Anggota Polisi Pukul Masyarakat Hingga Tewas, Ini Sikap 11 Organisasi

Cinque Terre
Manfred Kudiai

16 Hari yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Foto Korban Marius Betera. Ist

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com—Marius Betera hembuskan nafas terakhir karena dipukul atau dilakukan kekerasan fisik oleh seorang  anggota kepolisian Republik Indonesia atas nama Brigadir Polisi Melkianus Yowei. Perstistiwa tersebut terjadi pada Sabtu, 16 Mei 2020, pukul 13 siang lebih di kampung Asikie,  Kabupaten Boven Digoel.

 

Kejadian tersebut  berawal dari adanya Perkebunan Kelapa Sawit  PT.  Tunas Sawa Erma, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua yang beroperasi sejak 40 tahun lalu sampai sekarang.

 

“Kejadian ini terjadi ketika adanya pembukaan lahan kelapa sawit baru di area milik Marius. Pihak perusahan melakukannya dengan menggusur masuk dan mengambil alih arela kebun Marius tanpa ada ijin dari Marius,” tulis laporan yang diterima Kabar Mapega, (18/5).

 

Ditulis lagi, “Karena tidak terima, Marius pergi ke kantor administrasi perusahan camp 19 dan menghadap pihak perusahan. Marius datang dengan membawa anak panah. Karena pihak perusahan melihat ini langsung melapor polisi.”

 

Pihaknya menjelaskan, Polisi langsung datang ke camp 19 dan melakukan pemukulan kepada Marius tanpa ada negosiasi dan kordinasi hingga Marius tak bernyawa di tempat.

 

Menanggapi kejadian ini, berikut isi pernyataan sikap dan laporan kronologi lengkap yang ditandatangani oleh 11 organisasi:

  1. Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke,
  2. Yayasan Pusaka Bentala Rakyat ,
  3. Greenpeace Indonesia,
  4. TAPOL, UK, 
  5. PapuaItuKita, 
  6. Eksekutif Nasional Walhi,
  7. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Papua,
  8. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua,
  9. LP3BH Manokwari,
  10. Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (ELSAM),
  11. Lembaga Advokasi Peduli Perempuan (ElAdpper)

 

Pernyataan sikap:

 

Usut  Tuntas Kekerasan di  Perkebunan Kelapa Sawit  PT.  Tunas Sawa Erma, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua

 

Pada  tanggal  16  Mei  2020,  terjadi  kekerasan  fisik  yang  dilakukan  seorang  anggota kepolisian Republik Indonesia atas nama Brigadir Polisi Melkianus Yowei (MY) terhadap warga sipil orang Asli Papua (OAP) bernama Marius Betera (MB), hingga meninggal dunia. Lokasi kejadian kekerasan bertempat di kantor perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Tunas Sawa Erma (TSE) POP (Plam Oil Plantation) Blok A atau sering disebut PT TSE POP A/ Camp 19, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

 

PT. TSE POP A merupakan salah satu anak perusahaan PT Korindo Group. Perusahaan Korindo Group memiliki bisnis perkebunan kelapa sawit skala besar melalui 6 (enam) anak perusahaan  dan  dua  perusahaan  pembalakan  hasil  hutan  kayu,  serta  satu  perusahaan hutan tanaman industri, yang beroperasi di wilayah pemerintahan Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. 

 

Berdasarkan informasi yang himpun dari pihak keluarga dan saksi-saksi. Pada awalnya korban MB mendatangi kantor PT TSE POP A di KM 19 dengan tujuan mengadukan penggusuran kebun pisang yang ditanam korban. Pihak PT TSE kemudian menghubungi pelaku untuk datang ke kantor hingga terjadi kekerasan terhadap korban. Pelaku MY melakukan pemukulan terhadap korban MB, hingga mengakibatkan korban kesakitan dan akhirnya  korban  MB  tidak  sadarkan  diri  beberapa  jam  setelah  kejadian  kekerasan. Terlampir  informasi  kronologis  yang  disusun  berdasarkan  keterangan  saksi-saksi  dan keluarga korban. 

