Aksi May Day dan Hari  Aneksasi Papua: Massa Aksi KAMRAT Kena Pukulan, Atribut Aksi Dirusak  

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Bulan yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Saat KAMRAT membacakan tuntutan di depan asrama mahasiswa Papua, Kamasan 1, Jln. Kusumanegara, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rabu (1/5). (Foto: FW/KM)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com-- Peringatan Hari Buruh  Internasional atau May Day dan 56 Tahun Aneksasi West Papua kedalam negara Indonesia  di Jogjakarta diwarnai dengan aksi pemukulan, perusakan atribut aksi yang dibawa oleh massa aksi sebelum sampai pada titik pusat demo yang dipusatkan di titik Nol Kilometer (Malioboro) Jogja.  

 

Massa aksi yang mengatasnamakan Komite Aksi Mayday untuk Rakyat (KAMRAT) dipukul mundur oleh pihak gabungan aparat. Kejadian ini terjadi di depan gerbang asrama mahasiswa Papua, Kamasan I, Jln. Kusumanegara, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rabu (1/5/2019)

 

Massa aksi yang tergabung dalam KAMRAT adalah Aliansi Mahasiswa Papua, Front Rakyat Indonesia untuk West Papua dan CAKRA. Masa aksi yang ikut terlibat dalam aksi kali ini kurang lebih sekitar ratusan orang.

 

Koordinator  Lapangan (Koorlap), Onhy Petege mengatakan memang  da beberapa penyusup hinga bisa memprovokasi massa aksi ketika berjalannya aksi.

 

“Ini memang merupakan salah satu tandingan yang dari berbagai faksi-faksiton, tentara, polisi dan antek-antek lainya yang menjaga keestabilan korporat-korporasi dari atasan hinga bisa melakukan represif terhadap massa aksi kurang lebih  ada 6 kawan kami,” kata Onhy saat diwawancara kabarmapegaa.com.

 

Onhy mengaku, ada massa aksi yang kena pukulan serta atribut aksi yang disiapkannya di rusak oleh pihak keamanan gabungan ormas reaksioner. “Kami dipukul bahkan hingga sampai darah, ditendang, dipukul pake karet mati dan sebagainya dan juga bahasa-bahasa  moralitas supaya meredamkan aksi.”

 

Sementara itu, pihak kepolisian telah memenerima surat pemberitahuan aksi sebelum aksi tersebut dilaksanakan hari ini, dikabarkan telah diterima langsung oleh kasat porlestabes Yogyakarta bahwa aksi tersebut untuk memperingati " Hari Buruh Sedunia dan Hari Aneksasi Bangsa Papua ke-Indonesia "

 

“Dengan hari-hari tersebut kita tidak bisa pisahkan dengan yang dimana megara yang menganut demokrasi, harus menjamin keresahan-keresahan rakyat tetapi dalam kondisi situasi sekarang aksi-aksi buruh; Tani; LGBT; Perempuan dan aksi tuntutan lainnya yang dilakukan mahasiswa bertahun-tahun, Negara Indonesia belum selesai soal berdemokrasi, kesejahteraan, kesetaraan dan sebagainya,” kata Onhy Kesal.

 

Kemudian, informasi yang dihimpung media ini. Massa aksi tidak mendapatkan ruang untuk menyampaikan ekpresinya, baik itu melalui tulisan maupun lisan.

 

Dalam kondisi yang making memanas itu, Aris Yeimo selaku Presiden mahasiswa Papua Yogyakarta memberikan  arahan kepada massa aksi untuk tidak terprovokasi oleh pihak manapun.

“"Kawan-kawan masuk di halaman dan tidak terprovokasi atas tindakan-tindakan polisi, kita  tetap tenang. Kita tidak usah terpancing emosi kita sabar ini rumah kita,” ajak Aris Kepada massa aksi.

 

Di depan aparat, salah satu massa aksi dalam orasinya menyerukan keanehan yang terjadi tapi  menurutnya itu nyata  atas tindakan polisi terhadap mahasiswa Papua. "Dalam kata pembukaan saya mau  mengatakan ini aneh  tapi nyata" tegasnya dipetik media ini.

 

Untuk  tanah Papua, kata dia, NKRI sengaja digabungkan Papua  dengan menggunakan  kekuatan militer untuk mencuri kekayaan alam Papua.


Mantan Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Pusat, Jefri Wenda  memebanarkan pengadangan yang dilkaukan oleh Gabungan aparat Indonesia. “ 1 Mei 2019 Aliansi yang tergabung dalam Komite aksi Mayday untuk Rakyat (KAMRAT) hidadang oleh aparatur kepolisian Yogyakarta.”

 

Kata Wenda, dampak dari prmblokadean jalan yang dilakukan oleh aparat kepolisian mengakibatkan aktivitas warga peguna jalan Kusuma Negara Yogyakarta terganggu.

 

“Awalnya, massa aksi hendak melakukan aksi damai dalam bentuk long-march menuju titik Nol (0) Km, sesuai degan surat pemberitahuan aksi yang di berikan kepada pihak kepolisian pada tangal  29 Mei,” katanya.

 

Anehnya kata Jefri,  aksi yang baru dimulai lansung dihadang degan alasan titik nol rawan? Padahal, selain Aliansi kamrade, ada beberapa Aliansi lain yang juga melakukan aksi dalam memeprugati hari buruh Internasional di Titik nol KM.

 

“Artinya, jelas bahwa, aparat kepolisian yang Rasis, berdiri sebagai garis depan untuk untuk melindungi kepentingan elit politik borjuasi nasional yang selama ini menindas dan penjajah rakyatnya sendiri. Selain rakyat yang menjadi korban, kepolisian dgn jelas menghancurkan Konstitusi (Pasal 28 UUD 1945) dan UU 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat dimuka Umum,” jelasnya.

 

Kata dia tidak hanya itu, warga penguna jalan Kusumanegara Yogyakarta juga tidak dapat beraktivitas degan normal krena penghadagan jalan yang dilakukan oleh aparatur negara republik indonesia. “Walaupun penghadangan dilakukan oleh aparat kepolisian, massa aksi terus melakukan aksi di depan Asrama Papua, kamasan I Yogyakarta hingga selesai.”

 

 

Selanjutnya, redaksi www.kabarmapegaa.com mengumpulkan data dan informasi terkait massa aksi yang dibungkan hari ini. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca dalam kronologi singkat versi KAMRAT dibawah ini:

 

Kronologi aksi lengkap Mayday untuk Rakyat (KAMRAT)

 

Penghadangan, Represi, Pemukulan, dan Perusakan oleh aparat Kepolisian Resor Kota Yogyakarta terhadap massa aksi KAMRAT (Komite Aksi Mayday untuk Rakyat) dalam memperingati Hari Buruh Internasional dan 56 Tahun Aneksasi West Papua.

 

Pukul 07.00 WIB, Massa aksi berkumpul di titik kumpul (Asrama Kamasan) mempersiapkan perlengkapan aksi.

 

Pukul 09.45 WIB, Massa Aksi bersiap, berbaris keluar Kamasan, Long March menuju Titik Nol KM.

 

Pukul 10.00 WIB, Kapolresta Yogyakarta, Armaini, menghalangi massa aksi bergerak ke Titik Nol, dengan alasan ada massa tandingan dari ormas Paksi Katon dan FJR. Kapolres bersikeras agar Massa Aksi KAMRAT berpindah lokasi aksi.

 

Pukul 10.10 WIB, Negosiator, Korlap Aksi dan pendamping hukum dari LBH Yogyakarta melakukan perundingan dengan Kapolres agar Massa Aksi tetap bisa bergerak menuju Titik Nol KM.

 

Pukul 11.00 WIB, Perundingan berjalan alot dan akhirnya massa aksi berkompromi dan akan berpindah titik aksi di Monumen Tugu Jogja, namun itu juga tidak diterima oleh pihak polisi. Mereka memaksa agar aksi dilakukan di Balaikota Yogyakarta.

 

Pukul 11.15 WIB, Massa aksi membangun barisan dan tetap bergerak keluar Kamasan, namun dihadang dan dipukuli oleh Sabhara.

 

Pukul 12.00 WIB,  Saling dorong terus terjadi, dan massa aksi berhasil menerobos barikade Sabhara di pagar Kamasan, namun Polisi memblokade jalan Kusumanegara menuju Titik Nol dengan truk polisi. Polisi bernama Armaini juga merusak Ampli Mobil komando KAMRAT

 

Pukul 12.15 WIB, Saling dorong kembali terjadi dan pemukulan semakin brutal, dan Polisi mulai menembakan gas air mata sehingga massa aksi berhamburan masuk kembali menuju Asrama.

 

Pukul 13.00 WIB, Massa aksi mengatur barisan lagi di dalam asrama.

 

Pukul 13.30 WIB, Massa Aksi mencoba keluar lagi, namun lagi-lagi massa aksi direpresi dan dipukuli.

 

Pukul 14.00  WIB, Massa aksi tetap melakukan aksi, menyampaikan orasi politik di depan asrama Kamasan.

 

15.30 WIB, Aksi berakhir dengan pernyataan sikap.

 

Korban Pemukulan:

1. Jhon Nawipa (21) luka di bibir dan jidat

2. Gasrul (22) ditendang di kemaluan

3. Junior Ireuw (19) Luka di leher

4.Wahyu (20) Dipukul dan dicekik leher

5. Yoseph Sakof (21) Luka di tangan

6. Yulianus degei (21) luka robek di hidung

7. Fabby Pigome (22) Luka di kaki (tulang  kering), dan jidat.

8. Remis Praha 20 Luka di bibir

9. Aris Yeimo 32 Luka di Jidat

10. Imam 21 Luka di Kaki

11. Ali (25) Luka di leher dan pelipis

12. Fatihah (18) Luka di kaki

 

Kerugian Materil:

1. Ampli Mokom dirusak Polisi.

 

Demikian informasi yang dihimpung media ini.

 

Baca juga berita terkait lainnya:

May Day dan Hari Aneksasi Papua: Di Jogja, Polisi Hadang Massa Aksi

01 Mei 1963: Hari Aneksasi Bangsa Papua Barat Dan Pengalihan Kepihakan

Konflik Papua Eksistensi Pada Setengah Hati Pemerintah Indonesia

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait