Papua Tanpa Missionaris Islam

Cinque Terre
Alexander Gobai

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh,Ismael Asso)*

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com--Sesungguhnya sejak Papua dipaksa bergabung dengan NKRI melalui TRIKORA oleh Soekarno hingga proses PEPERA tahun 1962, yang konon kata saksi hidup orang Papua, melalui proses intimidasi dan rekayasa militer tanpa melalui mekanisme demokrasi yakni satu orang satu suara (one man one vote) melainkan ala Demokrasi khas Indonesia, yakini Musyawarah: Satu orang mewakili banyak suara ( one man all vote).

 

 Sejak itu orang Papua tak pernah merasakan kehadiran orang Muslim sebagai pembawa pesan perdamaian dan kesejahteraan kenyamanan, keamanan melainkan pesan pemaksaan NKRI harga mati hingga mati harga dalam diri orang Papua.

 

Papua dulu Irian Jaya sama sekali tak pernah saya tahu kalau ada pengiriman Missionaris Islam dari Pusat (Pemerintah Pusat, Jakarta), untuk berkarya mengajarkan Islam sebagai agama Rahmat (kasih sayang) bagi seluruh umat manusia. Misalnya melalui Kementerian Agama RI.

 

Dikampung saya, Kampung Assolipele, Distrik Walesi, Kota Wamena, Kabupaten Jayawi Jaya Papua, pernah datang dua orang utusan dari Bantul Jogjakarta bernama Ustadz Bashori Alwi dan Walidan Muhsin utusan Robithah 'Alam Islami melalui Dewan Da'wah Islamiyyah Indonesia (DDII), bentukan Buya Muhammad Natsir.

 

Selama puluhan tahun Papua masuk sebagai bagian dari NKRI petugas Pusat yang didatangkan Pemerintah (Jakarta) terdiri Pegawai Negeri, TNI dan POLRI (organik dan non organik) bermental lebih sebagai penjajah, pembunuh, perampok hak hidup damai rakyat Papua.

 

Kehadiran orang non Papua di Tanah Papua, Tanah kami, dirasakan tidak sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia dan satu bahasa, bahasa Indonesia, satu Tanaj Air, Tanah Air Indonesia. Semua dirasakan orang Papua sebagai asing.

 

Petugas Pemerintah dari Pusat menghadirkan orang selama puluhan tahun di Papua harusnya dianggap sebagai saudara se Bangsa dan se Tanah Air oleh orang Papua tapi sebaliknya dirasakan sebagai perampas Tanah, perampok uang, sebagai penjajah, malah pembunuh nyawa hidup orang Papua.

 

Kembali ke Missionaris Islam bahwa selama puluhan tahun Papua bergabung dengan Indonesia yang mayoritas berpenduduk Islam, seharusnya damai sejahtera, peran kehadiran NU dan Muhammadiyah sangatlah penting namun sejauh ini peran Ormas Islam itu seperti apa dan sejauhmana kembali dipertanyakan dalam mendakwakan apa yang dinamakan "Islam rahmatan lil'aalamiin" atau Islam sebagai agama Kasih Sayang bagi seluruh Alam.

 

Adakah NU dan Muhammadiyah mengkader putera puteri Papua lalu disekolahkan ke Arab Saudi, Mesir dan Negeri-Negeri Islam di Timur Tengah? Sejauh tulisan ini saya buat belum pernah ada. Jangankan itu mengirim Mubaliqh ke Papua saja belum kelihatan dimata saya misalnya masuk wilayah pedalaman Papua seperti Missionaris Barat untuk mendakwakan Islam sebagai agama damai, agama kasih sayang bagi seluruh alam lebih sebagai kita bangsa Indonesia sebangsa senegara.

 

Seharusnya pemerintah Pusat apalagi Ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah mengutus bukan saja malah mendiamkan pemerintah atas keutuhan NKRI mengirim pasukan militer dengan persenjataan modern super lengkap siap mematikan setiap nyawa orang berbicara dan bertindak soal kebenaran dan kemanusiaan manusia dirinya dalam rangka mempertahankan hak hidupnya.

 

Seharusnya tugas pengabdian yang mulia itu dan paling bisa diterima adalah missi kemanusiaan melalui Missionaris Islam karena Cinta Adalah Rasa. Jadi harusnya pasukan kemanusiaan, pasukan penolong (Anshor). Inilah yang seharusnya didatangkan ke Papua bukan transmigrasi yang didatangkan bukan?

 

Ismail Asso adalah seorang Ustadz jalanan tanpa ijazah Ustadz)*

 

Baca Juga, Artikel Terkait