Bukan Tanam Padi! Pemda Dogiyai Harus Mampu Memberdayakan Ekonomi Masyarakat  

1 Bulan yang lalu

ARTIKEL

ADMIN


 

Oleh : Olla Oyauwo Yobee)*

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.com--Perkembangan sektor ekonomi suatu kabupaten atau kota madya dapat  dilihat dari pembangunan yang dilakukan kabupaten itu sendri. Pembangunan ekonomi tidak akan terlepas dari yang namanya pertumbuhan ekonomi. Keduanya memiliki hubungan yang erat sehingga saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika perekonomian suatu wilayah tumbuh dan berkemabng dengan pesat maka pembangunan yang dilakukannya semakin baik dan maksimal.

 

Kemudian dalam prospek pembangunan ekonomi aspek yang paling penting diutamakan adalah aspek sosial budaya. Sebab sosial budaya dapat saja menjadi penghambat maupun  pendorong kemajuan perekonomian suatu kabupaten, karena budaya menjadi salah satu aspek penting dalam diri masyarakat budaya baik dan rajin akan memberikan sumbangsih pada perekonomian begitu juga dengan budaya yang negatif maka akan menghambat kemajuan perekonomian. Sehingga sosial budaya juga menjadi aspek penting dan faktor yang mempengaruhi pembangunan serta pemberdayaan  ekonomi bagi masyarakat yang dipimpin.

 

Untuk itu, berhubung adanya perkemangan teknologi yang sangat cepat membuat perkembangan suatu daerah pun ikut berubah baik itu sektor pendidikan, ekonomi dan sosial budaya. Dari ketiga sektor ini, yang paling menonjol adalah sektor ekonomi. Hal ini pula yang akan menentukan atau menjadi barometer suatu wilayah atau kota madya yang tujuannya memajukan daerah tersebut.

 

Untuk itu, kota madya yang bersangkutan wajib menyesuaikan dengan sistem perekonomian yang ditentukan oleh pemerintahan yang ada yang mana memberikan kebebasan dalam mengelola perekonomiannya, namun dengan pengawasan dari pemerintahan agar menjadi stabil dan terkendali. Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwasannya sistem pemerintahan juga akan mempengaruhi pembangunan ekonomi yang ada. Semakin baik sistem pemerintah dalam memperdayakan masyarakatnya  maka pembangunan ekonomipun akan berjalan dengan lancar.

 

Namun kenyataan ini bertolak belakang dengan beberapa kabupaten di Papua, terutama di kabupaten Dogiyai. Pemerintah menghadirkan berbagai pangan yang tak pernah bercocok tanam oleh warga setempat.  Masyarakat Dogiyai sebagai pengelola sumber daya alam. Dari bahan yang menta menjadi setenga dan jadi. Tenaga masyarakat setempat sangat diperlukan dalam membangun perekonomian Dogiyai karena merekalah  agen pembangunan.Tentu keberhasilan pembangunan ekonomi didukung dengan adanya pemberdayaan ekonomi masyarakat sesuai dengan kebiasan atau tradisi masyarakat setempat pula.

 

Seketika penulis mengikuti artikel-artikel serta berita yang dikemas dalam berbagai media lokal maupun nasional yang memuat tentang pembangunan daerah khususnya kabupaten Dogiyai yang membuat saya terpukul adalah saat adanya lahan baru yang di buka oleh Bupati Dogiyai lama untuk bercocok tanam tanaman padi asal Jawa. Lahan pagi ini dibuka tepatnya di daerah Keinaidiyo, Kigamani, Dogiyai.

 

Bukan masalah sebutulnya, tetapi perkembangan perekonomian, pemerintah harus mampu menyesuaikan dengan kebiasan di daerah tersebut. Bagaimana dengan masyarakat yang belum pernah bahkan tak mengenal cara-cara bercocok tanam padi kemudian dipaksa harus melaksanakan pekerjaan tersebut. Hal ini sama saja pemerintah memaksa masyarakat dan tentunya membunuh tradisi bercocok tanam yang turun temurun sejak nenek moyang ada.

 

 Aneh, bercocok tanam ubi, kelagi serta jenis lainnya itu dipaksa dan harus menanam pagi. Dalam hal ini pemerintah keliru dan tidak memperdayakan masyarakat dalam memajukan perkembangan ekonomi di Kabupaten Dogiyai. Dengan adanya pembukaan lahan penanaman padi akan berdampak buruk pada masyarakat Dogiyai. Sangat merugikan dan membunuh tradisi bercocok tanam umbi-umbian serta sayur mayur. Kebun digantikan dengan sawa.

 

Selain itu juga, pembukaan lahan yang di lakukan oleh pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Dogiyai itu sangat merugikan Masyarakat Dogiyai dan lebih parah lagi adalah ini penjajahan halus pangan terhadap masyarakat Dogiyai. Melihat realita ini, dapat simpulkan bahwa pemerintah daerah  dalam hal ini dinas terkait telah lalai atau ambingu dalam mengambil kebijakan dalam melihat potensi terhadap masyarakat yang mereka pimpin.

 

Peran masyarakat juga beralih dulunya petani Ubi, Pisang, Sayur dll, berubah menjadi petani padi ini akan berdampak negatif bagi masyarakat baik , kesehatan, Ekonomi, budaya. Tentunya melanggar aturan/norma-norma yang terikat erat dengan masyarakat Dogiyai yang sudah dicetuskan oleh tete dan nene moyang yang sekarang kita kenal “Hukum Odaa Owadaa”  kemudian akan berakibat pada generasi selanjutnya.

 

Untuk itu, saya sebagai putri asli kampung Kenaidiyo, Kigamani, menolak dengan tegas atas adanya lahan baru yang disediakan kabupaten Dogiyai untuk menanam padi. Ini sama saja pemerintah Dogiyai sedang  ancang-ancang mau datangkan petani Jawa untuk mengelola padi yang berujung dengan kepentingan sekelompak yang akan merugikan masyarakat setempat. Budaya atau kebiasaan masayarakat akan hilang dengan sendirinya.

 

Harapanya dengan pemimpin yang baru di Dogiyai segera menghentikan pembukaan lahan ini. Kemudian memberdayakan masyarakat dengan kebiasaan yang melekat pada diri mereka. Kembangkan bakat dan kemampuan mereka guna memajukan daerah Dogiyai menuju mota “Dogiyai Dou Enaa”.

 

Banyak potensi yang sebenarnya didukung oleh pemerintah, bukan mendatangkan petani baru dengan perkebunan baru yang sama sekali tak diketahui oleh masyarakat setempat. Di Dogiyai sendiri masih banyak usaha yang harus di dorong oleh pemerintah, seperti: pengelolahan  Kopi, Pengolahan Umbi-umbian, Sayur-Mayur dsb yang sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dogiyai.

 

Sehingga menjadi kesimpulan, Pemerintah Daerah Kabupaten Dogiyai harus mampu mengambil konsep pemberdayaan perekonomian masyakarat yang lebih mengutamakan kepada kesiapan suber daya manusia di Dogiyai yang harus dilakukan secara multi aspek, baik dari aspek masyarakatnya sendiri, maupun aspek kebijakannya, sebab memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat Dogiyai. Memberdayakan adalah memampuhkan dan memandirikan masyarakat berdasarkan pada penegakan ekonomi demokrasi . Kedaulatan di bidang ekonomi yang berlangsung adalah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat dari sumber daya alam yang ada sehingga pemerintah harus  mendukung konsep ini.

 

Penulis adalah mahasiswa asal Dogiyai yang sedang kuliah di Sospol Waskitadharma Malang)*

 

Editor: (Admin/KM)

Foto Kabar Peristiwa