ALKITAB: Firman Allah yang Perlu Diaplikasikan dalam Realitas Hidup orang Papua

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Admin Redaksi Kabar Mapegaa Online
Alkitab Firman Allah yang Perlu Diaplikasikan dalam Realitas Hidup orang Papua/KM.

 

Oleh, Demi Nawipa.

1. Pendahuluan

Selamat hari Minggu semua umat kristiani yang lagi mengikuti ibadah dari tempat perkumpulan (gereja fisik), tentu diwartakan ajaran Allah dan ajaran kepala Gereja, yang lagi kalian renungkan. Tak lupa saya lagi sampaikan selamat beribadah khusus kepada seluruh rakyat Papua mulai dari Raja Ampat sampai Merauke, dan Fakfak sampai Jayapura (Port Numbay), tentu kalian semua sehat selalu bersama Tuhan, alam dan manusia Papua .

Semua umat manusia dari Eropa, Jerman, Amerika, Australia, Indonesia dan juga bangsa Yahudi tahu benar; bahwa Injil (misionaris kristen) tiba di Papua sejak 5 Februari 1855, di pulau Mansinam (teluk doreri), Manokwari pada abad ke-19.  Mereka yang tiba di Mansinam saat itu adalah Ottow dan Geisler beserta istri dan para pengantar dari ambon. Saya pernah baca dalam bukunya "expedition to east Indies" oleh Dr.A.R.Wallace, beliau pernah numpang di rumah kedua misionaris yang ada di Mansinam, sejak tahun 1858, ketika itu beliau ekspedisi di pegunungan Arfak sebagai seorang biogeografi.

Kemudian selanjutnya  para misionaris katolik dan Kristen lainnya yang datang ke Papua adalah melalui jalur perdagangan orang Eropa, yaitu dari Portugis, Spanyol, Ambon, Timor, Aru kemudian ke pulau New Guinea (Papua) bagian selatan (Merauke, Timika, Kokonau). Para misionaris itu selama ratusan tahun hanya keliling di bagian pesisir selatan Papua. Namun sejak tahun 1930-an orang Mee (suku Mee) atau sering disebut suku kapauku yang pertama ketemu dengan para misionaris katolik di Kokonau, adalah "Auki Tekege", saat itu beliau ketemu dengan para pastor di salah satu pesisir pantai di antara Kokenao dan Kaimana, saat itu lagi "Auki Tekege" dan istrinya cari kulit bia sebagai alat pembayaran (sekarang uang), itulah kisah awal pertemuan antara orang pegunungan tengah Papua dengan orang asing dari Portugis dan Eropa.

Selanjutnya para misionaris mulai ekspedisi ke bagian pegunungan tengah bagian barat, baik melalui udara dan darat, akhirnya merka tiba di Enagotadi (sekarang ibukota kab.Paniai) sejak tahun 1938.

Selama tahun itu, danau Paniai menjadi bandaranya bagi para ekspeditor. Orang yang pertama kali mendarat pesawat Cessna milik MAF adalah Julius Wissel, dan Colijn, dan J.J.Dozy (penemu gresberg Papua), sejak tahun 1936.

Sehingga sampai saat ini, penyebaran injil baik katolik maupun Kristen telah bergerak sehingga mayoritas orang asli Papua telah menjadi orang-orang kristiani. Namun, bukan hanya Kristen, di sekitaran Fakfak dan Raja Ampat sebagian orang asli Papua yang menganut agama Islam, seperti keluarga salah satu tokoh Papua bernama Tal Al-hamid dari Fakfak.


Sejarahnya seperti demikian, berarti pemahaman Injil firman Allah sudah dewasa di Papua dan tentu orang asli Papua sudah pahami benar dalam kehidupan mereka, tinggal diaplikasikan dalam kehidupan nyata di bumi, sebelum meninggal. Oleh sebab itu, kali ini saya meletakan judul "Isi alkitab itu firman Allah yang perlu Diaplikasikan dalam realitas hidup orang asli Papua".

2. Papua Punya Banyak Teolog dan Umat

Setelah masuknya ajaran Kristen dari benua Eropa dan Amerika, orang asli Papua telah menjadi pengikutnya dalam sepanjang hidup mereka. Dan itu telah menjadi sebuah sejarah khusus dalam kehidupan umat beragama di Papua dari dulu, sekarang dan sampai selamanya.

Melalui misi Injil Kristen ini, banyak orang asli Papua menjadi penginjil yaitu Pastor, Pendeta, Gembala, Majelis Jemaat bahkan ribuan umat. Di samping itu banyak pula yang menjadi teolog-teolog kristen (kelompok yang mempunyai pengetahuan teologi) mulai dari sarjana teologi, magister teologi, doktor teologi bahkan kebanyakan orang asli Papua yang belajar sampai bergelar doktor di luar teologi (ilmu lain) tetapi karakter dan sifatnya teolog Kristen benar.

Namun, setelah Papua dicaplok ke dalam Indonesia sejak tahun 1969 melalui (PEPERA) sampai saat ini, dalam sekolah teologi itu di Indonesia memberikan gelar teologi kepada orang Papua yang belajar teologi tanpa mengikuti prosedur kuliah yang benar (sekolah teologi bisnis). Jikalau seperti begini, mau taruh di mana aplikasi isi firman Allah yang kontekstual di Papua secara nyata itu ?

Hari ini, kasihan setiap teolog kristen di Papua masih menari-nari di atas mimbar, dan para pekerja jembatan iblis juga ikut menari-nari di atas mimbar secara ramai, yang bertujuan untuk mencari surga yang kekal. Pada hal mereka tidak sadar bahwa, mereka lagi rajin memberikan pupuk kepada iblis (pengacau) manusia melalui ibadah gaya lama.

Maksudnya bahwa beribadah itu sangat penting tetapi perlu ada aplikasi isi firman Allah yang dipahami itu dalam kehidupan di dunia Papua secara nyata juga, sambil mempelajari dan merenung teori isi Alkitab itu. Soalnya lagi jikalau para teolog Kristen berkelakuan begini tentu pengikutnya (umatnya) juga akan berkelakuan seperti ini, sementara sesama yang lain di luar sana sedang menangis karena rumah mereka, tanah mereka, pulau mereka, air mereka, hutan mereka di rampas bahis-habisan (dicuri dan dikuasai) oleh orang lain (bangsa asing). Pada hal mereka yang menderita adalah sanak saudara kalian dan bagian dari darah kalian yang selayaknya kalian bersuara sebagai bagian dari suara kenabian.

3. Orang Papua Masih Belajar Firman Allah

Kita (orang asli) Papua masih belajar firman Allah di sini, simbol-simbol kekristenan dan katolik masih ada secara rapih di sini. Semuanya kita masih rawat baik dalam setiap gereja, ruangan tamu, kamar tidur bahkan tempat umum. Namun, kita tidak melihat dan tidak sadar benar dengan visi dari isi firman Allah itu dinyatakan di dalam realitas hidup manusia yang lagi kacau - balau ini. Berikut ini kunci dari firman Tuhan, yaitu :

Tuhan berkata : 1) "Kasihlah Tuhan Allahmu dengan segenap hati", 2) "Kasihlah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", 3) "Setelah itu engkau akan hadirkan kerajaan Allah dalam dirimu", (Menurut penafsiran saya : kasih yang dimaksud adalah kasih pembebasan di dunia nyata, dan kasih pembebasan di akhirat, alias kasih agape).

Kata Yesus Kristus : 1) "Kerajaan Allah tidak dapat dilihat, bahwa dia ada di sini atau dia ada di sana, tentu kerajaan Allah ada dalam dirimu", 2) "Tubuhmu adalah bait Allah, Ka'bah Allah Gereja", menurut penafsiran saya,  kalau demikian jagalah tubuh kita, hargailah tubuh kita, jangan saling membunuh antara kita (orang Papua) janganlah benci, dan janganlah bisik sana-bisik sini, lalu rapatkan barisan untuk menghadirkan kerajaan Allah dalam tubuhmu dan Papua kita, lalu tunggu yang kerajaan kekal sesacara pribadi.

Konsep dan penafsiran itulah yang saya tanggap selama ini dalam firman Tuhan yang perlu aplikasikan dalam kehidupan secara nyata dulu di bumi demi menegakkan kebenaran, keadilan dan kejujuran, kemudian akan menyusul yang abadi secara pribadi.

Pribadi saya tidak suka sekali kalau orang berkotbah banyak hanya fokus pada ayat-ayat yang tertulis dalam Alkitab lalu hafal mati-matian. Bagi saya gaya khotbah model ini, gaya lama seperti ketika misionaris awal berhadapan dengan orang tua kita untuk membangun konsep dongkrit biar mereka rajin ikut ibadah. Tetapi, bagi saya sekarang tidak boleh ada lagi model khotbah ini. Sedangkan saya pribadi suka sekali, kalau orang berkhotbah ayat-ayat Alkitab dikaitkan dengan realitas hidup umat hari ini (kontekstual) dalam khotbah seperti ini, kita Papua punya beberapa teolog Kristen yang selalu lakukan dan cara mereka ini perlu ditiruh seperti Gembala Dr.Socrates S.Yoman, Pdt.Sherly Lesnusa, S.Th, Pdt.Dorman Wanikbo, Gembala Dr.Benny Giay, Pater Dr.Neles Kebadabi Tebai, Pdt.Dr.Phil Erari, dll.

Umat manusia Papua juga harus dengar dan ikuti seperti para bapak teolog Papua yang tersebut diatas, dan kemudian generasi muda ini, gaya penafsiran, pemahaman dan keyakinannya jangan seperti ketika misionaris awal tiba di Papua. Pemahamannya harus modern lalu perlu bangun "Gerakan Teologi Pembebasan Berdasarkan Mesianis Budaya Papua" sebagai bagian dari aplikasi teologi kontekstual, bila di bangun Gerakan itu, tentu Tuhan akan senyum, lalu ia akan mendekati kita menuju tanah harapan, tanah yang bebas baik secara rohani dan jasmani di bumi ini.

Harapan kita (orang Papua) secara bersama adalah ingin mau menuju tanah harapan, tanah yang bebas, tanah perjanjian, maka kita perlu melakukan satu gerakan pembebasan yaitu "gerakan teologi pembebasan Mesianis budaya Papua" demi masa depan Papua yang lebih baik.

Demikianlah tulisan singkat ini saya bagikan di Media Social (MEDSOS.) Meskipun ada penjelasan yang lebih panjang tetapi, sementara cukup disini dulu. Selamat membaca dan semoga bermanfaat (Kabarmapegaa.com)

 

Penulis adalah mahasiswa Papua yang sedang menempuh ilmu kebumian ditanah Jawa.

 

Baca Juga, Artikel Terkait