Apakah Layak Dikatakan Kurangnya Gizi Bagi OAP?

Cinque Terre
Alexander Gobai

6 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Stepanus Pigai *)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com – Korban balita dan anak di Papua "katanya" Kurang Gizi. Apakah? Sumber konsumen yang hari-hari orang Papua (anak dan balita) komsumsi dari hasil makanan lokal, itu tidak mempunyai gizi yang dapat memberikan pada kebugaran tubuh?

 

Saya anak Papua dan pernah mengkomsumsi makanan lokal yang hidup di alam Papua, dari bentuk makanan apapun mempunyai gizi yang berlimpah dan saya hidup sehat dari sumber makanan alam Papua. Nyatanya saya masih hidup hingga kini ada namun, apa penyebabnya akhirnya berturut-turut korban balita dan anak secara massal, soal dampak lingkungan dan lain sebagainya itu bukanlah penyebabnya, karena secara logika alam Papua masih memberikan kehidupan yang baik entah itu disisi tumbuh-tumbuhan yang bersifat bisa dikomsumsikan hingga sampai tidak.

 

Dari semuanya mempunyai energi yang dapat memberikan gizi bagi tubuh manusia, karena alam Papua masih memberikan energi dan gizi melalui udara yang dapat kita hirup, melalui makanan lokal atau makanan khas masing-masih dari setiap suku di Papua, dan saya percaya dengan konsumsi makanan local atau khas orang Papua mendapatkan gizi alaminya, sehingga secara organ tubuh selalu sehat dan kuat dalam menjalankan aktivitasnya, hingga bertumbuh secara normal dalam tahapan usia balita dan anak.

 

Heran, ketika banyak media cetak, online, elektronik dan apapun bentuk tulisan, beramai-ramai katakan bahwa korban massal terhadap anak dan balita yang sedang terjadi Asmat dan beberapa daerah lain di Papua itu di akibatkan oleh "kurang gizi". Yang menjadi pertanyaan yang harus kita ketahui bahwa, apa itu benar? Ataukah masih menjadi membingungkan dari kejadian yang terjadi terjadi ini, karena kita lihat bahwa alam Papua begitu kaya dan soal kebutuhan ekonomi sehari-hari sangat menonjol, ataukah di bilang kurang gizi karena masyarakat setempat kekurangan bahan kebutuhan alam yang ada namun karena masyarakat konsumsi beras bulog dan barang dagangan lainnya dan akhirnya habis maka di katakan anak maupun balita terkena penyakit dan kurangnya gizi, itu layak dikatakan, ataukah pemerintahan kurang perhatikan bagi masyarakat setempatnya dan pelayanan kesehatan yang kurang bagi kesehatan akhirnya di katakana gizi buruk bagi rakyat setempatnya? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bahan refleksi bagi setiap instansi pemerintahan setempatnya.

 

Siapa salah, mulailah pemerintah berkoar-koar, selama ini pemerintah daerah kemana? Peratian pemerintah terhadap rakyatnya sejauh mana, sebelum kejadian itu terjadi, apa pemerintah hanya menghilang ketika dana OTSUS dan lain-lain sudah dalam kantunnya? Maka, dari korban massal yang terjadi ini dapat bisa dikatakan bahwa, suatu pembunuhan yang dilakukan oleh pemerintahan, karena dipertimbangkan dari berbagai pertanyaan yang tidak diperhatikan oleh pemerintah sebelum semua terjadi.

 

Kasus korban anak dan balita yang sedang terjadi di Kab. Asmat dan Kab. Yahukimo hingga beberapa wilayah di Papua ini, pernah juga terjadi di beberapa daerah beberapa tahun sebelumnya; seperti kasus Kab. Dogiyai pada 06 April 2008. Maka, awal secara medis katakan kurang gizi, namun jelang beberapa minggu kedapatan bahwa itu satu firus buatan manusia, hal itu nyata terbukti ketika tertangkap seorang dari yang menyebarkan firus, akhirnya terbukti bahwa suatu kelompok yang punya kepentingan dan kelompok organ yang menjalankan misi demi kepentingan kekuasaan ekonomi hingga upaya untuk menghabiskan orang Papua.

 

* Penulis adalah Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Surabaya

 

Editor: Frans Pigai

Baca Juga, Artikel Terkait