Apakah benar Frans Kaisiepo Tokoh Kebangsaan Indonesia Dari Irian sekarang Papua

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

3 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Mata uang sepuluh ribuh "Frans Kaisiepo"-steemit

 

 

Oleh : Surya Darwin,

Artikel, KABARMAPEGAA.COM--Frans Kaisiepo dilahirkan di Wardo, Biak Papua pada 10 oktober 1921. Pada umur 57 tahun Ia wafat di Jayapura Papua pada 10 April 1979 dan dimakankan di taman makam pahlawan Cendrawasih Jayapura Papua.

 

Frans Kaisiepo juga sebagai putra asli Papua dari pulau Biak, beliau beragama kristen Protestan dan yang pernah belajar dan diajar oleh guru-guru Misionaris Kristen pada zaman Pemerintahan Netherland New Guinea.

 

Pendidikannya diawali dan belajar pada Sekolah Dasar Yayasan Kristen Protestan di Biak sejak tahun 1930-an.

 

Frans Kaisiepo juga selama berpendidikan, beliau pahami dan berfasi berbahasa Belanda dan berbahasa Melayu serta orang yang satu-satunya yang sudah diperhitungkan oleh pemerintahan Belanda maupun pemerintahan yang baru diperjuangkan yaitu Negara Indonesia Timur.

 

Beliau juga satu-satunya orang Papua yang bisa diandalkan dalam kepentingan antara pemerintahan Negara Belanda maupun orang Indonesia Timur yang lagi bekerja dalam sistem pemerintahan Belanda yang bertugas di Maluku dan Papua.

 

Pada hal selama beliau proses studi tak pernah memikirkan tentang apapun yang beliau akan memperjuangkan untuk bangsa Papua maupun bangsa Indonesia Timur.

 

Namun, hanya karena kondisi dan situasi saat itu terjadi perang dunia ke-2, untuk membangun kepentingan antara Negara-negara blok barat dan blok timur, sehingga beliau terjebak dan diikut sertakan dalam kepentingan-kepentingan pemerintahan Negara Belanda maupun kepentingan Negara bangsa Indonesia Timur yang waktu itu lagi diperjuangkan untuk merdeka.

 

Selain beliau, adapula saudara-saudara dalam sekeluarga juga adalah bangsawan saat itu di kepulauan Biak (Byak), sehingga soal tingkatan pendidikan dalam keluarga Frans Kaisiepo selalu diajar dengan benar oleh Pemerintahan Netherland New Guinea, seperti; Markus Wonggor Kaisiepo dan Viktor Kaisiepo, beliau dua ini sangat terkenal dalam perjuangan Papua Merdeka.

 

Kedua saudaranya ini adalah ujung tombak perjuangan Papua Merdeka tanpa Indonesia dan tanpa Belanda, maka sebenarnya Frans Kaisiepo juga hanya terlibat dalam perjuangan kepentingan Negara Indonesia Timur dan belanda karena kondisi dan situasi perang dunia ke-2 dan perang dingin antara blok barat dan blok timur.

 

Dalam sepanjang situasi dan kondisi di kawasan Asia dan Pasifik yang lagi perang sehingga beliau ini juga, telah mengikuti berbagai kegiatan dalam pertemuan-pertemuan dalam perjuangan Pembentukan Negara Indonesia Timur.

 

Indonesia harus tahu bahwa dia (Frans Kaisiepo) hanya ikut pada beberapa kegiatan yang dilakukan  dalam barisan perjuangan pembentukan Negara Indonesia Timur, yang pada akhirnya Belanda mengakui menjadi Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 27 Desember 1949 di Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Belanda.

 

Beliau seorang pencetus nama Netherland New Guinea, menjadi “Irian” dalam bahasa Biak yang artinya; “tempat yang panas”. Nama itu beliau usulkan saat dilaksanakan Konfrensi Malino tahun 1946, di Sulawesi, yang lagi dilaksanakan kegiatan pembahasan pembentukan Negara Indonesia Timur.

