingkungan alam dalam mengentaskan secara komprehensif dan terhormat. Amerika diharapkan untuk tidak menutup mata terhadap rakyat Papua yang sedang menderita.

 

Kedua, kepada Negara Indonesia. Negara Indonesia yang melakukan hubungan kerja sama dalam mengeksploitasi lingkungan alam Papua melalui PT. Freeport Indonesia harus bertanggung jawab. Pendekatan militer yang menyelesaikan semua kasus tidak mampan untuk menyelesaikan masalah-masalah di Papua. Bahkan menimbulkan masalah baru dan lwbih rumit lagi. Pemerintah Indonesia wajib menjunjung tinggi konstitusi dan perundang-undangan, juga Pancasila sebagai dasar negara.

 

Ketiga, Pemerintah Propinsi Papua. Kepada pemerintah propinsi Papua diminta untuk tidak menutup mata, tidak acuh tak acuh dan masa bodoh dengan keberadaan PT. Freeport yang memenderitakan rakyat kecil yang adalah pemilik hak ulayat. Pemerintah juga harus berinisiatif untuk mencari solusi dan opsi untuk menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan PT. Freeport.

 

Keempat, Pemerintah Daerah Mimika. Pemerintah daerah Timika pun harus bertanggung jawab untuk menyelematkan rakyat dari penderitaan yang dialami karena keberadaan PT. Freeport. Pemerintah ada pertama dan utama karena mau memberikan kehidupan yang layak kepada rakyat, mau memberikan harapan yanh pasti akan kehidupan. Tujuan keberadaan pemerintah karena manusia dan kehidupan manusia itu sendiri.

 

Kelima, Pemilik hak ulayat. Untuk pemilik hak ulayat, terlebih kaum intelektual, para pejabat yang lair dan datang dari tanah Amungsa, orang Amungme harus berusaha untuk menyelamatkan masyarakat yang masih tersisa. Masyarakat setempat masti disadari bahwa manusia lebih penting dari uang, hidup lebih utama dari pembangunan.

 

Tutup PT. Freeport tindakan tepat

 

Tutup PT. Freeport menjadi tindakan paling tepat, paling adil dan paling manusiawi. Hal ini dinilai tepat dan paling adil karena:

 

Pertama, Hidup manusia lebih penting daripada uang dan pembangunan. Ketika setiap tindakan, temasuk kebijakan yang pada akhirnya membelenggu, membuat manusia menderita, kebijakkan tersebut mesti dirombak. Mesti diubah, harus diberhentikan. Tindakan pengeksploitasian terhadap lingkungan alam Papua melalui PT. Freeport Indonesia dianggap tidak menusiawi, bahkan membelenggu kehidupan manusia.

 

Kedua, lingkungan alam lebih utama daripada bangunan yang merusak martabat kehidupan. PT. Freeport dinilai telah merusak lingkungan alam Papua, di tanah Amungsa, Mimika. Kerusakan lingkungan alam ini berakibat pada kehidupan manusia, di mana manusia nilai kehidupan manusia tidak mendapat tempat dalam tindakan eksploitasi yang sedang berlangsung.

Ketiga, hendak menjunjung tinggi rahmat kehidupan yang dianugrahkan kepada setiap manusia. Bahwa kehidupan yang diberikan oleh Allah kepada manusia harus dijunjung tinggi, harus disyukuri dengan mempertahankan kehidupan, bukan menyiksa, apalagi membunuh. Karena itu, jika PT. Freeport hadir hanya untuk mengambil kekayaan alam, tanpa memperhitungkan kehidupan, bahkan membunuhnya lebih baik ditutup saja.

Keempat, PT. Freeport tidak mau membuka ruang demokrasi, tidak memberikan kesempatan untuk menyampaikan apirasi secara terbuka dan terhormat. Di mana rakyat menderita, bahkan terbunuh, PT. Freeport tidak menghiraukan. Dengan ini, rakyat Papua meminta supaya Amerika sebagai yang berwenang ambil prakarsa dalam melanjutkannspirasi rakyat, terutama mendukung aspirasi untuk penentuan nasib sendiri atau refrendum. Jalan ini tidak merupakan jalan tengah, yakni rakyat merasakan keberuntungan dengan kehadiran PT. Freeport, Pemerintah Indonesia tidak merasa dirugikan sekaligus Amerika menjadi pengantara untuk Papua dan Indonesia untuk memantau proses refrendum yang terlaksana dalam pantauan bersama PBB.

 

Penulis adalah seorang Mahasiswa yang sedang mengeyam pendidikan di tanah Abang)*

Foto Kabar Peristiwa