Seorang Mahasiswa Asal Pribumi Tolak Rencana Pemindahan Ibu Kota Dogiyai ke Pona

Cinque Terre
Alexander Gobai

3 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Jecky Auwe*)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com – Wacana pemindahan Ibu Kota Dogiyai ke Pona, Distrik Kamuu Selatan, mendapat sorotan penolakan dari salah satu mahasiswa asal pribumi Pona atau Ogeiye pada umumnya Kamuu Selatan, kami harap wacana tersebut perlu dipending mengingat kondisi wilayah tersebut adalah daerah keramat yang perlu dilindungi dan hal itu Bupati Dogiyai sendiri  menyatakan perlunya perlindungan atas tanah keramat. Masyarakat  Pona atau Ogeiye, pada umumnya Kamuu Selatan, masih banyak yang mengalami keraguan atas wacana ini.

 

Kita lagi aman-aman kok ada perencanaan pemindahan ibu kota. Ini kan seharusnya bapak bupati fokus saja pada pembangunan infrastruktur yang ada, program-program kerja bapak bupati memiliki kualitas yang baik terutama menyangkut pembangunan infrastruktur dan pembangunan SDM.

 

Oleh karena itu, saya berharap agar pemerintah fokus membenahi kesalahan tata kota yang telah dilakukan sejak Bupati Karateker maka, kesalahan tata kota tersebut tidak membuka peluang  kepada pemerintah untuk memintadahkan Ibu Kota ke Wilayah Pona.

 

Jadi, kami sangat antusias mendukung visi-misi bupati dan harap itu diteruskan menuju “Dogiyai Bahagia” daripada memikirkan pemindahan ibu kota.

Ini kan program-program infrastrukturnya menuju (Dogiyai Bahagia). Bukan Dogiyai membawa pada liang kubur, ini soal tanah keramat  maka, kami pemilik hak ulayat Pona dengan tegas menolak karena hal itu antara berkat dan kutukan bagi kami. Kantor bupati yang sudah di bangun itu masih umurnya belum sampai satu tahun kok bicara pemindahan ibu kota ini aneh.

 

Wacana ini kami penah berdiskusi dengan Ketua DPRD pertama Alm. Lameck S. Kotouki S.H, sebelum beliau menjadi Ketua DPRD Dogiyai. Hasil diskusi kami menitik beratkan pada tanah dimana daerah Pona banyak memiliki tempat kramat yang perlu dilindung dan dijaga oleh generasi penerus.

 

Saat itu saya bertanya sama kakak saya Almarhum Lameck Kotouki yang putra terbaik dari Pona, Ia menyatakan bahwa tidak boleh ada pemekaran distrik disana mengingat tanah keramat yang banyak Flora dan Fauna.

 

Selain itu, ada beberapa kelompok yang juga berbicara soal penempatan Ibu Kota di Pona pada tahun 2007 di Nabire. Tetapi saya menyatakan tidak karena kami sudah sepakati untuk menolak segala bentuk pemekaran baik itu distik maupun kedudukan Ibu Kota Dogiyai di kediaman gubuk derita Alm. Lamek S.Kotouki,SH, di kompleks Pona Jalan Kendari Nabire - Papua.

 

Dengan tegas kami menyatakan tidak. Baik itu melalui lembaga adat, gereja maupun pihak-pihak yang mengklaim tanah keramat Pona atau Ogeiye, demi kepentingan pribadi maupun kelompok demi penempatan Ibu Kota Kabupaten Dogiyai ke Pona atau Ogeiye.

 

Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Surabaya

 

Editor: Frans Pigai

Baca Juga, Artikel Terkait