Surat Cinta kepada AMP dan KNPB

Cinque Terre
Alexander Gobai

1 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

SURAT CINTA

Kepada Ytc: AMP dan KNPB

 

(mari merenungkan Injil konteks Bangsa Papua Barat)

 

Dariku seorang manusia tak berarti di negeri ini, negari anta-beranta. Negeri yang bukan lagi penuh dengan susu dan madu, melainkan negeri yang penuh dengan ait mata, darah dan tulang belulang yang bertebaran, Negeri West Papua. Kepadamu, AMP dan KNPB yang selalu hadir di garis depan untuk memagari kehidupanku yang kian hampir punah ditelan maut kolonialisme.

 

Salam dan doaku

 

Perkenankan aku bersandiwara dengan anda sekalian dalam lubuk hati yang paling dalam, yang penuh dengan pergumulan dan pergulatan. Aku tahu hatimu, karena aku telah mengenal hatiku. Sebab hatiku dan hatimu adalah satu. Semua diciptakan oleh Allah yang satu dan sama. Sekaligus kita menjadi satu, pemilik negeri West Papua. Tulangku adalah tulangmu, tulangmu adalah tulangku pula.

 

Kawanku sakalian, gunung dan pantai bukanlah pemisah, melainkan satu kesatuan dan kesempurnaan. Seperti terang dan gelap, pria dan wanita. Hanya gunung saja, tidak lengkap, sebaliknya hanya pantai saja masih kurang. Keberadaan gunung dan pantai bangsi Papua menunjukkan kesempurnaan, keutuhan, di mana Allah sempurna adaNya.

 

Kawan-kawan jangan termakan isu politik pemerintahan kolonialisme yang sedang mengotak-kotakan bangsa Papua dalam suku-suku, wilayah, bahkan kabupaten dan propinsi. Kawan-kawan AMP dan KNPB bukan mengurus pemerintahan Kolonial, Propinsi, kabupaten atau desa dan seterusnya, melainkan kita mengurus manusia Papua dalam satu keutuhan sebagai bangsa. Karena itu, kawan-kawan jangan terpengaruh dalam pengkotak-kotakkan pemerintahan colonial, melainkan harus menjadi satu tak terbeda-bedakan. Kawan-kawan harus satu, kokoh dan mengambil oposisi lawan.

 

Pada hari ini, Kamis 19 April 2018, ketika saya melihat video, gambar-gambar di fecebook, instagram, dll., saya terharu sekaligus bangga terhadap kawan-kawan sekalian. Setiap kali pergerakan kawan-kawan, perkataan kawan-kawan, reaksi kawan-kawan, saya sungguh merasa bahwa kawan-kawan telah menyadari diri. Bahwa kini tanah Papua sedang beralih ke pangkuan kolonialis, manusia Papua menuai kepunahan. Lagu, puisi, teriakan, yell-yell, orasi, atribut yang kawan-kawan bawah membawa saya kembali melihat diri saya yang sebenarnya. Di mana selama ini saya terkurung, tertutup, masa bodong, acuh tak acuh kawan-kawan memberikan satu nilai, yakni mempertahankan kehidupan harus berjuang. Penindasan dan penjajahan harus dilawan.

 

Perlawanan kawan-kawan tentu bukan karena benci terhadap NKRI, saya pun berharap demikian. Perlawanan kawan-kawan karena kehidupan dan kemederdekaan dan itulah satu perjuangan yang berkenan di mata dunia dan sang Khalik. Aksi kawan-kawan sebaligai ungkapan solidaritas atas penembakan di Kabupaten Dogiyai, tepatnya di atas Jembatan Mauwa pada 11 April pada pukul 20.00 oleh TNI gabungan Brimob merupakan aksi yang patut diapresiasi, tidak hanya oleh manusia, melainkan oleh alam, leluhur dan Allah bangsamu.

 

Tindakan perlawanan terhadap budaya kematian, pembunuhan dan penjajahan merupakan satu aksi partisipasi manusia dalam aksi Allah untuk membebaskan, menyelamatkan dunia dari aksi-aksi dosa yang mematikan. Manusia beriman tentu meyakini bahwa Allah pasti tidak berkenan dengan tindakan pembunuhan, penindasan dan penjajahan, bahkan Allah benci dengan tindak-tindakan demikian. Karena, yang memiliki wewenang tertinggi ada di tangan Allah sang Pencipta kehidupan itu sendiri. Allah yang menciptakan, memberikan kehidupan itu sendiri, Allah sendiri pula yang berhak untuk mengambil kembali kehidupan yang diberikan. Tak seorang pun berhak mencabut, menghilangkan, mematikan kehidupan yang diberikan oleh Allah.

 

Dari pemahaman inilah saya mengamini perjuangan kawan-kawan dalam aksi-aksi kemanusian, aksi-aksi kehidupan dan kemerdekaan yang dilakukan. Bahwa, aksi-aksi yang kawan-kawan lakukan adalah benar-benar mengabdi kehidupan, benar-benar bekerja bagi kehidupan dan kemerdekaan. Apa pun yang kawan-kawan korbankan, baik tenaga, uang, barang dan lain-lain adalah demi kehidupan itu sendiri. Karena, Allah sendiri demi kehidupan itu telah menelanjangi diriNya. Yakni, “Allah mengambil rupa manusia, Allah menjadi manusia, Ia menderita, bahkan mati hingga wafat di kayu Salib.”

 

 

Saya merefleksikan perjuangan kawan-kawan dengan perjuangan Allah. Terhadap kehidupan, Allah tidak tinggal diam. Allah turut pribahatin terhadap kehidupan. Refleksi saya adalah perjuangan pembebasan Allah, masuk dalam perjuangan yang kawan-kawan lakukan. Karena itu, kita tidak bisa menanti untuk Allah secara langsung turun di depan mata untuk mengubah situasi kita. Sejarah dunia membuktikan bahwa kemerdekaan hampir semua Negara dicapai oleh perjuangan rakyat sendiri dan Allah hanya menjadi dasar, penopang, penyemangat, kekuatan dari para pejuang kehidupan.

 

Saya persis kenal Yesus, bahwa Yesus sendiri pernah mengalami situasi ditinggalkan oleh Allah BapaNya. Pengalaman itu dialamiNya di taman Getzemani ketika Ia bersabda, “Bapa, jika Engkau mau, biarkanlah pialah ini berlalu daripadaku, namun bukan kehendakKu melainkan kehendakMulah yang terjadi” dan pengalaman Yesus di atas kayu Salib, “AllahKu, ya AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Daku?” Dua pengalaman Yesus ini sungguh menyakitkan. Pertama, Yesus ingin dibebaskan segera dari penderitaan, Salib yang hendak dipikulNya, namun Bapanya menghendaki “jalan salib” itu untuk membebaskan kehidupan bangsa manusia. Kedua, Yesus merasa sendirian, kesepian yang berarti Yesus rindu untuk harus segera kembali kepada Bapa-Nya, yakni Kerjaan Kebebasan, Kedamaian dan Sukacita.

 

Walaupun Yesus merasa ditinggalkan oleh bapa-Nya, namun sebenarnya BapaNya turut berpartisipasi dalam peristiwa Salib, peristiwa pembebasan manusia ini. Memang secara kasat mata, secara langsung Yesus tidak melihat BapaNya, namun BapaNya tidak pernah membiarkan Anak-Nya membiarkan berjuang sendirian. Bahkan, kesadaran, keyakinan bahwa BapaNya tidak membiarkan perjuangan pembebasan ini, telah dimiliki oleh Yesus. Di mana dalam setiap upaya, Yesus selalu bersandar kepada Allah. Biasanya, dalam Injil dituliskan, sebelum pagi, atau pagi pagi buta Yesus naik ke gunung, Yesus menyendiri untuk berdoa. Yesus berdoa, artinya Yesus menyadari, Yesus menyakini kehadiran BapaNya dalam perjuangan harian secara khusus dan perjuangan pembebasan dunia pada umumnya.

 

Pengalaman Yesus itu mesti menjadi pengalaman kita semua. Pengalaman kita adalah pengalaman yang serupa dengan pengalaman Yesus. Yesus menjadi sang guru “RABUNI” dalam usaha membebaskan dunia. Banyak orang Papua yang bertanya sebagaimanaa Yesus bertanya, Allah Bangsa Papua mengapa Engkau meninggalkan kami sendirian? mengapa Engkau tidak melihat penderitaan yang panjang ini? dan senada lainnya. Pertanyaan ini tidak salah. Bahkan merupakan ungkapan kaum beriman dan wajib bersoal jawab dengan Tuhan dalam kehidupan, entah situasi apa pun.

 

Kawan-kawan di sini saya melihat teriakan kawan-kawan itu seperti teriakan Yesus di taman Getzemani. Seperti teriakan Yesus di atas kayu Salib. Satu hal yang perlu kita belajar dari Yesus adalah perlunya “perjuangan,” perluanya “berkorban.” Perjuangan atau pengorbanan Yesus berdasarkan atas “cinta” bukan “benci.” Yesus tidak pernah membenci siapa pun, bahkan lawan pun Yesus mendoakannya: “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Karena itu, saya berharap teriakan kawan-kawan itu bukan atas dasar kebencian, melainkan atas dasar cinta. Bahwa kita harus mencintai dan merawat kehidupan, termasuk kehidupan dari siap pun yang kita menggapnya adalah lawan. Kawan-kawan kita bukan melawan manusia, kita bukan melawan kehidupan para lawan, kita secara melawan sistim yang menjajah, sistim yang merusak. Kita melawan supaya “kemerdekaan” harus mendapatkan tempat yang layak untuk semua manusia, sebab “kemerdekaan adalah hak segala bangsa.”

 

Untuk itu, yakinlah bahwa sebagaimana Roh Allah menuntun Yesus sampai pada Puncak Salib, di mana Salib adalah puncak Kemerdekaan, puncak Keselamatan, Roh Allah itu pulalah yang menuntun perjuangan kawan-kawan. Perlindungan Allah terhadap kita pun persis seperti terhadap Yesus, yakni tidak secara lansung, tidak secara kasat mata, melainkan melalui daya-daya, semangat-memangat, kekuatan-kekuatan untuk mampu sampai kepada puncak kemenangan tanpa takut, mengeluh dan menyerah. Roh Allah itulah yang kawan-kawan wajib miliki. Sebab Yesus pun tanpa Roh Allah, Ia tidak akan sampai kepada puncak Salib pembebasan. Karena, jalan salib secara konkrit dijalani oleh Yesus, namun sebanarnya merupakan tindakan Allah Tritunggal.

 

Kawan-kawan, hal ini saya tuliskan sebagai satu pemberitaan akan tanda keselamatan Allah yang sedang dilaksanakan oleh Allah melalui tangan anda, yang pasti kawan-kawan telah menyadari namun saya lebih menegaskannya, sekaligus upaya dukungan saya untuk tidak memadamkan bara perjuangan anda. Saya membakar semangat kamu, supaya kamu terbakar, karena tugas itu adalah tugas paling mulia dari Roh Kudus.

 

Saya senantiasa berharap baramu terus membakar semangatmu untuk tidak tiam, tidak statis, tidak masa bodoh, tidak acuh tak acuh, tidak menungguh, namun kawan-kawan menjemput tawaran kemerdekaan yang ada di depan anda.

 

Kawan-kawan hampir mencapai puncak. Tujuan anda selangkah lagi, ada di depan mata. Tujuan itu tidak datang sendiri. Kawan-kawan harus menjemputnya, dan membawanya kepada sanak-saudaramu yang sedang isak tangis, sedang menderita dan teraniaya.

 

Mereka menantikan kebebasan. Kita harus menjadi pembawa kabar kebebasan. Yesus adalah Guru pertama kita. Kita harus mengikuti jejakNya.

 

Roh Allah menyertai perjuanganmu. Semangat Masianis membara dalam batinmu.

Salam perjuangan. Salam Pembebasan

 

FWP

Dimibeumee

 

Penullis adalah mahasiswa Papua kuliah di Jawa

Baca Juga, Artikel Terkait