Konflik di Tembagapura, Harus Libatkan 3 Tungku

Cinque Terre
Alexander Gobai

2 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

JAYAPURA, KABARMAPEGAA.com – Kepala Suku Wilayah Lapago, Paus Kogoya menyatakan konflik yang terus berkepanjangan antara pihak TNI/Porli dan TPN/OPM di Tembagapura perlu melibatkan Tokoh Masyarakat, Adat dan Gereja dalam penyelesaian konflik tersebut. Pasalnya, dengan keberadaan 3 Tungku itu dapat menjamin penyelesaian konflik.

 

“Saya heran, Pemda mimika tidak tidak pernah melibatkan 3 tungku  itu dalam penyelasaian  konflik di Tembagapura,” kata Kogoya kepada wartawan dari Abepura, Sabtu (7/04) pekan lalu.

 

Ia mengaku meski dirinya berkuasa di Wilayah Lagopo, namun dirinya merasa konflik di tembagapura dan sekitarnya juga termasuk wilayah kekuasaanya karena disana ada sukunya, suku dani yang suku besar yakni 7 Suku. Diantaranya, suku Mee, Moni, Amungme, Kamoro, Nduga, Dani dan Damal.

 

“Di tembagapura juga termasuk suku saya. Saya kesal, yang dilakukan TNI/Polri dan pemerintan, yang tidak melibatkan kepala suku, adat, masyarakat dan gereja, padahal tembagapura adalah tanah kami,” kesalnya.

 

“Jangan hanya andalkan TNI/Porli dan pemerintah. Kalau mau menari nama dan jabataba disilahkann saja, tanpa melibatka kepala suku, gereja dan masyarakat,” tambahnya.

 

Kogoya pun mengaku dirinya, kalau berdiri sebagai jaminan kedamaian penyelesaian masalah antara pihak TNI/Polri dan TPN/OPM.

 

“Saya bisa bicara dengan Goliat Tabuni sebagai panglima perang untuk tidak terus melakukan kontak senjata dengan TNI/Polrli,” katanya.

 

Sementara itu, Direktur PAK HAM Papua, Matius Murib menolak keras kekerasan yang  terjadi di tembagapura antara TNI/Polri dan TPN/OPM.

 

“Saya menolak dan segera tarik kembali TNI/Polri dan TPN daerah Freeport agar masyarakat yang hidup dapat kembali hidup dengan aman dan damai,” harapnya.

 

ia menginginkan, TPN/OPM yang berada di wilayah Freeport, yang  datang dan berbung dari 3 daerah, seperti Paniai,  Intan Jaya, Nabire dan berbagai daerah agar  kembali ke daerah masing-masing.

 

“Jurstu kehadiran mereka membuat konflik bertambah,” katanya.

 

Pewarta     : Alexander Gobai

#Budaya

Baca Juga, Artikel Terkait