Refleksi akan Kehidupan Orang Papua di Masa Lalu, Kini dan Akan  Datang?

Cinque Terre
Alexander Gobai

7 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Maximus Sedik)*

 

Orang Papua di Masa Lalu

 

Pola hidup orang Papua di masa lalu bergantung atau berlandaskan pada paham Kosmologis’’ dan komunalisme’’. Yang mengartikan bahwa pusat hidup orang Papua di masa lalu bergantung atau berpusat pada alam. Dan hidup kelompok-kelompok kecil (klen/marga) yang berpusat pada seluruh dusun-dusun kecil. Seluruh orientasi kehidupan bersumber pada alam. Alam menjadi sumber utama hidup mereka secara keseluruhan. Pola relasi yang di bangun adalah pola relasi resiprositi yaitu, relasi yang saling menguntungkan dan saling ketergantungan dari semua lapisan sosial yang mereka jalani.

 

Dalam pemahaman orang Papua zaman lalu ada tiga alam yaitu: alam kosmos, alam empiris atau nyata, dan alam tak nyata atau roh-roh (alam non-empiris). Keyakinan yang mereka yakini juga berdasarkan asal-usul mereka  berdasarkan moyang suatu marga yang berupa alam hewan maupun alam tumbuhan.  Paham ini para antroplog menyebutnya sebagai paham “Tetonisme’’ yang artinya kepercayaan pada benda yang memiliki suatu kekuatan tertentu.

 

Ada tiga keadaan geografis alam Papua, yang membentuk karakteristrik  orang Papua secara umumnya yaitu: Alam Pegunungan, Alam Pantai atau Pesisir, dan Alam Rawa-rawa. Medan geografis ini juga mempengaruhi mata penceharian utama mereka berdasarkan alam dimana mereka berada. Yang mediami alam pegunungan mata penceharian utamanya adalah bercocok tanam atau bertani dan berburu, yang mendiami alam pantai mata penceharian utamanya adalah melaut atau nelayan dan yang mendiami alam rawa-rawa mata penceharian utamanya yaitu meramu dan sedikit juga berburu. Ketiga alam ini juga mempengaruhi seluruh watak atau karakter yang merek miliki. Watak orang gunung dan pantai sama, keras tegas, prisipil, pembrontak, kritis, agresif,  emosional, bekerja keras, daya juang tinggi, dan lain sebgainya. Sedangkan watak orang peramu adalah lebih pasif, menunggu, santai, lebih memilih diam, kurang berkerja  keras, tetapi lebih berjiwa seni ( pahat, ukir, dan suara tari), lebih memghargai alam, spontan dan jujur mengatakan apa adanya, polos dan sederhana, dan lain sebagainya yang mareka miliki. Karena pusat hidup orang Papua pada saat itu berpusat pada alam (Kosmos), maka melahirkan banyak ritus-ritus dan upacara-upacara yang berhubungan alam roh nenek moyang dan sesama yang masih hidup. Misalnya: Ritus kelahiran,  Ritus Kematian dan ada banyak ritus lainnya tidak disebutkan. Selain ritus-ritus ada pula upacara-upacara adat, seperti:  Upacara Tebang Kebun, Upacara Tebang Sagu, dan upacara ritual lainya. Selain upacara-upara ada pula pesta-pesta yaitu: Pesta Adat, Pesta Tukar Kain Timur (bagi masyarakat pegunungan Papau bagaian utara) dan  pesta adat lainya.

 

Tantanan sosial dan nilai-nilai budaya masa lalu sebagai struktur dan sistem yang bersumber pada sistem marga atau klen yang mendiami suatu tempat tertentu  atau “dusun”. Nilai-nilai budaya, pendidikan melalui sisitem pendidika adat yang disebut pendidikan inisiasi, baik untuk kaum laki-laki maupun kaum perempuan sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan atau disepakati bersama oleh para  pendidik.

 

Menurut beberapa ahli yang meneliti tentang proses pendidikan adat atau pendidikan tradisional, menyimpulkan bahwa sisitem pendidikan inisiasi memilik beberapa karakterristik dan dimensi yang khas yang diterapkan kepada para pendidik atu murid sebagai subjek inisiasi. Kata inisiasi berasal dari kata latin inisium’’ artinya transisi, antara (between) belum jadi menuju sudah jadi, belum dewasa menuju dewasa, peralihan dari belum tahu menjadi tahu, dsb. Dengan sisitem pendidikan adat ini, sistem transisi harus ditempuh melalui proses yang ketat. Arnold Van Gennep (1873-1857 menyebut “sisitem pendidikan adat ini dengan nama sisitenm pendidikan pralihan dan pengasingan (diri)m karena melalui beberapa proses atau tahapan yang ditempuh melalui sisitem pedidikan yang diterapkan. Tahap- tahap tersebut tersebut adalah tahap pemisahan tahap transisi atau pengasingan dan tahap integrasi atau penyatuan. Tahap ini A,Van Gennep, menyembut tiga tahap: Sistem pendidikan yang mengolah, mengembangkan, dan membentuk para murid atau para subjek inisiasi. Ketiga tahap ini dapat ditempuh melalui sutu proses waktu yang cukup lama. Dan juga ketiga tahap sistem pendidikan inisiasi adat ini mencakup tiga aspek atau tiga hal utama yang menjadi fokus perhatian yaitu: Aspek pelepasang atau pemisahan dari keterkaitan biologis maternal- paternal menuju pada tahap personal (ketersendirian atau ketersaingan), kemudian menuju pada pembentukan kedewasaan  yang utuh dan siap diutus atau turun di tengah-tenangah masyarakat.

 

Ada empat dimensi utama yang menjadi perhatian melalui program pendidikan inisiasi yang diterapkan: 1) Pendidikan dan pelatihan fisik-mental, 2) Pendidikan, 3) Pelatihan rohani secara adat, 4) Pendidikan dan pelatihan cara bekerja yang baik maupun cara memimpin. Ada pula melatih setiap orang untuk mampu mengingat dan memahami semua ajaran yang sudah dipelajari bersama berupa dogma adat.

 

Yang disebut diatas sebagai suatu kurikulum  yang diterapkan dalam sistem pendidikan inisiasi, bagi pria dan wanita. Landasan ajaran inilah yang membentuk karakter dan kepribadian para pendidik. Dengan demikian hasil akhir yang dicapai melalui sistem pendidikan inisiasi ini adalah membentuk atau melahirkan para pemimpin masyarakaat yang sungguh-sungguh bermutu atau berkualitas dalam segala tindakan. Melalui tahap teoritis sebagaimana disebutkan di atas seorang pria dan wanita, diharapkan mampu menjadi pelaku perubahan bagi masyarakat. Dengan demikian mereka secara bertanggung jawab dan berpartisipasi secara penuh untuk turut membengun masyarakat.

 

Dunia berpikir orang Papua pada masa lampau sama dengan cara berpikir manusia modern, sehingga untuk mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, harus seseorang itu secara sungguh-sungguh disipakan subuah lembaga pendidikan tertentu. Sehingga semuanya terjawab dan berjalan sesuai dengan orientasi kehidupan sosial yang membaik. Cara ini berbeda pada orintasi penerapannya yang dicapai oleh lembaga yang bersangkutan. Nilai-nilai yang dikedepakan disini adalah menjaga keharmonisan yang baik antara sesama dalam kehidupan masyarakat. Hubungan yang dibangun antara keutuhan dan kesatuan antara manusia dengan alam, dan sebaliknya alam dengan manusia.

 

Pada masa ini manusia sangat menghargai alam yang sangat ketat, karena alam bukan hanya memberikan nilai ekonomis saja tetapi alam juga sebagai spiritual/rohani, kekuatan kesehatan, energi gizi, kekutan ilahi, dan kekuatan keindahan.

 

Orang Papua menerima kontak dengan orang luar dan budaya luar yang berawal mula, zaman ekspedisi bangsa-bangsa eropa untuk menemukan benua baru yaitu, orang –orang  Spanyol, Portugis, Italia, Inggris, Belanda, Prancis dan Jerman. Dalam perkembangan ini juga diikutsertakan dalam penyebaran agama oleh para misionaris maupun para pendeta. Peyebaran ini meliputi wilayah pegunungan dan pesisir pantai. Para pendeta menguasai wilayah pesisir pantai, sedangkan para misionaris katolik menguasi wilayah pegunungan dan dataran rendah sebagaian.

 

Orang Papua menerima agama modern sebagai suatu pencerahan baru dalam pribadi masyarakat secara keseluruhan. Setiap suku bangsa mendiami tempatanya masing-masing dan memilik anekaragaman budaya juga berbeda-beda.

 

Orang Papua di Masa Kini

 

Pergeseran tetap bergeser dan mempengaruhi masyarakat. Bergesernya sistem pendidikan tradisional ke sistem pendidikan modern. Orang Papua sekarang adalah oranng Papua yang hidup dalam budaya  yang bersifatnya prural, sehingga kekurangan pendidikan formal saat ini kurang atau tidak adanya penekanan pada aspek pendidikan karakter dan kepribadian. Pendidikan formal lebih menekan pada aspek pengetahuan semata daripada aspek moral-etika. Masuknya para misionaris Eropa membawa perubahan pola perilaku yang lebih diarahkan ke dalam budaya Eropa daripada budaya setempat. Proses ini berjalan dengan waktu yang singkat, sehingga orang Papua belum membekali diri dengan baik untuk menghadapinya. Sering kali terdengar keluhan dari masyarakat sederhana yang berdominasi di kampung-kampug atau yang tinggal di kantong-kantong masyaraktat Papua di kota bersama yang berada di barat Papua. Sering terdengar ucapan yang beredar dari mereka bahwa yang membodohi kami adalah anak-anak kami sendiri yang sekolahnya tinggi-tinggi.’’ Pernyataan ini menyikapkan beberapa hal pokok yaitu, menurut penilain orang tua di kampung bahwa anak-anak mereka yang menyelesaikan pendidikan modern justru tidak mampu mengajarkan apa yang menurut mereka baik dan benar. Anak-anak mereka belum mampu mentransfer apa yang dipelajari di bangku sekolah dan menerapkan ke dalam kehidupan masyarakat. Anak-anak mereka hanya mengejar status atau gelar sarjana, untuk mengejar jabatan atau status kedudukan, sehingga proses yang berjalan tidak tepat pada sasaran yang diinginkan oleh seluruh lapisan masyarakat.  Mungkin karena pendidikan modern lebih menekankan pada aspek pengetahuan (kongnitif) daripada aspek penerapan (spikomotorik), sehingga aspek pembentukan kepribadian tidak nampak pada setiap orang yang menempuh pendidikan secara modern. Ini memang nyata dalam setipa kehidupan masyarakat, sehingga  proses manipulasi tetap berkembang dalam lapisan masyarakat demi kepentingan yang tidak diketahui.

 

Papua kontak dengan Indonesia, pada saat terjadinya peristiwa PEPERA, orang Indonesia beredar di seluruh pelosok Papua. Dan diikutsertakan dengan program pemerintah transmigrasi dan otonomi daerah, program ini didatangkan oleh pemerintah dengan berbagai alasan baik secara gelap maupun terang bagi masyarakat Papua secara keseluruhan. Sayangnya program pemerintah lebih merugikan masyarakat baik secara sosial maupun budaya, sehingga masyarakat Papua, menjadi marjinalisasi atas tanahnya sediri, kesenjangan sosial tetap beradaptasi dalam masyarakat.

 

Keperibadian manusia Papua yang belum terintegral secara baik, belum mencerminkan suatu kepribadian yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah, bukan kepribadian yang utuh menyatu sebagai satu-kesatuan yang utuh total, dan menyeluruh. Tentang kepribadian yang terpecah ini, disoroti oleh seorang Filsuf Prancis, Bourdieau yang  menamainya Hysteresis. Menurutnya Hysteresis adalah deviasi atau keretakan habitus seseorang atau watak retak yang terjadi dalam diri seseorang. Karena adanya retakan dan tidak mengutuhnya sebuah proses internalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai masyarakat. Dengan kata lain, ketercabutan atau tercabutnya atau tercungkilnya orang-orang dari asal  habitus, budayanya karena harus mengikuti budaya modern atau globalisasi. Proses inilah yang disebut tercabutnya atau meninggalkan budayanya yang asli karena mengikuti tuntutan baudaya baru. Sehinggga watak yang retak oleh arus yang terbawa oleh budaya modern. Ruapanya watak retak atau kepribadian ini, yang sedang melanda generasi muda Papua disaat ini atau lebih kerenya masa kini.

 

Situasi masyarakat di Papua saat ini, dan para mhasiswa yang sedang studi di berbagai perguruan tinggi baik diluar maupun di dalam Papua. Para mahasiswa-mahasiswi ini terpengaruh, dan wataknya retak atau kepribadian yang terbagi-bagi. Umar Kayam (alm) menerima watak yang retak wajah indo, tetapi kalau bagi orang Papua saya menamainya IRJA (irian jawa) atau IRDO (irian manado), PAMKAS (Papua Makasar) dsb.

 

Proses watak retak atau kepribadian terbelah atau runtuh ini terjadi dalam dalam diri para generasi kita saat ini karena disebabkan oleh dua hal:

Pertama: Tidak adanya ruang dialong budaya yang setara karena dipakasa. Internalisasi dan eksternalisasi bawa paksaan kekuasaan kolonialisme budaya luar ( Bdk. Mudji sutrisno 2010: 18). Kedua: Imperealisme nilai-nilai budaya luar dimana dipaksakan agar diterima dan dijalani, karena tuntutan sistem atau etos kerja modern tanpa proses refleksi, adaptasi, internalisasi, dan trnsformasi (bdk. Mudji Sutrisono,  Ibidem).

 

Orang Papua Masa Akan Datang

 

Masa atau waktu menurut filsuf M. Buber dan St. Agustinus, menurut kedua filsuf pada hakikatnya watu tidak memiliki waktu lalu dan waktu akan datang. Waktu pada dasarnya pada saat ini atau hari ini. Benteng waktu ini ada didalam ide atau pikiran dan hati manusia. Ketika manusia memulai suatu ide atau suatu aksi maka pada saat itu atau pada hari itu ia sedang mengkonstruksi  sesuatu yang berlanjut apada hari ini, sehingga menjadi memori atau kenangan  yang disebut sejarah dan menjadi cita-cita ke depan adalah harapan.

 

Menurut kedua filsuf di atas ketika kita memulai suatu karya berarti kita sedang membangun suatu nilai sebagai suatu kekekalan waktu. Karena nilai dan waktu  adalah bagaian dari kekekalan itu sendiri, yang oleh orang beriman menyebutnya Allah. Berpedoman pada pandangan tentang makna atau arti waktu menurut kedua filsuf mendorang kita untuk melihat kembali  posisi kita saat ini sebagaimana telah saya uraikan pada bagian kedua yaitu “kehidupan orang papua masa kini.’’

 

Bagaimana kita saat ini, khususnya sebagai generasi muda yang mampu mengkontruksikan atau mendesaian kembali keperibadian kita, sehingga lebih tangguh dan lebih utuh serta lebih berkualitas mampu membangun masa depan Papua yang lebih baik?

 

Menurut saya pada saat ini, pada hari inilah kita sebagai generasi penerus Papua harus memulai sesuatu harus sungguh-sungguh belajar, sungguh berjuang dan kerja keras, mulai memberi diri untuk dibentuk, dibimbing dan diarahkan orang lain melalui sistem pendidikan yang kita sekalian geluti pada saat ini. Kita harus memanfaatkan ruang, waktu, tempat dan kesempatan untuk membangun landasan yang kokoh  dalam pribadi kita.

 

Mulai hari ini, saat ini tinggalkan segala hal yang bersifat negatif dan hilangkan segala hal yang bersifat  destruktif (yang merusak diri sendiri dan sesama) dan membangun sikap dan sifaf yang konstruktif (yang membangun diri sendiri dan sesama). Mulai hari ini, saat ini merubah segala mentalits yang merusak dan merugikan sesama maupun diri sendiri, dan terapkan sesuatu yang baik dalam pribadi kita.

 

Papua yang akan datang  hanya ditentukan oleh kita yang saat ini, hari ini apakah baik atau buruknya Papua tergantumg pada kita semua dan komitmen yang jelas. Bagaimana kita orang Papua membangun tanah Papua tetapi tidak merusak, apa yang dimiliknya baik itu budaya, suku, bahasa, ras, agama, dan alam luhur kita yang diakui dunia?.

 

Penulis adalah mahasiswa Papua asal Tambarauw, kuliah di Yogyakarta)*

 

Baca Juga, Artikel Terkait