Perkembangan Pendidikan Semenjak Pemberian Batas Wilayah Adat di Agadide Oleh Obaikewagi H. Muyapa

Cinque Terre
Alexander Gobai

7 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Yulianus U. Nawipa*)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com – Tahun 1965 ke bawah, Pioner Agadide Obaikewagi Habel Muyapa memberikan tiga wilayah adat di Agadide yakni;  wilayah adat Agadide, Ekadide dan  Bogodide; dan enam kapal batas  wilayah adat.

 

Obaikewagi Habel Muyapa sudah memutuskan enam nama batas wilayah adat diantaranya; bagian Timur Agadide batas wilayah adat antara orang Migaini dan Walani  yaitu Makataka dan Kugiyaitaka. Kemudian bagian Utara Agadide batas wilayah adat orang Walani dan orang Mee yaitu Kaitakaida dan Uwapa Takaida. Lalu, bagian Barat Agadide batas wilayah adat orang Mee Okebouda dan Debakebouda.

 

Seorang Obaikewagi H. Muyapa selaku kepala distrik pertama pada zaman Belanda mengatakan bahwa, saya berikan dua nama adat tersebut guna bagi pentingnya demi masa depan orang Agadide. Maka, saya sudah memberikan dua nama wilayah adat yakni nama adat aan nama pemerintah untuk nama adat kapal batas negara satu dengan negara lain tentu ada batas wilayah adat. Kapal batas  wilayah satu dengan wilayah lain tentu ada batas wilayah. Kapal batas suku satu dengan suku lain tentu ada, apalagi batas wilayah marga satu dengan marga lain tentu ada pula dan lain sebagainya.

 

Pada tahun 1960-an ke bawah, diberikan eman batas wilayah secara adat sampai pada saat ini dan digunakan nama tersebut kemudian tiga wilayah Agadide dijadikan tiga distrik.

 

Pada tahun 1980, Pemerintah Indonesia memberikan satu distrik umum yakni Distrik Agadide, kemudian Distrik Agadide dimekar menjadi dua distrik yakni Distrik Ekadide dan Distrik  Bogodide.

 

Pendidikan  Tahun 1965-1970

 

Pada tahun 1965-1970 ke bawah, beberapa orang Agadide  menyelesaikan pendidikan tingkat SD berasal dari tiga wilayah adat Agadide, lalu mereka diangkat menjadi pengawai Negeri di lingkungan Pemerintah Distrik Agadide. Selain itu, mereka belum pernah mengenal namanya pendidikan karena saat itu kondisi tidak aman di wilayah Agadide.

 

Pada tahun 1970 -1980, beberapa orang Agadide sedikit mengenal pendidikan melanjutkan ditingkat SMP, lalu mereka diangkat menjadi Guru SD dan SMP di lingkungan pemerintah. Selain itu, ada yang ingin melanjutkan pendidikan tingkat atas SMA, tetapi tak ada dukungan biaya dari orang tua, akhirnya mereka korban pendidikan selanjutnya.

 

Pada tahun 1980-1985 ke atas, banyak orang Agadide mengenal pendidikan lebih tinggi sehingga sekitarnya 10 orang di teskan Universitas Cendrawasih (UNCEN), Papua, tetapi diterima hanya dua orang saja diantaranya Kornelius Muyapa dan Yeskel Tenouye. Selain itu, mereka tidak tembus di test tersebut akhirnya mereka korban pendidikannya.

 

Yang menjadi pertanyaan bahwa, pada tahun 1985-1997, banyak orang mengenal namanya pendidikan lebih tinggi di Universitas Cendrawasih, Papua, sehingga beberapa orang menyelessaikan pendidikan di UNCEN dengan baik, lalu mereka diangkat menjadi Pengawai Negeri, namun mereka belum dapat bagian tetinggi dalam pemerintahan seperti; di kepala bagian yakni kapala dinas dan dalam bidang-bidangnya di Kabupaten Paniai?

 

Pada tahun 1987-2000 ke atas, banyak orang Agadide menyelesaikan pendidikan lebih tinggi di berbagai Universitas se-Indonesia, lalu banyak orang diangkat menjadi  Pengawai Negeri, tetapi hanya ada non-staf dari Pemerintah Kabupaten Paniai, mungkin karena mereka tak mampu kerja dan tidak sesuai dengan keahlian yang mereka miliki, dan lain sebagainya?

 

Oleh sebab itu, pengakuan penulis bahwa, dulu mereka korban pendidikan lanjutan karena kurang danjelasnya informasi pendidikan yang kurang merata dipelosot Agadide, bahkan karena tiga lingkungan wilayah adat Agadide yang tak aman karena adanya perang antara Indonesia, Belanda bahkan Jepang, dan juga karena perang antar suku di tiga wilayah adat Agadide.

 

Kemudian penulis mengakui bahwa, semuanya situasional memang benar terjadi dari tahun ke tahun soal wilayah adat bagi orang Agadide dalam perkembangan pendidikan yang rakyat setempat alami. Tetapi, jangan ingat dengan berdasarkan pengalaman diata, rakyat setempatnya harus memiliki jiwa besar bagi tiga wilayah adat bagi orang Agadide dalam mendukung pemelihan-pemilihan yang ada dan berkelanjutan di Kab. Paniai sesuia pengalaman pendidikan yang mereka pelajari karena rakyat merasa bahwa yang mencalonkan diri dalam pemilihan-pemilihan tertentu apapun yakni putra daerah itu sendiri, karena itu yang akan mengharumkan nama baik bagi rakyat dan tanah setempatnya dan memberikan dampak positif bagi rakyat setempatnya.

 

Sebab, penulis harap bahwa, bagi yang mencalonkan diri di Kabupaten Paniai, entah itu siapapun dia, mereka harus memiliki sifat umum, harus memiliki jiwa adil, jujur, benar dan mampu memimpin dan bersain untuk kesejahteraan bagi rakyat dan tanah setempatnya, sesuai dengan pendidikan yang mereka tekuni, tidak melenceng dari apa yang mereka sudah pelajari dari berbagai ilmu di bidang yang mereka mendalami.

 

Penulis adalah Wartawan www.kabarmapegaa.com, Tinggal di Timika Papua

 

Editor: Frans Pigai

Baca Juga, Artikel Terkait