Penembakan Dua Pemuda di Dogiyai: Solidaritas Mahasiswa Peduli HAM  Demo di  Kantor DPRD Sulut

Cinque Terre
Manfred Kudiai

22 Hari yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Saat puluhan mmahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Peduli Hak Asasi Manusia (HAM) Papua gelar demo dami di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabuapten Sulawesi Utara (Sulut) Jl. Balai Kota No.1, Tikala Kumaraka, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara. Jumat (25/5/2018) kemarin. (Foto: Anton/Doc.KM/Ist).

 

MANADO, KABARMAPEGAA.com-- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Peduli Hak Asasi Manusia (HAM) Papua gelar demo damai di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabuapten Sulawesi Utara (Sulut) Jl. Balai Kota No.1, Tikala Kumaraka, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara. Jumat (25/5/2018) kemarin.


Dalam aksi ini mereka menuntut supaya segera mengungkap pelaku penembakan yang dilakukan oleh gabungan aparat  keamanan sewenang-wenangnya melepaskan  peluru terhadap pemuda Dogiyai di atas jembatan Kali Mauwa, Kabupaten Dogiyai, Papua yang telah menewaskan Gery Goo dan Rudi Auwe  mengalami luka serius yang sedang dalam perawatan.

 

Masa aksi juga meninta kepada kapolda Papua, segera copot jabatan kepada Polres Nabire yang membawahi wilayah hukum Nabire dan Dogiyai karena dinilai tidak terhormat dalam menjalankan tugasnya sebagai mengayomi dan mengamankan masyarakat sipil.

 

“Rakyat sipil di Dogiyai Papua saat ini, kehidupan mereka sangat  ditakuti dengan kehadiran TNI/Polri. Mereka melakukan Kekerasan berulangkali. Penembakan ini terjadi secara terang-terang terhadap rakyat Sipil Dogiyai. Terhadap masyarakat sipil  yang tidak tahu apa-apa dan itupun bunuh tanpa alasan,” jelas Merkior Pigome, Koordinator lapangan (Korlap) saat diwawancara www.kabarmapegaa.com. Rabu (25/5/2018).

 

Untuk itu, TNI/Polri yang bertugas di Dogiyai dan seluruh tanah Papua, kata Pigome segera hentikan semua pelanggaran HAM di atas tanah Papua.

 

“TNI/Polri stop bunuh  manusia Papua di tanah Papua. Pemerintah Indonesia hadir di tanah Papua bukan membangun tanah Papua tetapi  menghabisi nyawa rakyat Papua di atas tanahanya,” katanya tegas.

 

 Sela-sela itu,  salah satu Mahasiswa Papua, Markus Makai mengatakan  Sila kelima  Pancasila berbunyi: "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tetapi sila kelima tidak berlaku di Papua.

 

“Indonesia adalah negara hukum tetapi nyatanya pelanggaran HAM di tanah Papua tidak pernah terselesaikan, seperti: Kasus Paniai Berdarah pada 8 Desemnber 2014 silam. Sekarang disusul lagi  dengan kasus penembakan di Dogiyai, setelah Oneibo berdarah. Sementara negara masih melakukan pembiaraan terhadap pelaku yang notabenennya adalah  petugas keamanan dengan tugas pokok mengayomi masyarakat sipil," katanya.

 

Dirinya meminta kepada negara untuk segera bertanggungjawab mengungkap pelaku serta usut tuntaskan kasus ini  sesuai jalur hukum  yang ada.

 

Pantauan media ini, aksi demo Damai  ini  diterima oleh Herdy Marwan, selaku  Stab Kab DPRP Sulut di wakili Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Propinsi  (DPRP) Sulawesi Utara.

 

“Aspirasi ade-ade, saya Akan lanjutkan Kepada bidang yang Bersangkutan,” ujarnya setelah menerima aspirasi masa aksi di depan gedung DPRD Sulut, Jl. Balai Kota No.1, Tikala Kumaraka, Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara.

 

 

Pewarta : Anton F Gobai

Editor     : Manfred Kudiai

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait