Aksi Penentuan Nasib Sendiri Serta Bebaskan Tapol Papua Di Batasi Polisi

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

21 Hari yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Polisi bastasi puluhan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua, Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP)Malang.

 

MALANG, KABARMAPEGAA.com—Puluhan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Malang, Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP), serta pertisipan lainnya yang terlibat dalam aksi penentuan nasib sendiri serta bebaskan tahan Politik Papua, di Malang dibatasi Polisi.

 

Aksi terseut  dilaksanakan pada 5 Maret 2020  lalu. Menanggapai hal tersebut, Pendamping Front FRI Malang Komite jawa Timur, Richardani Nawipa, S.H kepda kabarmapegaa.com mengatakan negara semestinya memeberikan ruang kepada massa aksi untuk menyampaikan aspirasi mereka.

 

“Dimana hak untuk mengemukakan pendapat sudah mulai sirna padahal harusnya Negara harus memberikan ke bebasan yang seluasnya kepada warga nya untuk mengemukakan pendapat di muka umum , sebagai mana yang sudah di muat di dalam UUD 19945 pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan: Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat,” jelas Richardani kepada kabarmapegaa.com, Minggu, (9/3).

 

Kata dia, Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia. “Itu terjadi pada aksi di Kota Malang, 05 Maret 2020. HAK UNTUK MENENTUKAN NASIP SENDIRI . Bahkan di rubah dan di kira inggin memisahkan diri di mana letak aturan HAK ASASI MANUSIA  yang di junjung tinggi oleh undang-undang dasar  1945.”

 

Pasal-pasal  dalam UUD 1945 yang menjain  Hak Asasi Manusia diantaranya:  Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 26, dan Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31 Pasal 32, Pasal 33 ayat (1) dan ayat (3), dan Pasal 34 Undang-undang Dasar 1945;).

 

Berikut adalah  kronologi aksi:

  • Bahwa Setelah turun dari Angkot tepat jam 10:29 WIB,  sudah terlihat beberapa Polisi berseragam dengan 1 mobil patroli Polisi dan 1 mobil DALMAS dan 1 Mobil khusus dengan Anjing Pelacak. Masa Aksi langsung menuju ke perempatan samping BCA dan mengeluarkan perangkat aksi. Korlap  baru membuka dengan salam lalu memulai dengan beberapa Orasi, saat itu datang satu mobil BILMAS dengan menyerukan agar  Aksi Segera dibubarkan oleh polisi yang sudah ada di  datang banyak polisi dan beberapa Brimob dengan menggunakan Rompi anti peluru, mulai merepresif Masa Aksi, juga beberpa Polwan diseberang jalan  yang berusaha memprovokasi Masa Aksi dengan menggunakan kain putih yang dijadikan penutup kepala atau pengganti dari Jilbab dan mulai melantunkan Solawatan. Berselang beberapa waktu datang lagi  1 mobil DALMAS dan  Motor  Brimob kurang lebih  8, juga datang  K9 (Anjing Polisi) bersama Pawangnya kurang lebih 10 Orang. Saat Kurang Lebih Jam 10:32 Masa Aksi  mulai didorong ke trotoar pembatas jalan dan bahkan pihak dari  Kepolisian tidak menanggapi niat baik Masa Aksi untuk negosiasi dan malah lebih masif mendorong Masa Aksi.  Masa Aksi didorong hingga berusaha diangkut paksa kedalam mobil DALMAS, saat itu terjadi aksi saling dorong hingga baju dari salah satu Masa Aksi di robek, sebagian dari perangkat aksi dirusaki semua, dan beberapa Masa Aksi tangannya terkilir ringan karena didorong.
  • Bahwa Saat pukul 10:55 WIB Masa Aksi diangkut Paksa kedalam mobil DALMAS dan Masa Aksi belum sempat membacakan Pernyataan Sikap. Masa Aksi langsung   diarak dan tidak jelas akan diantar kemana, lalu Masa Aksi meminta untuk diturunkan di depan jalan.

 

Catatan :

  • Aksi dimulai Jam 10:29 WIB
  • Jumlah Masa Aksi : 17 Orang
  • Jumlah DALMAS : 2
  • Jumlah BILMAS :1
  • Jumlah Motor : Kurang Lebih  8
  • Mobil Khusus Anjing Pelacak : 1
  • Jumlah Polisi : Kurang Lebih 100 Orang
  •  Jumlah Brimob : Kurang lebih  20an Orang
  • Jumlah INTEl berpakaian Preman: kurang lebih 30 orang.
  • Jumlah K-9 :  1 (Anjing Polisi) yang diturunkan Bersama 10 Pawangnya.
  • Perlengkapan Yang dirusak : Megaphone, Poster, Selebaran, dan Tali komandan.
  • Belum sempat Membacakan PERNYATAAN SIKAP.
  • Selesai karena diangkut Paksa : Jam  11:14 WIB

 

(Semua catatan tersebut di buktikan  dengan data dokumentasi)

 

Atas kejadian tersebut kami sebagai warga Negara Indonesia yang sedang mengemukakan pendapat secara patut yang dijamin oleh Negara merasa dibatasi oleh tindakan-tindakan yang dilakukan Aparat kepolisian. Oleh karena itu kami Front FRI dengan ini menuntut :

  1. Pihak aparat kepolisian agar bertindak sewajarnya dalam melakukan pengamanan aksi yang dilakukan oleh Front FRI, karena menyampaikan pendapat dimuka umum adalah hak bagi setiap warga Negara Indonesia;
  2. Mendesak kepada Pemerintah Kota Malang untuk mendengarkan dan merespon semua tuntutan yang kami suarakan.

 

Redaksi/KM

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait