AMP: Segera Cabut Status Tersangka Veronica Koman

Cinque Terre
Manfred Kudiai

10 Hari yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Gambar ilustrasi Veronica Koman

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mendesak segera cabut status tersangka Veronica Koman sebab dinilai  kepolisian setempat telah melakukan diskriminasi terhadapnya.

 

Sebelumnya, aktivis HAM, Koman, ditetapkan sebagai tersangka dengan klaim menyebarkan hoax dan provokasi di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya oleh Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Luki Hermawan pada Rabu (4/9/2019) kemarin. 

 

Melalui liris yang kabarmapegaa.com terima, sekertaris Umum II AMP Pusat, Albert Mangguar mengatakan penetapan tersangka kepada Koman oleh Polda Jawa Timur itu tidak berdasarkan alasan jelas.

 

Albert desak segera dibebaskan tanpa syarat.

 

“Penetapan itu justru membenarkan tindakan penangkapan sewenang-wenang 5 aktivis Mahasiswa Papua dan 1 aktivis Demokrasi Indonesia, Juru bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua, Surya Anta, dan penangkapan 46 Warga pendemo anti Rasisme di Timika, juga pembatasan penyampaian pendapat dimuka umum oleh Negara melalui Maklumat Polda Papua,” jelas Mangguar melalui liris AMP, Jumat (6/9//2019).

 

Lanjutnya, Polri dan Menkom Polhukam, saat ini, sibuk mengurusi pengiriman militer ke Papua serta melakukan penangkapan dan kriminalisasi aktivis. Sementa operasi-operasi militer sedang berlangsung di Distrik Gome, Puncak Papua dan di Deiyai sejak awal Bulan Agustus 2019 telah menelan banyak korban. Sementara 40 ribu warga Nduga masih mengungsi di hutan akibat operasi militer sejak awal tahun 2019. Lebih dari 180 an lebih mengungsi. Ini lah situasi darurat di Papua. Situasi darurat ini sulit diakses oleh karena pembatasan internet dan akses jurnalis ke Papua. 

 

Sementara, Sekertaris AMP Umum I, Dorlince Iyowau mengatakan, Negara TNI/Polri tidak tegas terhadap pelaku pelanggar HAM, pelaku pengepungan Asrama Papua dan pelaku rasis. Terkesan negara melindungi pelaku kejahatan.

 

“Apa yang disebarkan oleh VK adalah benar adanya. Kami merasakan teradvokasi ketika kenyataan pengepungan dan perlakuan rasis kami hadapi itu disebarkan kepada publik dan sejak itu banyak solidaritas datang.” Jelas Dorlince, korban perlakuan rasis (16-17/8//2019). 

 

Penangkapan dan kriminalisasi oleh Polisi Indonesia bermotif upaya menyembunyikan kekerasan dan pelanggaran HAM yang berkepanjangan di West Papua. Ketua Umum AMP, Jhon Gobai mengatakan, suara-suara pembelaan dibungkam, di penjara oleh negara untuk mempertahankan penindasan terhadap rakyat West Papua.

 

Berdasarkan itu, AMP menuntut kepada Pemerintah Jokowi, Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur, (1). Polda Jawa Timur segera tarik status tersangka aktivis HAM, Veronica Koman atas klaim tak berdasar. (2). Segera bebaskan 6 aktivis tanpa syarat.(3). Mengutuk tindakan pemeliharaan terhadap para pelaku rasis dan represif, serta pelaku pelanggar HAM oleh Negara. Segera tangkap dan Adili. 

 

(4). Kepolisian Indonesia segera siapkan ruangan tahanan lebih luas. Mahasiswa dan Rakyat Papua akan penuhi penjara, mulai dari setiap kota hingga Polda Metro Jaya. Kami akan dobrak pasal Makar, Maklumat Polda Papua, dan segala bentuk penjajahan lainnya: termasuk, rasisme, diskriminasi, dan kriminalisasi.[*]

Baca Juga, Artikel Terkait