Aktivis Papua Harus Mampu Mempraktekan Slogan: Persatuan Tanpa Batas perjuangan Sampai Menang

Cinque Terre
Yunus Gobai

1 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Contributor
Aktivis Perempuan Papua. Foto: Dok/KM

 

Oleh,Dessi Kristina Siep*

 

Apa yang dimaksud dengan Aktivis ?

Aktivis adalah seseorang yang secara teori dan kosep mengerti tentang persoalan rakyat dari segala sektor (social,ekonomi,kesehatan,budaya, lingkungan dll). Aktivis ini juga mampu membaca situasi realitas dan tahu bagaimana menyikapi dan menggerakan masyarakat dan juga kadang tidak mampu secara praktek dalam menggalang kekuatan massa rakyat dalam semua aspek hanya karena terlalu sensitf pada isi Suku, Ras, Budaya, Bahasa, Wilayah dan Bangsa.

Apa yang harus di lakukan dalam menyikapi realitas yang sudah dan sedang terjadi itu ? Yang harus di lakukan adalah bagaimana mewujudkan slogan yaitu “Persatuan Tanpa Batas Perjuangan Sampai Menang”. Artinya bahwa bahwa persatuan itu harus tumbuh dan berkembang seiring dengan waktu secara merata di kalangan masyarakat akar rumput (Grass root) dan itu tidak di lakukan dengan setengah setengah dan harus di realisasikan secara 100% tanpa ada pikiran pikiran yang membedah bedahkan antara kita orang papua sendiri dari sorong sampai samarai.

Tetapi itu di praktekan secara, Hati, Jiwa, Pikiran yang demokratis di antara sesama orang Papua. Jangan sampai orang papua sendiri masih terbawa dengan perasaan perbedaan kedaerahaan di antara kita orang papua sendiri dari tujuh (7) wilayah adat (Mamta, Saireri, Hanim, Lapago, Meepago,Domberai, Bomberai). Jika perbedaan itu masih terbawa, maka tidak akan perna ada persatuan yang Merata, Adil, Setara, Demoktratis dalam kekuatan seluruh masyarakat dalam upaya realisasi dari motto: "Persatuan Tanpa Batas Perjuangan Sampai menang"yang selalu di inginkan oleh rakyat papua seluruhnya dari sorong sampai samarai.

 

Bagaimana cara untuk mewujudkan slogan: Persatuan tanpa batas,perjuangan sampai menang?

Hal pertama terkhusus aktivis dan Orang papua pada umunya,harus punya prinsip jelas dan mempunyai cara atau strategi masing-masing dalam upaya,membuka diri,bergaul antara sesama orang papua,tanpa ada sekat-sekat Sukuisme,Margaisme, Bahasa,Agama,Wilayah, atau dari sektor kelas ekonomi. Prinsip yang harus aktivis dan orang papua umumnya di pegang dan dilakasanakan bahwa, kita sama-sama orang papua, Hitam kulit, Keriting rambut,sama-sama di tindas, dianiaya, dibunuh, diperkosa, dieksploitasi,disingkirkan,dan sama-sama terjajah oleh Kapitalisme, Imperialisme,Klonialisme,Militerisme.

Maka prinsip-prinsip itu yang orang papua harus pegang dan laksanakan dengan hati, pikiran, jiwa. Disitulah bisa melahirkan persatuan tanpa batas ,Karena persatuan kita orang papua adalah kekuatan utama bagi kita orang papua untuk bersama- sama, memperjuangkan hak-hak kami secara demokratis secara ideologi, jiwa, pikiran,karakter sebagai orang yang sama tertindas dan melawan ketidakadilan yang di lakukan oleh orang papua sendiri yang bekerja dalam system klonial maupun pemangku kebijakan Negara Indonesia atas tanah Papua.

Musuh terbesar kita orang papua adalah system Kapitalisme, Imperialisme,Kolonialisme,Militerisme, Patriarki, Matriakal dan juga elite elit politik lokal. Golongan system ini menjadi musuh utama. Sebab dalam kelompok system kolonial indonesia ini juga tidak memandang suku,wilayah,ras dan bangsa dalam merekrut dan mempekerjakan orang papua sendiri dalam mempertahankan kekuasaan Klonialsme atas tanah papua.

Hal itu terbukti di kalangan orang asli papua sendiri juga selalu menjadi kaki dan tangannya dari system kolonial Negara indonesia dengan strategi menempatkan posisi jabatan bagi orang orang papua itu sendiri Sukuisme, Margaisme,Pembagian wilayah, Ras, Bangsa, Kaya,Miskin.

Semua itu adalah kelas sosial masyarakat yang mana pada kebiasaanya (Culture) ini, selalu di mainkan isu oleh kalangan elit lokal, Kapitalisme,Kolonialisme dan Militerisme dalam membeda-bedakan orang papua itu sendiri. Isu yang di bangun dan di tetapkan oleh orang-orang bourjuis (Kapitalis Birokrat) adalah dengan sasaran dan target itu untuk ingin menguasai dan mengambil kekayaan orang papua di setiap wilayah akhirnya orang papua selalu saja pikirannya (Mindset) terpengaruh dan terpancing dengan system-system kerjanya orang-orang bourjuis (Kapitalis Birokrat) yang mana selalu membeda-bedakan antara orang papua sendiri, berdasarkan pembagian wilayah Adat, Suku, Agama. Guna memenangkan keinginan dan kebutuhan mereka. Padahal pada kenyataanya, kita orang papua sedang di jajah, di tindas melalui strategi halus (Slow Genozida) maupun kasar (Militer Operation) dan itu semua di kemas secara Tersistematis, Terstruktur, Terprogram dan Massif.

Persatuan itu akan selalu ada jikalau orang papua itu sendiri saling menyadarkan, saling meberikan memberikan pemahaman, saling menjelaskan teori dan konsep revolusi dan situasi rakyat secara Demokratis, Adil, Detail dan mendalam dengan penuh hati yang 100% dan tulus. Tanpa ada egoisme, Iri hati, Kepentingan sendiri. Sehingga dampak yang di rasakan massa rakyat selalu tersampaikan dengan setengah-setengah sekitar 50%. Kentalnya cara pandang dalam massa rakyat itu juga selalu membeda-bedakan Sukuisme,Margaisme,Wilayah, Bahasa, Agama, Ekonomi, laki-laki dan Perempuan. Akhirnya hasilnya yang tersampaikann di massa rakyat juga ada sedikit isu sukuisme dan wilayah ,sehingga sasarannya untuk kepentingan umum dalam mewujudkan Persatuan Tanpa Batas dan Perjuangan Sampai Menang, di antara sesama orang papua itu tidak terbukti nyata di lapangan.

 

Apa Tujuannya Slogan Persatuan tanpa batas,perjuangan sampai menang

Slogan yang di gunakan dalam semangat kerja konsolidasi,dengan meneriakan Papua Merdeka, sementara praktek kerja persatuan orang papua dari tujuh wilayah adat (Mamata,Saireri, Meepago, Hanim,Lapago,Domberai, Bomberai) belum di jalankan di antara orang papua sendiri?.

Persatuan penting itu penting buat orang tertindas untuk bersatu melawan segala bentuk bentuk penindasan yang terjadi terus menerus. Jika orang papua bersatu dari tujuh (7),wilayah adat, maka realisasi dari slogan, Persatuan Tanpa Batas, Perjuangan Sampai Nenang, itu betul-betul terealisasi secara nyata.

Sisi lain realitas kehidupan orang papua masih banyak kental dengan Sukuisme,Margaisme, Wilayah,Bahasa, Ras, Bangsa ,berdasarkan kelas ekonomi. Masih banyak yang masih membedah-bedahkan satu sama lainnya. Sehingga emosional dan pendekatan untuk benar-benar merealisasikan persatuan tanpa batas perjuangan sampe menang, itu tidak berjalan secara efektif dan baik.

Dampak dari itu, terus berlanjut hingga problem-problem itu yang dari masih terus ada dari dulu 1961-2020. Kebiasaan ini masih terbawa dan sangat melekat dalam praktek kerja konsolidasi secara organisasi maupun politik dari para aktivis perjuangan papua merdeka itu sendiri. Sebab kalangan aktivis adalah pimpinan massa dan belajar dari massa pula dalam rangka menggerakan,membangkitkan dan mengorganisasikan seluruh masyarakat papua dari Sorong-Samarai.

Dengan demikian musuh kita orang papua hari ini adalah Imperialisme,Kapitalisme,Klonialisme, Militerisme, Patriarki, Matriakal. Mereka inilah musuh besar bagi orang papua. Dan juga para aktor-aktor elit lokal, Kepala suku,Tokoh Adat,Pemerintah dan Negara Indonesia sebagai aktor kolonialisme atas tanah Papua.

Oleh sebab itu, musuh kita orang papua itu bukan orang-orang Indonesia,tetapi system kolonialisme Negara dan kapitalisme yang menghisap, menindas dan mengeskploitasi kelas menengah dan bawah dalam sosial masyrakat.

Faktanya hari orang papua sendiri di rekrut dalam system Klonialisme, Kapitalisme dan kerjanya hanya mengabdi pada system Klonial Indonesia dan kapitalisme dengan menggajikan mereka dengan nominal uang begitu yang besar dan mereka kerja sesuai dengan jadwal,target dari system dan tetap setia mengatur system yang ada dan kembali menindas masyarakat papua sendiri.

 

Penulis adalah Mahasiswai Papua yang kuliah di tanah klonial yang aktif di Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Malang, Jatim

#Budaya

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait