Cara Pandang Marxs Terhadap Gereja

Cinque Terre
Alexander Gobai

5 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Maximus Sedik)*

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--Karel ,carlos, atau Charles (kalau di jerman dipanggil “KARL”) MARX  filsuf berdarah yahudi- Jerman ini adalah salah seorang yang paling banyak dihujat oleh para pemeluk agama di seluruh dunia, gara-gara dia menemukan apa yang dikenal sebagai “komunisme”.

 

Apakah agama sebagaimana yang disaksikan oleh Marx dan Engels pada abad ke XIX, masih merupakan kubu sikap reaksioner, konsevatisme, penentang pencerahan akal dan perubahan politik ?

 

Untuk sebagaimana jawabannya adalah “ya”. Pandangan para pemeluk agama masih patuh pada para petinggi di Vatikan, masih tetap meyakini berbagai ajaran fundamentalis dari agama besar (Kristen Yahudi, dan Islam). Masih tetap mengugunakan paham berbagai kelompok penginjil ( dengan kotbah-kotbah mereka melalui apa yang disebut sebagai “ Gereja elektronik”) dan masih memelihara hubungan erat dengan banyak aliran keagamaan baru-beberapa diantaranya seperti Gereja Moon yang terkenal brengseknya yang semuanya tiada lain kecuali suatu perpaduan yang amat terampil antara manipulasi-manipulasi keuangan, cuci otak jahiliah, dan sikap sikap fanatic antikomunisme.

 

Namun kemunculan ajara kriten revolusioner dan teologi pembebasan di Amerika Latin (dan dimna saja) telah membuka suatu lembaran sejarah baru, membangkitkan serangkain pertanyaan baru yang amat menggelitik, yang tidak dapat dijawab tanpa suatu pembaharuan analisis Marxis tentang agama.

 

Pada mulanya, jika dihadapan pada gejal semacam itu, biasanya kaum Marxis mengunakan suatu penafsiran tradisional yang saling mempertentangkan antara para petani dan kaum buruh beragam Kristen mereka yang dinggap sebagai pendukung revolusi menentang Gereja (dan kependetaan) lembaga yang sepenuh dianggap reaksioner. Masalah sampai tahun 1966, mereka masih tetap menganggap kematian seseorang anggota Gereja, Romo Camilo Torres, yang bergabung dengan para gerilyawan Kolombia dan terbunuh dalam suatu pertempuaran dengan tentara pada tahun tersebut, sebagai suatu kasusu perkecualian. Tetapi semakin tumbuh mekarnya para penganut Kristen termasuk para pastor dan para agamawan lainnya yang mendukung perjuangan rakyat dan melibatkan diri langsung secara pejal dalam revolusi Sandinista, jelas-jelas memperhatiakan perlunya suatu pendekatan baru sama sekali.

 

Pandangan tradisional lainnya adalah yang saling mempertentangkan orang awam radikal anggota gereja melewan jejang kekuasaan konservatif dalam Gereja. Ini mungkin saja benar sebagainya, tetapi tidak akan bertahan lam, karena semakin banyak jumlah para uskup yang menyatakan kesetiakawanan mereka kepada gerakan-gerekan  pembebasan orang miskin dan, lebih jauh lagi, tidak jarang bahkan membayarnya dengan nayawa mereka sendiri, seperti pada khasus Monsinyor Oscar Romero, Uskup Agung San  Salvador, yang ditembak oleh pasukan pembunuh pada bulan Maret 1980.

 

Kaum Marxis yang menjadi bingung atau dibingungkan oleh perkembangan tersebut, pada akhirnya masih suka menggunakan pembedaan yang lazim antara Pratik-pratik sosisial nyata daro orang-orang Kristen ini dengan ideology keagamaan mereka yang dicap pasti selamanya bersifat regresif dan idealis. Tetapi dengan muncuknya teologi pembebasan, kita dapat melihat penampilan suatu pemikiran keagamaan yang justru menggunakan konsep-konsep Marxis dan kemudian mengilhami banyak perjuangan ke araha pembebasan sosial. ( Pierre Rousset. Marxisme dan Teologi pembebasan)

 


BAGAIMANA KEHADIRAN GEREJA DI PAPUA

 

Sejarah papua, khusunya sejarah tentang pekabaran injil dan tugas-tugas pelayanan yang dilaksanakan sebagai manifestasi kehadiran dan pekerjaan Tuahan melalui injil, juga mencatat bahwa sesungguhnya pembangunan wialayah dan masyarakat di di tanah papua dimulai oleh gereja. Gereja dengan lembaga-lembaga pelayanannya melaluai para penginjil, Guru jemaat, pendeta, pastor, serta para suster pekerja sosial, guru sekolah, petugas kesehatan, ahli pertanian, ahli peternakan, ahli bangunan, dan pembinan masyarakat terisolasi dan terpencil, telah merintis, memelopori, memprakarsai, dan memmpin berbagai program pembangunan terpadu di setiap wilayah/ lokasi baru sebelum pejabat pemerintah dan petugas keamanan memulai pekerjaannya. Bahkan dibuak pos pekabaran injil yang dibuka oleh seoarang penginjil kemudian berkembanga dan menjadi pusat pemerinatahan dan pembanguanan. Dan semangat perintisan, kepeloporan, dan pembangunan oleh para fungsionaris dan petugas gereja iti masih terus dilaksanakan.

 

Kehadiran gereja di tanah papua, berawal dari para misionaris maupun para pendeta ke pulau papua. Para pendeta mengkabarkan  injilnya, ke wilayah pesisir dan para pastor ke wilayah pengunungan, semacam ekspedisi ini menguasai seluruh pulau papua dari sorong sampai samarai. Misanya di papua barat pengkabaran injil pada Tahun 162 di pulau mansinam papua barat, yang dibawa oleh  kedua tokoh yang berkebangsaan jerman C.W.Ottow dan J.G.Gissler.

 

Para misionaris maupun pendeta, menjalankan misi pengkabaran injilnya, adan melakukan pendekatan terhadap masyarakat diman awalnya mereka tiba. proses awal yang dilakukan oleh para pengkabaran ini melalui acara membaptis penduduk setempat secara penuh mengakui iman kekristenan. Dan mengumpulkan masyarakat untuk membuat tempat pemukiman baru, sehingga membangun sarana dan prasarana untuk memulai suatua aktivitas baru. Seperti misalnya mengajarkan nialai-nilai kekristenan, mengajarkan pengatahuan modern, dan banyak hal yang dilakukan untuk memajukan masyarakat dimana mereka berada.

 

Seperti wilayah bagian pengunungan papua, para misionaris membangun trsnsportasi sebagai penunjang aktivitas di tempat dimana mereka berada. Dengan kehadiran ini, masyarakat papua bisa memproleh pendidikan dan pelayanan kesehatan yang secara modern bagi masyarakat setemapat. Dari kehadiran para misionaris dan pendeta penduduk papua mengalami kemajuan, terutama bagaimana cara para pengkabaran untuk mencerdaskan masyarakat papua seperti, membangun sekolah yang berpola asrama dan rumah sakit yang dikelola secara penuh oleh mereka sendiri. Dari hasil kerja keras ini, banyak menghasilkan para kader papua yang cerdas dan bermutu di berbagai bidang.

 

Dengan ini saya katakan gereja sebagai dasar peletak terang di tanah papua, sebelum pemerintahan murni hadir melalui kebijak-kebijaknya. Sebelum papua berintegarsi dengan indonesia segala sesuatu dikendalikan oleh pihak gereja untuk misi kemanisian orang (masyarakat) papua. Bagaimana denagn situasi masa kini di papua atau peran gereja di papua sekarang terhadap persoalan yang terjadi ?, Dan apakah ada suara kenabian terahadap yang terjadi di tanah Papua?.

 

Penulis adalah mahasiswa Tambrauw kuliah di Yogyakarta)*

 

 

 

Baca Juga, Artikel Terkait