 

Kami menilai perusahaan PT. TSE POP A telah melakukan penggunaan pendekatan keamanan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi dan dilakukan dengan cara kekerasan, dibandingkan melakukan musyawarah mencari penyelesaian terbaik kepada pihak korban yang merasa dirugikan. Praktiknya, pendekatan keamanan berujung dengan tindakan kekerasan kepada masyarakat lemah. Pendekatan keamanan ini kerap kali digunakan perusahaan besar diberbagai tempat untuk menekan masyarakat, buruh dan Pembela HAM Lingkungan. 

 

Tindakan pelaku sebagai aparat kepolisian yang membantu PT. TSE telah menyalahi tugas dan fungsinya sebagai aparat kepolisian. Berbagai peraturan perundang-undangan telah mengatur dan membatasi peran, tugas dan fungsi kepolisian Republik Indonesia secara ketat dalam melakukan pencegahan, penegakkan pelanggaran hukum pidana. Berdasarkan informasi  dari  masyarakat  pelaku  bukan  anggota  kepolisian  yang  bertugas  di  wilayah Distrik Jair dimana perusahaan berada. Tindakan pelaku terlibat membantu PT TSE adalah pelanggaran serius yang harus segera diusut. 

 

Tindakan  pelaku  melakukan  kekerasan  terhadap  korban  merupakan  tindak  pidana  yang harus dipertanggungjawabkan pelaku di depan pengadilan. Pelaku dapat diancam melakukan tindak pidana penganiayaan hingga mengakibatkan meninggalnya seseorang hingga pembunuhan terhadap seseorang.  

 

Kami   meminta   pimpinan   Kepolisian   Daerah   Provinsi   Papua   dan   Kepolisian   Resor Kabupaten Boven Digoel, untuk melakukan tindakan tegas segera menangkap pelaku dan menegakkan proses hukum melalui sidang etik kepolisian dan proses di pengadilan umum, serta memberikan sanksi yang seadil-adilnya.

 

Kami juga meminta pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah daerah Kabupaten Boven Digoel untuk segera mengevaluasi keberadaan aktifitas perusahaan PT. Tunas Sawa Erma POP A dan keberadaan perusahaan-perusahaan besar di wilayah tersebut untuk menghentikan kerjasama keamanan dengan pihak aparat TNI dan Polri, patuh kepada peraturan perundangan-undangan yang berlaku, menghormati hak-hak masyarakat adat. Pemerintah daerah harus melakukan tindakan tegas kepada perusahaan yang melakukan pelanggaran dengan memberikan sanksi-sanksi tegas mulai dari pencabutan izin hingga pemulihan hak-hak masyarakat adat yang telah dilanggar. 

 

Kepada  pihak  masyarakat  dan  pihak  keluarga  yang  berduka  untuk  tetap  konsisten  dan tidak takut untuk menegakkan keadilan bagi korban dan masyarakat.  Demikian pernyataan sikap ini disampaikan, untuk dapat disebarluaskan. 

Merauke, 17 Mei 2010  

 

Berikut Kronologi Lengkapnya  

 

Sabtu, 16 Mei 2020, sekitar pukul 09.00 am waktu Papua

  • Korban bernama Marius Betera dan anak perempuan pergi menengok kebun yang terletak di areal Camp 19 perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Tunas Sawa Erma POP (Palm Oil Plantation) Blok A. 
  • Namun korban menemukan kebun yang ditanam pisang dan sebagainya, sudah digusur dan diduga penggusuran  dilakukan oleh alat eksavator milik perusahaan (PT.TSE), yang berlangsung pada hari sebelumnya.
  • Korban lalu pergi kembali ke rumah dan selanjutnya pergi ke Kantor Polisi Pos  Camp 19, tujuannya untuk mengadukan permasalahan ini, namun korban tidak bertemu Kapolpos, yang sedang keluar kantor. 

 

Sekitar Pukul 10.00 am waktu Papua

  • Korban kembali ke rumah (Barak E Nomor 11), lalu pergi melanjutkan perjalanan ke kantor Camp 19 tujuannya untuk mengadukan permasalahan ini ke pihak perusahaan. 
  • Pada areal kantor di dalam dan luar kantor, ada karyawan dan petugas security. Korban bertemu Pak Andi (Manager Pengawasan) dalam ruangan kantor umum dan menyampaikan keluhan tentang masalah penggusuran kebun pisang yang dilakukan tanpa ada himbauan dan informasi kepada warga. “Biasanya, perusahaan mengeluarkan informasi himbauan kepada warga pemilik kebun, jika sedang ada pembersihan lahan dan kebun baru, maka warga diminta melakukan panen dan mengumpulkan hasil, tapi ini tidak diketahui korban. Hak warga untuk mengambil hasil dirugikan. Korban marah dan menuntut ganti kerugian”, cerita korban kepada Saksi. 
  • Saat korban mengadukan permasalahan ini, diduga pak Andi menghubungi anggota polisi setempat bernama M (Melki).
  • Ketika korban hendak meninggalkan Andi, seorang polisi M dengan membawa senjata, tiba-tiba melakukan pemukulan terhadap korban, pada bagian batang leher dan bagian belakang telinga sebanyak 4 (empat) kali dan menendang perut korban. Menurut Saksi, korban merasa kesakitan pada bagian batang leher dan telinga, korban sempat memasukkan jari telunjuknya ke dalam telinga dan menunjukkan ada darah diujung telunjuk.
  • Korban sempat meminta Polisi M untuk menghentikan perbuatannya. Kejadian kekerasan ini disaksikan Andi, anggota security perusahaan (bernama Andi) dan karyawan.
  • Menurut informasi, M pernah bertugas di Polpos Camp 19 PT. TSE. Tahun 2019, warga camp 19 protes keberatan atas kejadian kekerasan yang dilakukan M terhadap perempuan tua (isteri AK) pada tahun 2019, sehingga M dipindahkan ke Polres Tanah Merah. Namun M masih sering berkunjung ke Camp 19, karena ada isteri yang bekerja sebagai guru SD di Camp 19 dan masih berada diareal kantor PT. TSE POP A;
  • Korban yang hendak pulang dan mengambil alat busur panah dan parang miliknya sejak yang ditinggalkan diluar kantor, namun Polisi M dan petugas Satpam mengancam dan merampas paksa alat busur panah dan parang milik korban. Korban kembali ke rumah;

 

Sekitar Pukul 11.00 am waktu Papua

  • Korban pergi ke Kapolpos di Camp 19 untuk mengadukan permasalahan dan kasus kekerasan yang dialami. Menurut Saksi, korban menyampaikan hendak bertemu Kapolsek menuntut perusahaan menggantikan kerugian karena penggusuran dan denda terhadap Polisi M karena melakukan kekerasan.
  • Korban tidak bertemu Kapolpos karena sedang istirahat dan kembali ke rumah.

 

Sekitar Pukul 01.00 pm waktu Papua

  • Korban merasa tidak enak badan, lalu menggunakan motor pergi ke Klinik PT. TSE di Camp 19 untuk periksa, ketiba tiba di pos security, korban tidak bisa mengendalikan tubuh dan jatuh. Korban dibawa ke dalam klinik dan meninggal dunia. 
  • Hingga malam ini, korban MB masih berada di Klinik PT. TSE. Keluarga masih menunggu keluarga orang tua dan kakak dari Tanah Merah untuk membicarakan tuntutan dan langkah hukum.

 

Minggu, 17 Mei 2020

  • Keluarga korban (Okto Betera), menyampaikan permintaan dan tuntutan, yakni: (1) Pihak Kapolres memecat menghentikan pelaku M dan disaksikan keluarga; (2) Pihak Perusahaan memecat menghentikan Manager Pengawasan dan petugas security yang membiarkan terjadinya kekerasan; dan menuntut denda adat.

 

Informasi tambahan:

  • Jenasah MB rencana akan dikuburkan di kampung daerah Mandobo, Tanah Merah
  • Korban MB pernah menjadi petugas security perusahaan PT. Tunas Sawa Erma (TSE) POP A. Bulan Agustus 2019, MB mengundurkan diri sebagai security PT. TSE POP A.

 

Pewarta: Manfred Kudiai

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait