Para Uskup Diminta Suarakan Kenabian di Tanah Papua

Cinque Terre
Alexander Gobai

17 Hari yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)
Keterangan Foto:  Mahasiswa dan Pemuda yang tergabung di dalam Solidaritas Peduli Umat Katolik Pribumi Papua (SPUKPP) sedang  Aksi  Bisu di Aula Susteran Maranatha, Perumnas I, Waena,  Rabu (6/6). (Foto: KM/A. Gobai)

 

JAYAPURA, KABARMAPEGAA.com - Solidaritas Peduli Umat Katolik Pribumi Papua (SPUKP2) meminta para Uskup di tanah Papua Wajib menyuarakan suara Kenabian; demi penegakan nilai-nilai Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian. Karena selama ini kami belum mendengar suara kenabian dari gembala kami. 

 

“Sudah waktunya Putra Papua menjadi pemimpin umat Katolik di tanah Papua, agar suara kenabian berkumandang di atas tanah Papua. Karena kami yakin, putra Papua juga turut merasakan suka duka, harapan, kecemasan dan kegembiraan  umat Tuhan di tanah Papua akan mengumandangkan suara kenabiaannya demi keselamatan Umatnya di tanah Papua,” kata Chirs Dogopia selaku Koordinato Lapangan (Korlap) dalam aksi Bisu yang dilakukan di Halaman Susteran Maranatha Perumnas I, Waena,  Rabu (6/6).

Menurutnya, para Uskup Perlu mengevaluasi secara total jalannya Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) di seluruh tanah Papua. Juga asrama-asrama Katolik haruslah diberi perhatian penuh. Karena sudah banyak asrama katolik putra yang ditutup.

“Kami meminta khusus untuk Keuskupan Jayapura, Kami mempertanyakan: kapan sidang sinode keuskupan jayapura akan dilaksanakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, masa perintisan Gereja Katolik di tanah Papua dimulai sejak Misionaris tiba di pantai Skroe (Fakfak), pantai Kipia Mapar, Kaimana, Manokwari, Arso, Hollandia  dan pantai Selatan Pulau Papua (1894-1896, 1937-1966).

Masa awal perintisan ini ditandai dengan pembukaan sekolah-sekolah, perluasan pusat-pusat pelayanan (Misi), hingga pada tahapan gereja yang otonom (Gereja Partikular).

“Gereja Otonom yang dimaksudkan adalah Pembentukan Keuskupan-keuskupan baru di Papua. Dengan adanya Gereja yang Otonom (Partikular). Maka dibukalah pusat-pusat pengkaderan di berbagai bidang, terlebih khusus dalam bidang Pelayanan Pastoral guna mengisi dan atau melengkapi kekurangan tenaga pastoral di masing-masing keuskupan,” ujarnya.

Sejak berdirinya Gereja Otonom, semangat Gereja Misi mulai ditinggalkan. Artinya bahwa Gereja memulai suatu gerakan mempersiapkan dan memberdayakan potensi-potensi lokal yang ada dalam segala bidang.

 

“Gereja tidak lagi mengharapkan dan berharap pada bantuan pihak luar, para Misionaris Asing. Gereja Katolik di Papua mulai berpikir dan mengarah bukan lagi sebagai Gereja Katolik Di Papua, tetapi Gereja Katolik Dari Papua (Gereja Partikular).

 

Kata dia, Itu berarti, Gereja menampakkan diri sebagai Gereja khas dari Papua, yang mana Orang Papua menjadi subjek dari pengembangan dan pembangunan Gereja itu sendiri. Gereja menjadi Gereja Katolik dari Papua, yang bercorak khas Papua. Karena, orang Papua sendirilah yang menjadi subjeknya.

 

Ia berharap, Gereja Partikular dari Papua belum sepenuhnya terpenuhi, karena Gereja masih saja menutup diri terhadap dinamika Sosial-Budaya Papua. Gereja belum sepunuhnya membuka diri dan menjadikan “Suka Duka, Kecemasan, Harapan dan Kegembiraan Umat Tuhan di Tanah Papua Menjadi Suka Duka, Kecemasan, Harapan dan Kegembiraan Gereja Katolik dari Papua”.

 

“Kami mengakui Gereja Katolik ada dan hadir di tanah Papua karena Misi Keselamatan dari Allah kepada Segala bangsa termasuk bangsa Papua, rumpun Melanesia. Gereja Katolik hadir di tanah Papua karena adanya orang Papua.  Melalui dan oleh Gereja, Misi Keselamatan Allah diwartakan di atas tanah Papua demi dan untuk keselamatan bagi yang tertindas, terhina, teraniaya dan yang dibunuh oleh karena memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kebenaran dan Perdamaian.

 

“Kami berharap, misi itulah yang saat ini diteruskan oleh Gereja. Oleh karena itu Gereja Partikular haruslah menjadi Gereja Katolik Dari Papua yang berjalan bersama orang Papua yang tersingkir, termarginalisasi dan dibunuh (Option For the Poor),” ujarnya.

 

Pewarta    : Alexander Gobai

#Budaya

#Mahasiswa dan Pemuda

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait