Pendidikan Yang Mengasingkan Di Papua: Apa Tugas Mahasiswa?

Cinque Terre
Alexander Gobai

8 Bulan yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Jhon Gobai


ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM---Berangkat dari jumlah buta huruf dan buta aksara di Papua, diwarkan tabloidjubi.com, tahun 2013 mencapai 32,63[1]. Menurut Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Provinsi Papua, dilaporkan melalui wartaplus.com, mencatatat hingga tahun 2016 mencapai 28,61 persen yang tersebar di 14 kabupaten wilayah Pegunungan[2]. Hal ini adalah problem yang menunjukan semakin memperlambat kemajuan suatu bangsa. Sebab Papua, lajunya pembangunan infrastruktur perkotaan tak disertai dengan memoderenisasi manusia-masyarakat Papua.


Problem ini tentu ada sebab akibat yang membenarkan. Menurutku, dari pengetahuan empiris, beberapa poin penting yang berdampak pada akibat adanya buta huruf, yakni: (1) Papua kekurangan tenaga pendidik yang produktif. (2) Sarana dan Prasaran pembelajaran yang sangat tertinggal jauh secara kualitas dan tak merata secara kuantitas. (3) Tekanan keberadaan militer yang sangat agresif dan reaksioner atas operasi-operasi militeristik yang mengakibatkan meneror psikologi perkembangan anak—memerlambat serta mempengaruhi pertumbuhan anak dibawa tekanan militer di wilayah kolonisasi. (4) Kurikulum Pendidikannya justu tak dapat berdialetika dengan keberadaan sosial masyarkat Papua, khususnya anak-anak didik. Sehingga berkesan pendidikan gaya bank; doktrinasi. Sehingga ide, gagasan dan filsafat jutru menyeselewengkan kepentingan kaum borjuis. (5) Dengan adanya legalisasi peredaran dan perdagangan minuman keras (miras) di Papua, yang merupakan pendekatan babarbarisme oleh militer terhadap masyarakat adat Papua. (6) Poin 1, 2, 3, 4 dan 5, sehinga energi proses perkembangan anak justru berkembang sesuai dengan budaya dan hegemoni kolonialdi Papua. Apa lagi tak ada lapangan dan sarana-prasarasana untuk melatih, mengolah, dan mengembangkan energi kaum mudah yang tentu berbakat ini.


Tapi tak menutupi kemungkinan dengan Keberadaan Mahasiswa Papua di luar Papua dalam jumlah yang banyak; dan selalu ada penambahan di setiap tahun. Dengan banyak intelek Papua yang selesai dari Universitas luar Papua dan kembali ke Papua, kuantitas keberadaan kaum intelek ditengah keberadaan sosial rakyat Papua, memungkinkan ada perubahan-perubahan mendadak yang terjadi.


Namun keberadaan mereka di Papua tak menunjukan kemanjuan pun dalam setiap sektor gerak-sosial-masyarakat, terutama dibidang Pendidikan (Formal dan non formal). Melihat perkembangan yang justru jalan di tempat ini, disebabkan karena ada sebab dan akibat. Sebab-penting yang bisa simak bersama adalah:

Pertama, Jumlah populasi penduduk Papua yang semakin sedikit berbanding terbalik dengan permintaan tenaga kerja didalam kelembagaan pemerintahan (Yudikatif) disertai dengan banyak pemekaran Kabupaten, Distrik, Desa—pemekaran ini bila diperiksa syarat Sumber Daya Manusia, Program Pemekaran banyak gagal. Tetapi asal mekar saja tanpa mempertimbangkan SDM. Sehingga para pendidik serta intelektual harus mengisi di kekosongan tempat dan justru posisi yang lebih enak, strategis—karena itu keinginan manusia (induvidu) berproduk ilmu pengetahuan Sosial Borjuis: enak, strategis, tak banyak beringat, dan menduduki suatu jabatan yang tinggi serta hasrat keinginan mengumpulkan uang dan barang yang tinggi!.

 

Kedua, Problem Produktifitas Mahasiswa dan semangat Juangnya. Ini permasalahan orientasinya. Melihat kembali aktivitas mahasiswa di luar Papua, yang sukanya santai, banyak waktu untuk kunjungi tempat-tempat hiburan, miras, dan banyak menghabiskan kegiatan yang justru tidak mengasah apa yang ditempuh oleh si Mahasiswa tersebut. Misalnya, diskusi bersama untuk membagi informasi dan pengetahuan, membaca, menulis, atau pelatihan-patihan lainnya. Hal-hal yang berpotensial ini jarang dilakuan oleh Mahasiswa Papua di luar Papua.


Namun ada diskusi yang sering dilakukan, yang bersifat formal hingga sederhana. Tetapi ini juga tidak berpotensi. Karena seringkali menemukan banyak pendiskusian tentang bagaimana peran mahasiswa dalam partai politik borjuis; sepuratan politik pratiks; bahkan ketika proses pemilihan Bupati di Kabupaten Dogiai dan Tolikara (2017), yang kemudian bersamalah itu, dampaknya terbawa sampai tingkatan Mahasiswa. Mahasiswa terbagi dalam kubunya kandidat ini dan itu (kelompok-kelompok ini berasal dari jurusan yang berbada; bahkan ada Mahasiswa jurusan pendidikan guru).


Ketiga, Adanya pemekaran Kabupaten-kota, hingga Provinci berdampak pada mahasiswa yang beraktivitas dalam lingkaran Paguyuban (Mahasiswa asal daerah-Kabupaten) sendiri. Ini juga kemudian membuat mahasiswa terisolir dalam lokal-kedaerahan; dan tak ada tempat atau lingkungan yang dapat mengakses informasi baru—menutupi diri. Orang bilang kalo dapat orang baru pasti dapat info baru jadi.


Keempat, dari poin 2 dan 3, jusrtu mengasingkan mereka dan terus mengisolasi para mahasiswa ini, semakin menguatkan dengan kebijakan kampus meneror mahasiswa dengan masa Almamater kampus dibatasi 5 tahun; dan kemudian disibukan dengan tugas dan ativitas perkuliahkan yang mengejar-ngejar dosen demi kuantitas Indeks Prestasi Komulatif.


Kelima, Kembali ke kondisi awal—Papua tadi, dimana telah membetuk arah perkembangan mereka saat di Papua, sehingga masa penyesuaian mereka di Universitas sangat lah panjang dengan ektra konsentrasi.


Maka, kesimpulannya, pertama, kondisi di Papua, basis pengetahuan yang sangat bermalah karena tak berbalik lokal, dimana asumsi pertumbuhan manusia dapat berdialetis dengan alam/negeri yang mereka huni. Pendek kata, ilmu tidak sesuai dengan kondisi objektif di Papua. Kemudian, sampai di Universitas luar Papua, dibagi dalam masa penyesuaian yang sangat panjang sehingga, waktu untuk belajar (apa saja) serius, sangat lah terbatas. Sehingga apa yang tejadi ketika sampai di Papua, bergantung pada penerimaan kepegawaian Negeri sipil; merana dalam Politik Pratis. Pada hal dengan kreatifnya mengelolah ilmu yang ditekuni mereka (intelektual Papua) itu dapat mengaplikasinya. Menjadi guru itu bukan gelarnya, tetapi, materi, pengetahuan dan semangat juangmu.

 

Pendidikan seharusnya Proses Pembebasan Manusia

 

Mengutip pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan bahwa, “Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya”.

 

Esensi dari pada pendidikan adalah membebaskan manusia dari keterisolasi.


Keterisolasian yang saya maksud, di tinjau dari tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan sesuai keberadaan sosial masyarakat dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan.


Mengingat kutipan definisi pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwasannya menurut kodrat manusia bebas meliputi hak-hak dasar manusia. Maka hal itu di tegaskan oleh seorang guru besar asal Brazil, Paulo Freire, bahwa sistim pendidikan gaya bank itu adalah mendogma. Maka tawarannya, Freire, adalah Pendidikan seharunya berbalik lokal, atau refleksi keberadaan sosial. Kita sadari bahwa pendidikan sebagai fundamental untuk memahami dunia nyata yang terus bergerak melahirkan perubahan ini (sejak peradaban manusia yang masih kominal primitif hingga zaman modern ini).


Esensi daripada pendidikan adalah membebaskan manusia dari keterisolasian, Mengutip kata Denwatara, “...mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”  Paulo Freire juga menegaskan bahwa pendidikan seharusnya berbalik persoalan. Maka pendidikan berbasis persoalan (tanpa meniadakan perkembangan zaman) kondisi objektif, sangatlah penting. Agar manusia yang tumbuh dan berkembangan di tengah keberadaan sosial yang sangat kontradiktif (elemen molekul-molekul yang terus bergerak dan menghasilkan perubahan mendadak dalam skala kualitas) tidak jatuh dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa silam, atau kata lain berjalan di tempat.


Kemudian, Kritikannya, sistem pembelajaran pun mestinya harus ada perubahan di ikuti dengan tanda keberadaan sosial. Konteks pendidikan sebagai fundamental manusia, ilmu pengetahuan sebagai dunia materil adalah merefleksikan. Hal itu di tegaskan pula oleh Paulo freire bahwa pendidikan seharusnya tak selalu di dalam ruangan dan guru harus menjelaskan dan terus mendikte bagai proses pengisian air dalam segelas. Freire menentang pendidikan yang guru sebagai objek dan murid sebagai pendengar setia (pendidikan gaya bank).


Maka, basis materil: Refleksi Keberadaan Sosial, ada pepata yang mengatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa bisa diukur dari, selain berapa banyak perempuan yang produktif, juga berapa banyak guru produktif yang mengajar (berjuang) untuk seumur hidup. Pendidikan, pendidik yang produktif, juga bisa didiskusikan dengan keberadaan sosial rakyat Papua. Selain memberdayakan membaca dan menulis, juga basis materilnya, apakah refleksi dari keberadaan sosial Papua atau seperti apa? Sebab, basis material yang berbalik lokal, tida hanya memberdayakan pada membaca dan menulis saja, tetapi hal fundamennya adalah basis truktur materi yang  membentuk watak, psikologi, nalar manusia yang tentu membebaskan diri; dan menusia lain.


Apa yang haru silakuan oleh Mahasiswa Papua

  1. Budayakan membaca, menulis dan berdiskusi.
  2. Menekuni ilmu pengetahuan dari Jurusan yang Anda tekuni.
  3. Selain Ilmu dari jurusanmu di Kampus, Anda juga dapat melatih dan mengembangkan bakat, atau kreatifitas lainnya.
  4. Pelajari apa pun tentang Papua, termasuk Sejarah Perjalanan orang Papua sebelum dan setelah kontak dengan bangsa Penjajah, hingga saat ini, Indonesia menduduki di West Papua. Sebab dengan memahami itu, Anda akan menemukan esensi daripada manusia dan eksistensinya serta perkembangan manusia papua.


Kesimpulannya, Anda dan Saya belajar apa pun ilmu pengetahuan, mendalami sampai akarnya, untuk membangun rakyat Papua. Memberantas butah huruf adalah hal yang mendasak bagi kita. Hal butah huruf di Papua dan persoalan pendidikan adalah bukan hal baru. Seiring waktu hal itu menjadi pembicaraan, topik diskusi serta seminar mahasiswa Papua. Namun pada titik proses eksekusi, banyak intelektul yang berkesimpulan bahwa dengan mendapatkan kedudukan dinggi di sosial, menjadi DPR atau Bupati akan berantas butah huruf, itu Ide dan gagasan, yang tertanam selama ini adalah ide yang justru menjebak dan menjaring potensi serta ilmu pengetahuan seseorang. Sebab masuk dalam perangkap sistim yang terpusat di Jakarta—Anda tahu siapa itu Jakarta?—dan terotonomisasi dalam perangkap perbudakan yang halus.


Apa yang Anda lakukan setelah Pulang ke Papua?

 

Mengingat perkembangan bangsa Papua di sisi buta huruf serta tak sejalan dan lajunya pembangunan di Papua:

  1. Belajar dari Sekolah Rakyat di Jawa pada masa kolonial Belanda, juga belajar dari apa yang telah dilakukan oleh kelompok Gerakan Papua Mengajar di Jayapura-Papua, silahkan Anda berkembang-Biak disana.
  2. Pendidikan—proses pembelajaran tak harus selalu di dalam kelas dengan kelengkapan sarana dan prasarana. Sebab, akan menghambat jika kita terjebak dalam budaya pendidikan yang terbangun itu.
  3. Menjadi guru itu bukan gelarnya, tetapi, materi, pengetahuan dan semangat juangmu—dan orientasi. Paulo Freire, Guru besar Brazil, adalah lulusan Hukum dan Filsafat, tetapi dia menjadi pendidik yang membebaskan manusia tertindas dan manusia penindas—kini Ia dijuluki Guru Besar. Che Guevara, seorang Lulusan Dokter asal Argentina menjadi Ahli stategi Perang dimasa revolusi Kuba, juga menjadi guru bagi anggota (militer) yang berlatar petani butah huruf.


(Kritikanmu adalah Lentera nalarku).

 

Refrensi:
[1] http://tabloidjubi.com/16/2015/11/13/kota-jayapura-miliki-angka-buta-huruf-terendah-di-papua/ (dikutip pada 22 Juni 2017)


[2] http://www.wartaplus.com/2016-angka-melek-huruf-di-papua-capai-2861-persen/  (dikutip pada 22 Juni 2017)
 

Penulis adalah mahasiswa Papua, Kuliah di tanah Jawa

Baca Juga, Artikel Terkait