Jangan Membunuh Karakter Orang Asli Papua

Cinque Terre
Alexander Gobai

7 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Frans Boga*)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com –  Refleksi ini datang dari kondisi umat Tuhan yang sedang mengalami krisis di Kabupaten Asmat. Perisiwa ini menarik bagi berbagai media cetak dan elektronik. Dengan kematian balita 60-an anak yang akan harapannya penerus bangsa Papua, yang tanahnya penuh dengan susu dan madu (surga kecil). Namun, kematian yang sedang dialami, dari para penelitian kesehatan dan berbagai media mengagakan bahwa: buruknya gizi sehingga kematian itu datang melanda kepada anak-anak Asmat karena gizi buruk atau kelaparan.

 

Tulisan ini hadir untuk menjelaskan makanan kas, yang berada di kedua wilayah, yaitu Daerah Pantai dan Pegunungan Papua. Jika masyarakat memproduksi dan menikmatinya. Makanan khas yang protein (bergizi) Pada Tahun 1936-1950 an orang Papua tidak mengenal berbagai penyakit sebagaimana sedang dialami sekarang ini. Karena makanan yang dapat berkonsumsi pada tahun itu adalah makanan khas dan Alami. Di Pantai di kenal dengan sagu, dan ikan-ikan pada khusunya ikan udang. Dan benar bahwa saudara-saudara kita di pesisir itu dapat konsumsi makanan tersebut sehingga masyarakat yang hidup di sekitar itu tidak pernah menggalami atau mengenal penyakit tersebut, apalagi penyakit mamatikan seperti yang sekarang dapat dirasakan oleh umat Tuhan di Asmat.

 

Dan kehidupan mereka sepenuhnya bergantung pada hasil alam, maka mereka berpindah-pindah tempat. Dengan ini, berjiwa untuk bekerja dan berusaha untuk memenuhi kehidupan dalam artinya untuk mencari makanan itu tidak ada sehingga pantas jika mereka mengharapkan makanan dari alam. Hal ini yang membunuh krakter bagi Orang Asli Papua (OAP) di atas tanahnya sendiri. Jika pemerintah tidak melindugi Hutan sagu dan ikan-ikan di laut mereka, mareka pasti lapar dan mati. Karena kedua tempat itu dapur mereka sehingga pemerintah berupaya untuk melindugi dapur bagi saudara-saudara yang pesisir. Supaya penjajah “kapitalis” tidak boleh masuk di kedua dapur. Misalnya; di laut itu nelayan Ilegal untuk menangkap ikan dengan memakai cara membom ikan (bom ikan). Dan kayu juga misalnya PT Kayu masuk di sekitar itu, pasti saja akan sensor atau membabat pohon sagu lagi hanya untuk mengambil kayu besi.

 

Pada akhirnya, mereka jadi terlantar dan melanda kelaparan dan gizi buruk. Orang gunung identik dengan mata pencaharianya adalah bekerja. Untuk membuat beden dan berusaha memenuhi kehidupan yang layak. Maka, tidak heran orang gunung bekerja dan menanam berbagai jenis tanaman di kebun mereka. Dan berkebun atau bertani adalah suatu kebiasan. Kebiasan tersebut yang diwariskan dari genarasi ke generasi. Karakter mereka tidak di lumpuhkan begitu saja, dengan berbagai cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk membunuh krakter bertani. Dengan memberikan JPS atau bantuan lain.

 

Oleh karena itu, kalau kita bicara JPS yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada Orang Asli Papua (OAP) itu pembunuh krakter, supaya Orang Asli Papua (OAP) dimaja dengan beras dari tahun ke tahun. Dengan tujuanya untuk membunuh mata pencarian mereka sebagai berkebung bertani,  jika upaya yang dilakukan oleh pemerinta itu dapat terwujud (berhasil membunuh krakter untuk bertani) maka suatu saat pemerintah Indonesia akan menutupi datangnya batuan beras (JPS) bagi masyarakat Papua. Dan tidak memberi beras kepada Orang Asli Papua (OAP).

 

Jadi Orang Asli Papua (OAP) sendirinya akan mati dengan kelaparan. Pemerintah tidak menutupi JPS tersebut, secara tidak sadar orang Papua akan mati dengan kelaparan, karena orang Papua sudah terbiasa dimaja dengan beras. Dan krakter untuk bertani, berkebun dan bekerja terbunuh. Karena mereka terbiasa dengan makanan tersebut pada akhirnya orang papua akan mati kelaparan, walaupun tanah Papua terkenal dengan kaya alam (susu dan madu) dilihat dari berbagai dunia bagi Papua. Solusi Untuk Memperdayakan Orang Asli Papua (OAP). Orang Asli Papua pada hakekatnya mampu hidup dari berbagai sektor dan mereka punya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang bermakna bagi banyak orang, namun selama ini saya melihat bahwa pemerintah tidak memberikan kesempatan sebebasnya, di semua bidang. Dan ketika Indonesia masuk di Papuan orang Papua menjadi penonton di tanahnya sendiri.

 

Pemerintah tidak memperdayakan Orang Asli Papua (OAP) lebih khusunya Pengolahan kesehatan tersebut, dan  pada umunya seluruh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah, kota, provinsi dan pusat. Tidak pernah berpihak bagi orang Papua sendiri, maka saya merasa bahwa ini sebuah masalah yang kita perlu selesaikan. Karena orang Papua pada hati mereka sudah terluka dengan masa lalu, dengan masah yang sedang dihadapi secara nyata. Sehingga dialog sektoral yang sedang diusung Jaringan Damai Papua (JDP) bagus bila Pemerintah mebuka diri dan berdialog. Tokoh yang sering membelah hak hidup bagi masyarakat Papua, dan memang dari dulu dibicarakan soal dialog. Wakil Presiden Yusup Kala, juga sekarang tanpa ragu bahwa untuk berdialog karena wakil bagi rakyat Papua sudah disatukan di bahwa ULWP. Dan sekarang, diharapkan Pemerintah Indonesia berjiwa bersar dan membuka diri untuk berdialog. Tidak perlu lagi saling menghambat. Jalan lain adalah memberikan kesempatan sepenuhnya kepada orang Papua untuk melakukan penentuan nasib sendiri, refreendum.

 

Penulis adalah Mahasiswa  STFT “Fajar Timur” Abepura, Papua

 

Editor: Frans Pigai

Baca Juga, Artikel Terkait