Masih Banyak Orang Asli Papua Yang Belum Membumi

Cinque Terre
Alexander Gobai

4 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Marius Goo)*

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.com--Ideologi juga didikan yang salah menyesatkan anak dalam perkembangan selanjutnya. Konteks pendidikan itulah yang dipraktekan di Papua. Banyak Orang Asli Papua (OAP) yang hidupnya tidak menunjukkan diri sebagai OAP. Cara berada, cara berargumentasi, cara mempraktekan hidup sangat jauh dari kekhasan diri sebagai OAP. Terkesan, OAP belum mampu menjadi diri, belum mampu menjadi tuan di atas tanahnya sendiri. Beberapa indikasi menunjukkan betapa OAP hidup mengawan, atau belum membumi. Karena itu mesti ada perubahan, mesti disadarkan, atau dinobatkan.

 

Beberpa hal yang perlu diperhatikan

 

Pertama, OAP tidak mampu menerima dan bersyukur bahwa dirinya berciri "rambut keriting dan hitam kulit." Kekhasan itu alami, bahkan kodrat. Allah sendiri menciptakannya demikian. Atas ciptaan Allah ini, semestinya OAP hanya menerima dan bersyukur. Hitam kulit dan keriting rambut menunjukkan OAP itu berbeda dengan sesama yang lain, setidaknya dengan orang Indonesia.

 

Kedua, OAP masih belum sepenuhnya masuk dalam budaya OAP sendiri. Karena itu OAP gampang dipermainkan oleh siapa pun. Misalnya, OAP dengan gampang menjual tanah, walaupun Budaya Papua mengajarkan untuk tidak menjual tanah. Budaya Papua belum dihayati secara penuh. Karena itu sering saudara jadi musuh, bahkan suami memusuhi istri dan sebaliknya, atau orang tua memusuhi anak dan sebaliknya. Padahal budaya Papua mengajarkan untuk saling menjaga, saling merawat sebagai sedarah, saudara atau sekeluarga.

 

Ketiga, OAP masih mempraktekan sistim "saudara jual saudara, saudara musuh saudara." Hingga kini praktek ini masih terjadi, bahkan banyak korban berjatuhan karena saudara belum mampu menjadi saudara. Antara sesama OAP saling menjatuhkan. Padahal budaya Papua mengajarkan untuk  tidak saling menjatuhkan, memusuhi, apa lagi membunuh.

 

Keempat, OAP masih  mempraktekan "pragmatisme" dan "gaya instan." Banyak OAP yang mendapatkan Ijazah tanpa melalui proses pendidikan formal yang memadai. Banyak orang Papua yang makan uang tanpa hasil keringat. Padahal budaya Papua mengajarkan, untuk memperoleh makan-minum, atau sesuatu yang berarti harus melalui keringat, air mata.

 

Kelima, antara OAP sendiri belum bersatu. Karena belum bersatu orang lain mudah sekali masuk untuk memecah belah, mengacaukan bahkan merusak tatanan hidup yang telah dibangun oleh nenek moyang OAP.

 

Hal yang perlu ditingkatkan

 

Pertama, kesadaran dan pengakuan akan keberadaan sesama OAP. Selanjutnya OAP saling menjaga, saling menghidupkan dan saling mendukung dalam setiap usaha. OAP saling bangga akan kemampuan yang dimiliki dan saling memotivasi satu terhadap yang lain.

 

Kedua, OAP sudah saatnya sadar akan tugas utama menjaga dan merawat tanah, lingkungan alam yang menjadi milik dan tak terpisahkan dari hidupnya. Bahwa manusia tidak akan pernah  hidup tanpa tanah, termasuk OAP takkan pernah hidup tanpa tanah Papua. Karena itu OAP harus dengan segala daya upaya merawat dan mengelola tanah yang ada, bukan menjualnya.

 

Ketiga, OAP menerima diri apa adanya. OAP bersyukur atas kediriannya. Bahwa menjadi OAP adalah anugrah Allah yang terindah, bukan mainan, apalagi kutukkan Allah. OAP menerima diri dengan ciri khas "hitam kulit dan rambut keriting."

 

Keempat, OAP mesti menemukan kemanusiaan sejati dalam budaya masing masing. OAP harus hidup sebagai manusia, setiap keputusan, setiap tindakan harus menunjukkan diri sebagai manusia. Dengan menjadi manusia, yakni OAP, tugas utama adalah kerja, berjuang dan berproses. OAP harus hentikan praktek budaya instan, mengambil sesuatu tanpa keringat dan usaha keras.

 

Akhirnya OAP menjadi diri, menjadi tuan di atas tanah sendiri adalah satu kekuatan dasar yang memampukan OAP akan memiliki harapan akan masa depan yang lebih cerah. Kesadaran ini harus dibangun dalam sanubari setiap OAP mulai dari kecil hingga besar, mulai dari kampung hingga di kota-kota besar, baik yang ada di luar negeri maupun dalam negeri. Ajakannya, merilah kita membumi, kembali hinggap, bahkan tinggal dan berkema di negeri kita sendiri. Kita telah lama mengawan di angkasa, kita telah lupa diri, identitas, tanah, saudara dan keluarga kita. Sudah saatnya kita berdamai dan bersekutu demi penyelamatan manusia dan alam Papua. Mari kita pulang ke diri kita, pulang ke kampung halaman kita. Dan segera!

 

Penulis adalah Mahasiswa Pasca-Sarjana STFT Widyasasana Malang)*

Baca Juga, Artikel Terkait