 

Namun, pada akhirnya, selama terjadinya proses senketa “Irian Barat” antara Belanda dan Indonesia, maka oleh para pro-Indonesia, termasuk beliau mengadopsi menjadi “Ikut Republik Indonesia Anti Netherland”.

 

Beliau juga pernah menjadi gubernur Propinsi Irian Barat ke-2, sejak tahun 1964-1973 (zaman Soekarno-Soeharto).

 

Saat beliau lagi menjabat gubernur beberapa periode, beliau ini seorang Papua yang sangat diperhitungkan oleh pro-Indonesia, dan selama itu juga terjadi masalah besar antara Indonesia dan Belanda soal status Pulau Irian (Sekarang : Papua).

 

Namun, karena pemerintah Negara Indonesia memperhitungkan beliau ini sebagai orang Irian Barat yang satu-satunya dalam perjuangan Papua dari tangan penjajahan Belanda, sehingga akhirnya Penentuan Nasip Sendiri Bagi Papua digagalkan oleh Negara Indonesia selama beliau menjabat gubernur Propinsi Irian Barat.

 

Tetapi, saat itu pemerintah yang dipimpinnya itu transisi yang beribu kota Soa-Sio di Maluku ke Jayapura, oleh karena saat itu Papua masih dikuasai oleh Pemerintahan Netherland New Guinea, yang sedang mempersiapkan Penentuan Nasip Sendiri Bagi Bangsa Papua, dan terjadi persoalan antara Indonesia dan Belanda di tingkat Internasional.

 

Pada akhirnya perjuangan beliau selama beliau menjabat sebagai gubernur Irian Barat selama beberapa periode, sehingga Papua sudah menjadi salah satu Propinsi Otonom dari Negara Indonesia yang disahkan melalui Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 yang penuh manipulatif karena dibawah cenkraman kekuatan militer Indonesia. Oleh, Karena proses itu telah lalui maka pemerintah Negara Indonesia memberikan beberapa jasa kepada beliau sebagai seorang pahlawan Nasional Indonesia.

 

Sebagai penghargaan Negara kepada beliau sebagai seorang Pahlawan Nasional Indonesia adalah, yaitu; nama bandara Internasional Biak, yaitu bandara Frans Kaisiepo, KRI Frans Kaisiepo (Kapal Republik Indonesia, TNI angkatan laut Frans Kaisiepo), dan pada masa presiden Jokowi Dodo – Jusuf Kalla, yaitu pada 19 desember 2016, dia diabadikan dalam mata uang kertas Rupiah Negara Indonesia pada pecahan 10.000,00. Namun, sayang ketika salah satu pegawai Politik di Istana Presiden Indonesia (namanya : Ummi Fatimah) sebut mengapa gambar Monyet ini taru di Mata uang ini, kalimat inilah yang beliau dapat ucapan kebencian "rasis".

 

Pada 19 desember 1961 adalah hari TRIKORA, yaitu hari yang Presiden Soekarno berpidato untuk merebut Irian Barat dan membubarkan Negara Irian Barat, di alun-alun, Yogyakarta. Hasil perjuangan beliau dan barisannya yang pro dengan Negara Indonesia sehingga Papua sudah menjadi satu Propinsi dari Indonesia, mulai sejak tahun 1969 hingga saat ini.

 

Jadi, saya menyimpulkan bahwa sebenarnya "beliau (Frans Kaisiepo) itu tidak pantas disebut "Pahlawan Nasional Indonesia" Ya kalau disebut Pahlawan Pembentukan Negara Indonesia Timur dalam konteks Negara Indonesia Serikat (NIS) boleh dan pantas, soalnya beliau tidak pernah berjuang yang namanya Indonesia Merdeka.

 

Penulis adalah pembaca buku sejarah Papua dan Indonesia, yang tinggal di tanah Jawa.

#Pemerintahan

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait