FRI WP dan AMP Yogyakarta Gelar aksi tuntut penutupan PT.Freeport Indonesia

Cinque Terre
Alexander Gobai

1 Bulan yang lalu
KABAR PAPUA BARAT

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Sekitar 60 mahasiswa yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk west Papua dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Jogja melakukan unjuk rasa di titik Nol KM, Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (7/5/2018).

 

Dalam aksinya mereka meminta kepada pemerintah untuk menutup Freeport berikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokrasi bagi bangsa Papua.

 

Penyataan sikap FRI WP dan AMP menyatatakan PT. Freeport Indonesia telah lama menjadi malapetaka bagi rakyat Papua barat. Kehadiran Freeport di tanah Papua tak bisa di pisahkan dengan kehadirang pelanggaran HAM dan kerusahkan lingkungan di tanah Papua.

 

“Freeport adalah akar masalah. Perampasan, pembunuhan, penindasan pemekosaan. Kehadiran Freeport  sebagai malapetaka bagi rakyat bangsa Papua Barat,” ujar koordinator lapapangan, Rido dari FRI WP kepada wartawan.

 

Kordinator  lapangan AMP, Aworo Tutu menyatakan Tutup Freeport dan berikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokrasi bagi rakyat Papua.

 

Karena menurut Aworo sejak 7 April 1969 pertama kali kontrak karya PT. Freeport Indonesia sebagai alat kelompok pemodal untuk melegalkan pendidasan terhadap rakyat Papua Barat.

 

“Kehadiran Freeport sebagai alat yang menindas rakyat. Sehingga kami mahasiswa Papua bertepatan dengan tanggal 7  April  ini kami mahasiswa Papua yang tergabung dalam AMP dan FRI WP melakukan aksi tutup Freeport dan berikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokrasi bagi rakyat Papua,” katanya saat diwawancara KM.

 

Dari tempat yang sama, Novita Opki Koordinator umum aksi juga mengatakan kehadiran Freeport di Papua tidak memberberikan kesejahteraan kepada rakyat, justru menambah masalah baru.

 

“Kekerasan-kekerasan kemanusiaan, seperti refresip yang dilakukan oleh TNI/Polri kepada masyarakat, diskriminasi, bahkan sampai kerusahkan alam Papua. Limbah yang dihasilkan oleh PTFI tidak ditata baik,” katanya.

 

Menurut Novita untuk mengakhiri semua itu, Freeport harus tutup dan memberikan kebebasan untuk merdeka bagi rakyat Papua.

 

“Untuk itu, masyarakat west Papua jangan terpancing pada sistem kapitalisme yang dimuluskan oleh kolonialisme dan imperialisme,” tuturnya

 

Pantauan media ini, sejak pukul 8.00 WIB Polisi dengan atribut lengkap dan ormas reaksioner, Paski Saton Jogja siap siaga depan pintu keluar asrama mahasiswa Papua, Jln. Kusumanegara. Massa akasi mulai melakukan aksi sekitar pukul 10.00 dengan catatan tidak membawa atribut yang berbauh Bintang Kejora.

 

Sebelum longmarch, Kasat Intelkam Polresta, Kompol Wahyu Dwi Nugroho meghimbau agar aksi dilakukan secara damai. “saya ngak melarang mahasiswa Papua aksi, asalkan nggak pake atribut Papua merdeka,” ujar Kasat Wahyu depan asrama Kamasan.

 

Kata Wahyu, kita mengamankan semuanya termasuk teman-teman yang mau aksi.

 

Namun, masa aksi sempat dihadang oleh ormas Paski Saton dan Polisi di depan halaman asrama Kamasan dan dapat melakukan longmarc menuju titik nol KM, seteah LBH Yogya, Emauel Gobai bernegosiasi dengan Kasat Intelkan.

 

Pewarta: Manfred Kudiai

Baca Juga, Artikel Terkait