Dibalik Generasi Muda Papua Biarkan Tanpa Wasiat Patriot Bangsa

Cinque Terre
Alexander Gobai

3 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Mai Muyapa*)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com – Generasi adalah turun temurun dari gen orang tuanya yang nanti otomatis wajib akan dapatkan hak dan warisan secara dinamis harkat, martabat, bakan pula, warisan garis keturunan orang tua. Di samping itu telah lekat bersama-sama dengan marga, suku, budaya dan daerah.

 

Beberapa fenomena diatas ini untuk dimiliki pada generasi ke generasi tak ada upaya secara manusia tidak dilakukan untuk belajar! Tetapi, fenomena itu merupakan sendiri akan terbentuk sifat-sifat keturunan, faktor keturunan dan  justru gen perlihatkan bentuknya secara utuh tanpa dipengaruhi sehingga  modifikasi alelnya secara totalitas.

 

Memang sudah jelas. Tetapi  fakto utama yang menjadi konkrit persoalan terhadap generasi muda Papua yang nantinya paten memiliki harkat dan martabat warisan nenek moyang hingga generasi kini sampai pada generasi-generasi akan datang  tanpa ambisiusme.

 

Berdasarkan itu, generasi muda papua barat ingat dan renungkan sebuah titipan surat wasit oleh toko-toko revolusioner, patriot bangsa Papua Barat. Mengatakan bahwa, awasilah dirimu baik-baik, Karena segelintir orang tak kenal  seperti  beda kulit, beda rambut, dan beda  daerah Papua pasti akan kerumung di tanah ini, tetapi orang-orang seperti itu datang hanya bertujuan untuk merampas mengambil kekayaannya.

 

Jika kembali menyimak terhadap perspektif  “Tutur Akhir” oleh revolusioner Papua enta itu dari kelompok bergirliyawan, Kelompok budaya, kelompok religius, dan kelompok-kelompok lainnya.

 

Salah satu toko budayawan papua mengatakan “Arnold C. Ap meninggal sebagai pejuang kebudayaan Papua. Rakyat menghormatinya sebagai konor yang berarti filsuf atau orang karismatik dan kekuatan. Sekitar 5000-an orang hadir dalam pemakaman yang dijaga ketat oleh aparat RI. TUBUHnya sudah ditanam, tapi semangatnya meluap-luap ke segala penjuru. Beranak pinak melanjutkan apa yang perna diperjuangkannya.

 

Dan lanjutnya oleh Theys Eluay mengatakan, tanggal 10 November selalu diingat masyarakat Papua sebagai tanggal kepergian salah satu pemimpin Papua barat Theys Hiyo Eluay. Tetapi aktivitas untuk Theys  hampir selalu tidak bisa dilakukan dengan muda, maka generasi muda Papua wajib selalu diingat dengan aktivitas bapak menjadi penggantinya.

 

Penulis sebagai salah satu generasi muda papua yang mustinya mengenang jejak toko pejung bangsa Papua yang telah mendahuluhi kita. Maka itu, sewajarnya adalah generasi muda Papua wajib mengikuti jejak-jejak revolusioner papua tanpa mendominasi penguasa bangsa melayu. Karena alasanya adalah orang Melayu datang di Papua untuk menyiksa, merampas kekayaan alam Papua bukan karena sayangnya niilai-nilai kemanusiaan atau orang Papua.

 

Generasi muda papua yang nantinya tentu akan menjadi calon-calon pemimpin diatas negeri papua namun kini menjadi faktor utama mengenapi ambang maut pada generasi-generasi papua. Salah satunya pintu maut adalah  realita fakta hari ini puluhan anak balita Papua telah wafat akibat serangan wabah gizi buruk dan wabah lainnya. 

 

“Anak-anak kini menjadi menangis dan bahkan puluhan balita meninggal efek serangan wadah gizi buruk terjadi pada beberapa kabupaten di Papua, tetapi sekarang terjadi Kab. Asmat, Nduga, dan Pengunungan Bintang dan kabupaten lainya di Papua.

 

Bapak Theys Eluay  bilang, pra orang tua, dewasa ini juga menjaga merawat membinbing bahkan mendidik generasi muda papua secara martabat. Karena, mereka adalah pengganti saya untuk telusuri dalam apa yang saya telah di juangkan selama hidup pada bangsanya. 

 

Untuk itu, generasi Papua dituntut sebagai pengganti dan segala hak diatas negerinya. Jadi, Penulis mengajak kepada pra pemimpin di Papua dalam lembaga Legislatif dan Eksekutif telah menjabat oleh orang Papua sendiri. Jadi pemimpin brokrasi instansi kesehatan kabupaten maupun provinsi tolong ada keprihatiaan terhadap musibah yang telah  hanyut generasi muda Papua secara bersistematis.

 

Rujukannya, adalah jika sekarang bapak tidak perhatikan terhadap wabah gizi buruk dampaknya telah meninggal umur dibawah 10 tahun. Anak-anak yang meninggal ulah wabah itu adalah  pengganti bapak? Dan mengambil hak bapak itu siapa? Mengangkat harkat martabat bapak itu siapa? Dan setelah bapak minggal siapa yang akan tangani semua warisan bapak? Jika  puluhan anak anak balita papua meninggal. Lalu kapan?

 

Sebagai kepedulian kemanusian di Papua terutama pada generasi muda yang menjadi tuan diatas negeri leluhurnya maka orang tua pimpinan provinsi dan kabupaten jangan berikan peluang kepada TNI/Porli untuk menangangi kami dalam penderitaan ini.  Karena TNI/Porli itu bukan dokter.

 

Maka, mati dan hidup takdir oleh Tuhan.  Asal penting! Dalam serangan wabah misterius pada balita ini tolong tangani oleh dokter dan pra medis yang telah berkarier dalam merawat pasien  dan bertindak cepat dalam selamat anak-anak yang masih hidup agar se-generasi Papua selamat.  itulah solusi kritis!

 

Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Jayapura sekaligus wartawan yang aktif di media www.kabarmapegaa.com

 

Editor: Frans Pigai

Baca Juga, Artikel Terkait