Gery Goo Meninggal Dunia: Ini Penyataan Sikap Ipmado se-Jawa Bali

Cinque Terre
Manfred Kudiai

1 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Geri Goo saat menjalani perawatan di RSUD Jayapura – Jubi/Dok

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Terkait peristiwa penembakan pada hari  Jumat  6 April 2018, Pukul 20;00 WIT  di Kabupaten Dogiyai yang diduga dilakukan oleh gabungan aparat keamanan  Indonesia (Polisi, Brimob dan Timsus) yang bertugas di Dogiyai, terhadap Rudi Auwe dan Geri Goo itu, sampai saat ini dikabarkan belum ada  titik terang mengungkap pelaku.

 

Selama 33 hari iya bertahan hidup dalam kegelisaan, kehausan, kelaparan dan kesakitan  Akhirnya tanggal 07 Mei 2018, Korban dipulangkan ke Dogiyai dan Tanggal 9 Mei 2018 Korban meninggal bersama Peluru Panas di Kampung Goodide pada Pukul 10.00 siang.

 

Menyikapi hal ini, Ikatan Pelajar dan mahasiswa Kabupaten Dogiyai (Ipmado) se- Jawa Bali nyatakan sikap. Ada pun pernyataan sikap yang diteriama media ini, via pesan eletronik, Minggu (13/5/2018) sebagai berikut:

 

Penembakan Pemuda Dogiyai oleh Aparat Keamanan Indonesia Hingga Wafat

Jumat, 6 April 2018 pukul 20:00 WIT di Kabupaten Dogiyai, Papua. Rombongan pemuda Kampung Mauwa dan Kampung Dikiyouwo duduk bercerita di rumah Jufri Dogomo, Staf Honorer di Sekretariat KPUD Dogiyai. Jufri biasa menjual ayam potong di barat Jembatan Sungai Mauwa. Di antara rombongan tersebut, ada 3 pemuda yang minum minuman keras bersama-sama di rumah Jufri.

 

Kejadian itu terjadi saat memasak air putih di dandang besar untuk membuat kopi susu. Dalam keadaan asik bercerita. Terdengar bunyi tembakan senjata tiga kali berturut-turut. Hal ini membuat semua pemuda yang ada dalam rumah kaget, lalu keluar untuk memastikan asal suara tembakan.

 

Sesampainya di atas jembatan, polisi suruh mereka bubar sambil terus menembak ke udara. Akibat bunyi tembakan terus menerus terdengar, masyarakat dan Kepala Kampung Mauwa datang mendekat untuk memastikan penyebabnya. Kepala Kampung juga datang melihat keadaan di samping jembatan.

 

Hingga Kepala Kampung tiba di tempat kejadian, polisi masih melakukan tembakan ke arah langit sambil beradu mulut dengan beberapa pemuda yang kaget dan keluar dari rumah Jufri.

 

Kepala kampung coba menengahi dan mengajak masyarakat untuk pulang ke rumah masing-masing. Karena Kepala Kampung juga sama sekali tidak tahu penyebabnya. Tetapi para pemuda masih bertahan di jalan sehingga para polisi disitu pergi memanggil Brimob dan Timsus ke Moanemani, Dogiyai.

 

Satu setengah jam kemudian, sekitar pukul 21:30 WIT, Tim Gabungan (Polisi dan Brimob) datang menyerbu para pemuda yang ada di atas jembatan dengan menggunakan gas air mata dan mulai menembak ke arah masyarakat dan pemuda secara membabibuta.

 

Para pemuda lari dari serangan Tim Gabungan sedangkan ada dua pemuda yang gagal melarikan diri karena sudah kena gas air mata sehingga dua pemuda tersebut atas nama Geri Goo (23 tahun) ditembak polisi di tempat. Rentetan peluru bahkan mengenai punggung belakang lurus dada dan paha kemudian sepanjang punggung, kaki dan tangan. Tim Gabungan kemudian menarik dan menyeret korban di atas jalan aspal. Selain itu Rudi Auwe, ditembak di kaki kanan tetapi berhasil melarikan diri.

 

Sekitar pukul 22:00 WIT masyarakat membawa Geri Goo ke Puskesmas Moanemani. Disana para perawat memanggil Dokter Umum untuk menanganinya. Dokter Umum langsung menangani korban yang posisi dalam keadaan kritis. Menurut keterangan dokter, pelurunya kena dan menghancurkan pembuluh darah dekat paru-paru dan harus dirujuk ke Nabire.

 

Korban kemudian dibawa turun oleh beberapa anggota polisi pada pukul 00:00 WIT ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Nabire.

 

Dua Minggu kemudian, setelah Korban tidak tertangani di Ruang ICU BLU RSUD Nabire, Korban dirujuk ke Jayapura. Menurut cerita keluarga korban dari Nabire, Bupati Kabupaten Dogiyai memberikan Dana sebesar 50.000.000,00 (Lima Puluh Juta Rupiah). Dari Jayapura juga tidak tertolong dan dirujuk ke Jakarta, maka kembali Bupati Dogiyai memberikan dana sebesar 50.000.000,00 lagi kepada keluarga korban untuk dirujuk ke Jakarta.

 

Sementara Itu, Pelaku Penembak Polisi Daerah Papua di  Kepolisian Resort Nabire melalui Kepolisian Sektor Moanemani tidak membantu korban dalam Transportasi maupun biaya pengobatan dari Moanemani, Nabire, Jayapura dan tidak jadi ke Jakarta karena Polisi tidak mampu membiayai Keluarga Korban dan Pasien ke Jakarta, maka polisi layak dikatakan Polisi Melepaskan Batu lalu Sembunyi Tangan, semuaya Polisi mengharapkan kepada Pemerintah Daerah untuk Biaya Transportasi dan Pengobatan.

 

Selama 33 hari iya bertahan hidup dalam kegelisaan, kehausan, kelaparan dan kesakitan  Akhirnya tanggal 07 Mei 2018, Korban dipulangkan ke Dogiyai dan Tanggal 9 Mei 2018 Korban meninggal bersama Peluru Panas di Kampung Goodide pada Pukul 10.00 siang.  

 

Dalam hal ini kami mahasiswa Ipmado se- Jawa – bali mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Bupati Dogiyai Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oskar Makai dan semua Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dogiyai segera membuat tim khusus agar dapat memproses Aparat kepolisian yang menembak Gerry Goo.
  2. Institusi polri, polda Papua segera mencopot Jabatan secara tidak terhormat yang menyuruh menembak Gery Goo  yang sudah Meninggal.
  3. Jika poin 1 dan 2 tidak ditepati maka kami Mahasiswa Dogiyai sejawa – bali akan melakukan Aksi pada bulan juni 2018 mendatang di Dogiyai.
  4. Kami Mahasiswa Sejawa – Bali  akan melaksanakn aksi Bersama di Kementerian KOMNAS HAM untuk menanggapi pelanggaran HAM yang terjadi di Kab.Dogiyai pada tanggal 6 April 2018 yang menewaskan Gerry Goo.
  5.  

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait