Selamatkan Papua dari Gizi Buruk dan Kelaparan

Cinque Terre
Alexander Gobai

26 Hari yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh : Maximus Sedik)*

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.com--Persoalan kelaparan jadi masalah serius yang dialami dunia saat ini. Memperingati hari pangan se-dunia 2017, organisai pangan dan pertanian (FAO) di  bawah naungan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) membeberkan sejumlah fakta tentang pangan dan pertanian. Investasi ketahanan pangan dan pembangunan pedesaan tahunan.

 

Masih banyak penduduk indonesia yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan mereka, khususnya wilayah bagian timur indonesia seperti papua. Berdasarkan hasil penelitian dari organisasi pangan Dunia( FAO), diperkirakan sebanyak 19,4 juta penduduk indonesia yang mengalami kelaparan. Penyebab utamanya adalah kemiskinan. Masih banyak penduduk indonesia yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan mereka, khususnya wilayah bagian timur indonesia, seperti Papua.

 

Krisis kesehatan di Papua menjadi suatu sorotan utama dari berbagai pihak, baik ada yang berupa kritikan maupun atas kebikajakan pemerintah baik pusat maupun daerah. Krisisi kesehatan di Papua bagian selatan yang dikenal dengan masyarakat penggukir terkenal di indonesia. Atau lebih di kenala sebagai wilayah pemerintah tersediri, Untuk mengurusi berbagai kebutuhna masyarakat,  setempat kabupaten Asmat provinsi Papua. Dalam data yang diimput dari berbagi media cetak salah satunya adalah kompas.com, menyebut sebanyak 64 anak-anak meninggal berbagai penyakit kurang gizi.

 

Dalam berbagai media nasional, menyebut bahwa krisis ini adalah taragedi kemanusian yang terjadi di tahun ini. Ada juga menyebut kegagalan pemerintah dalam melayani masyarakat denaga baik. Dengan sarana dan prasarana terutama kesehatan dan pendidikan. Tragedi kemanusian yang terjadi papua menjadi suatu refleksi besar bagi saya sebagai anak Papua. Papua memiliki kellimpahan kekayaan yang berlimpah, dan menyimpan bebagaia pontensi yang unuik. Masyarakat papua pada umunya, mendiami ketiga alam yang berbeda, baik alam gunung, pantai, dan rawa. Alam ini mampu memeberi bahan pangan yang cukup bagi semua masyarakat yang mendiami di dalamnya. Masyarakat papua sejak awal mula, hidup di alam rimba raya yang luas, tidak pernah mengalami berbagai peristiwa yang berhubungan dengan kelaparan dan gizi buruk. Karena semua yang dibutuhkan sudah disedikan alam, alam sebagai sumber hidup utama mereka.

 

Fislosofis masyarakat Papua pada umumnya tentang alam atau tanah adalah “ibu” yang memberi mereka makan, mengasuh, dan memberi mereka sumber kehidupan lain yang dibutuhkan. Dengan ini maka masyarakat Papua butul-betul menghargai alam, dari semua yang hidup dan ada di dalamnya.

 

Secara turun-temurun diwarisi leluhur atau moyang kita, alam harus diharagai dengan baik-baik sehingga tetap memberi sumber makanan yang berlimpah bagi kita. Dan juga sebagai tempat penyimpangan kepercayaan awal dimana mereka dilahirkan. Baik itu benda padat-cair maupun, hewan liar, yang dipercayai sebagai kelahiran utama atau moyang dimana mereka lahir dan besar.

 

Apa sebab utama terjadinya tsunami kemanusian di Papua, secara khusus kabupaten Asmat ? Yang menyebabkan krisis kemanusian terjadi di Papua adalah: proses perubahan yang telalu cepat melalui pemekaran daerah otonomi baru. Dimekarkan suatu daeraha otonomi baru, menjadi suatu persoalan yang sangat serius bagi masyarak secara umum di papua dan secara khusus di distrik Agast kabupaten Asmat.  Masalah yang terjadi di lapangan berdasarkan beberapa media yang saya baca, terutama kompas.com meliput seacar langsung peristiwa kemanusian yang dihadapi di lapangan. Masalah utama kekurang gizi karena masyarakat asli berarlih ke kehidupan yang baru melalui program yang berupa bantuan terutama bahan pangan seperti bantuan besar garatis  atau istilah lainnya yaitu beras raskin untuk masyarakat.

 

Seperti yang telah disebutkan oleh guru besar, universitas Hasanuddin Makssar, Nurpudji Taslim, menyebut bahawa masalah kurang gizi bagi masyarakat agast asmat karean” masyarakat asli sudah tidak memperoduksi sagu. Karena masyarakat mengharapkan beras raskin yang mereka tunggu dan dapat setiap bulan’’ dari pemerinatah setempat. Dalam kehidupan masyarakat Papua secar umumnya lebih pada alam dalam arti masyarakat beraktivitas kehidupan seharian bergantung pada alam terutama kehidupan ekonominya. Ketika terjadi suatu pergeseran hidup yang baru, seperti pemekaran daerah otonom baru sangat mengancam kehidupan masyarakat di sekiatarnya. Seperti masalah kurang gizi yang terjadi di kabupaten Asmat provinsi Papua. Sebelum masyarakat agast mengonsumsi sagu dengan ikan, namun masyarakat Agast mengonsumsi beras raskin dengan supermi.

 

Sudaha terjadi pergeseran pola makan yang  luar biasa. Dahulu mereka makan sagu dengan ikan, kini makan nasi dengan berbagi lauk pauk yang lain. Untuk lebih tepat menurut saya, inti dari kebijakan pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tepat dan pada sasarannya. Harus mengelola makanan berbasis pangan local yang sudah ada di lingkungan dimana masyarakat mendiami. Kebijakan pemerinatah harus diubah pemberian raskin serta peluncuran dana otsus yang besar bagi masyarak papua. Sangat berdampak, karena apa? Masyarkat dengan sikap menunggu setiap bulan atau tahun untuk beras maupun dana otsus di berikan. Kerena memberikan uang otsus serta beras  raskin bukan suatu yang bersisfat membangun, atau memberikan keterampilan pada masyarakat. Tetapi  itu ibaratnya “buat kebun sebelum membersihkan dari awal”.

 

Setiap daerah di seluruh daratan pulau papua, memiliki pangan lokal yang sangat berpontensi besar. Dan memberi gizi yang biak bagi setiap orang yang mengonsumsinya, baik itu karbohidrantnya maupun proteinya. Sehingga masyarakat jarang atau tidak penah, mengalami suatu peristiwa yang berhungan dengan kekurangan gizi. Karena semua masyarakat mampu mengelola secara tradisional sesuai dengan gaya khas daerahnya. Ada beberap kelompok jenis pangan lokal yang sangat baik di paua anatara lain. Sagu, ubi jalar, keladi isi banyak, muapun isi satu, singkong, dan masih banyak lagi pangan lainnya. Untuk sayur- mayurnya lebih banyak jenisnya dan diberi nama sesuai dengan daerahnya masing-masung.

 

Ketika terjadi kekurangan gizi di Papua mencul pertanyaan sangat serius, dari saya sebagai anaka papua. Apakah salah masyarakat setempat atau pemerintah setempat, sehingga wabah penyakit terjangkit  pada masyarakat? Atau siapakah yang disalahkan ketika terjadi peristiawa kemanusiaan yang seperti wabah penyakit terutama, hal kekurangan gizi bagi masyarakat Papua. Untuk membangun papua yang baik, sesuikanlah apa yang sudah ada di dalam masyarakat setempat dimana daerah otonom baru dimekarkan. Terutama biadang pangan dan bidang lainnya sudah sejak dulu sebelum hadirnya program-program lainnya, atau suatu pemerintahan baru.

 

’Mari kita selamatkan Papua sebelum terancam punah di tanah kita sendiri, karena hanya pemekaran daerah otonom baru’’

 

Penulis adalah mahsiswa papua asal Tambrauw kuliah di Yogyakarata)*

 

 

Baca Juga, Artikel Terkait