Adakah Ruang Hidup Bagi Kami

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
“PAK Simon di Megaikebo, Mapiha. Kita Harus Jadi Kepala Batu atas Apa yang Kita Punya Bukan Apa yang Kita Tidak Punya.” KM.

 

 

“PAK Simon di Megaikebo, Mapiha. Kita Harus Jadi Kepala Batu atas Apa yang Kita Punya Bukan Apa yang Kita Tidak Punya.”

 

Oleh, Kadepa Agust

 

OPINI KABARMAPEGAA.COM--Judul ini agak panjang dan menjelaskan apa yanga akan dijelaskan dalam tulisan ini. Diiyakan jika ada yang bilang ini bukan judul.

 

Pak Simon asal dari suku Mee tinggal di Kampung Megaikebo, Mapiha Tengah Papua. Sosoknya disebut-sebut sebagai orang sibuk, tidak tahu apa yang dibuatnya menurut cerita kerabat dan menurut cerita orang lain Pak Simon juga memiliki mental yang cukup berani "Dia orang kampung yang paling aktif dan kepala batu di setiap kegiatan Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Desa. Karena saking kepala batunya dia sering diikutkan dalam berbagai kegiatan pemerintahan kabupaten Dogiyai.

 

Sering menjadi alat pembicaraan dalam kegiatan "saya akan tetap jadi kepala batu, saya kepala batu karena atas saya punya, bukan kerena saya tidak punya". Bahasa ini sedikit agak melengkung bagi beberapa orang yang tersinggung dalam acara-acar tersebut. Di sisi lain tentunya menegur secara langsung bagi pihak lain yang menyalahgunakan tupoksi kerjanya entah sebagai apa.

 

Banyak sekali di berbagai level orang sering terjadi pembiaran pada orang yang tak menjalankan pekerjaannya. Hal ini sangat serius terjadi di berbagai instansi pemerintahan di Papua dan lebih khususnya di wilayah Meepago.

 

Saya pribadi berkunjung ke berbagai instansi, kekecewaan ini muncul akibat kelalaian pelayanan terhadap masyarakat lokal "Menuru Pak Simon". Karena sering saya dengar, menurut pemerintah tolak ukur kemajuan pemerintahan ada di tingkatan kesejahteraan masyarakat dari pelayanan pemerintahan sesuai program kerja.

 

Untuk mewujudkannyatakan pelayanan ini saya harus jadi kepala batu kalau tidak maka saya tidak dianggap manusia tak bertualang. Beberapa kali sudah terbukti dengan kepala batu saya pemerintah melayani saya. Orang yang tidak kepala batu tidak ada tempat bagi mereka untuk mewujudkan visi pemerintah.

 

Berkali-kali saya lakukan hal demikian, sering yang menyulitkan kami adalah pemerintah, tentunya kami masyarakat berkeinginan besar menyukseskan transformasi pemerintah yang bersih dari KKN.

 

Stereotipe ini ada sejak lama dalam benak masyarakat lokal sehingga kehidupan masyarakat sama sekali tidak memiliki kehidupan pemerintahan yang sebenarnya. Artinya nila kehadiran pemerintah sama sekali tidak memberikan nilai tambah.

 

Memang benar pemerintah berdosa, sudah sejak lama dan menggangu kehidupan masyarakat yakni menciptakan ketergantungan yang sangat kuat, menciptakan bentrok sosial atas nama uang dan jabatan, menjauhkan ikatan keluarga, leluhur dan alam semesta. Saya selalu berpikir adakah ruang hidup bagi Kami? Tidak ada. Saya harus jadi kepala batu. Itu jalan satu-satunya yang saya lakukan.

 

Penulis juga merasakan hal serupa ketika mengurus KTP di Nabire ada Transaksi uang. Hal ini membenarkan Keluhan Pak Simon bahwa pemerintah memelihara agen-agen khusus yang menjadi media dalam pengurusan administrasi dengan alasan yang tentunya tidak logis yakni menciptaan peluang memperlambat pengurusan KTP. Antek-antek pelayanan yang serius menggangu mentalitas masyarakat sehingga secara langsung pemerintah mengajarkan bagaimana masyarakat mencuri, bagaimana masyarakat saling berbohong, bagaimana masyarakat saling beradu kontak fisik dan sejenisnya.

 

Mengungkap dosa ini sudah terbukti benar dan dikonsumsi benar-benar oleh masyarakat dan sekarang sudah terbiasa menghadapi hal tragis di atas. Jika tidak terlaksana sesuai keinginan maka jalan lain yang ditempuh yakni saling menghilangkan nyawa sesama.

 

Pak Simon memiliki usaha lokal yakni tanam kopi dan didistribusikan ke luar Daerah. Untuk menjalankan usaha tersebut memerlukan administrasi dan pendanaan. Dia menjadikan jalan menuju kesuksesan itu menjadikan dirinya sebagai Orang Kepala Batu dan ia sangat menyakini bahwa dengan dengan kekerasan dapat memenuhi kebutuhannya.

 

 

(Pengembara Kampung) Kalibobo Nabire Papua. Jumat, 05 Oktober 2018.

Baca Juga, Artikel Terkait