Apakah Program SDM Papua melalui Jalur Penitipan Mahasiswa Papua di Indonesia Efektif?

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Tahun yang lalu
TULISAN

Tentang Penulis
Luis Keroman. Ist.

 

Oleh, Luis Keroman)*

 

OPINI, (KM)--Dengan gencarnya pengiriman siswa ke luar negeri, penulis sebagai orang yang pernah menerima kesempatan sebagai pemerima beasiswa ini. Saya sudah pernah berfikir bahwa dalam pemberian beasiswa Otonomi Khusus (Otsus) Papua kepada siswa/i Papua merasa kecewa sehingga pentingnya pengkajian ulang dalam program pengiriman siswa/i Papua baik itu dalam negeri maupun luar negeri karena selama ini penulis melihat bahwa ada banyak sekali masalah yang didapati oleh siswa/i itu sendiri sehingga penulis menyarangkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua pentingnya untuk melakukan sebuah evaluasi dalam pemberian beasiswa Otsus itu sendiri.

 

Dengan fakta diatas, penulis ingin menulis agar nantinya akan ada sebuah evalusiasi oleh Pemprov Papua dalam pemberian beasiswa Otsus kepada siswa/i Papua agar siswa/i Papua dapat melanjutkan pendidikan mereka sesuai dengan jurusan yang mereka mau bukan sebaliknya.

 

Semenjak dilantiknya Gubernur Papua Lukas Enembe tahun 2014, beliau telah banyak melakukan terobosan baru dalam program kerjanya. Dari banyaknya program itu, salah satu misi kerja Pak Lukas Enembe adalah pemberian beasiswa Otsus kepada siswa/i Papua untuk kuliah baik dalam negeri maupun luar negeri. Siswa/i yang beliau kirim adalah sudah mencapai 700 siswa/i baik itu kuliah dalam negeri maupun luar negeri mulai dari tahun 2014 sampai dengan sekarang. Beliau kasih kesempatan untuk menyelesaikan kuliah mereka baik itu S1, S2 dan S3 kepada anak mudah Papua dengan mengunakan beasiswa Otsus karena massa depan Papua adalah ditangan mereka. Apalagi mereka adalah tulang punggung pemimpin-pemimpin Papua di massa yang mendatang sehingga Pak Lukas membeikan kesempatan kepada siswa/i untuk menyelesaiakn pendidikan baik itu jenjang S1, S2 dan S3 melalui program beasiswa otsus itu sendiri.

 

Kita sudah mengetahui bahwa Visi dan Misi Pak Lukas Enembe dan Klemen Tinal selama massa kepemimpinan mereka dua  adalah Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera. Visi dan Misi ini menunjukan bahwa dengan mengirim anak-anak yang mampu untuk bersaing dengan siswa/i lain baik itu mahasisa dari dalam negri maupun luar negeri sehingga dengan prestasi mereka diluar, Papua dianggap telah bangkit dari segi pendidikan dan ini menunjukan bahwa Papua nantinya akan mengokohkan posisi orang-orang Papua mulai mandiri dan jika terwujud maka kesejahteraan terhadap orang Papua akan terealisasikan. Dengan berpegang pada ide ini, beliau memprogramkan melalui dana otsus untuk anak-anak putra Papua di kirim ke luar negeri.

 

 Di awal masa jabatannya, anak-anak yang dapat kesempatan ke luar negeri membekali diri dengan bahas inggris di Manado, Makasar, Bali dan Jakarta dengan durasi waktu 4-6 bulan dan hasilnya banyak yang masuk di universitas di Amerika, Australia, Selandia baru dan Inggris. Siswa yang di kirim tahun 2015 dan 2016 akan selesai tahun ini 2019 dan 2020, ini adalah sebuah prestasi yang patut untuk di banggakan karena berhasil untuk meluluskan anak anak Papua di universitas luar negeri.

 

Dari keberhasilannya meluluskan anak Papua diluar negeri masih saja masalah yang dihadapi. Dan itu wajar saja, karena dalam kehidupan, sebuah keberhasilan tanpa kegagalan adalah sia-sia. Namun, jika kesalahan tidak di koreksi makanya itu akan menjadi duri dalam daging. Anehnya, dari banyak siswa yang di kirim ke luar negeri, hanya sedikit yang mampu untuk bertahan disana. Salah satu faktor yang mempengaruhi banyaknya siswa yang dipulangkan adalah karena siswa yang di program beasiswa tidak dapat memilih jurusan yang menjadi minatnya.

 

Contoh, Daniel Pagawak, siswa yang pernah mengenyam ilmu di SMK Negeri 1 Sentani, Jurusan Teknik bangunan gambar ini mengikuti program di JIC (Jakarta International college) yang sebelumnya bercita-cita menjadi Arsitektur karena memang backgroundnya dari jurusan tersebut namun harus pupus impiannya setelah dia diarahkan untuk memilih jurusan bisnis karena jurusan arsitek tidak di offer di kampus tersebut.

 

Ini adalah salah satu faktor dimana minat seseorang di buyarkan sehingga membuat siswa tersebut tidak bersemangat dalam menngikuti semua program yang di berikan. Jadi, banyak siswa yang pulang dan juga terpaksa keluar dari program beasiswa karena ingin menggapai cita-cita yang sudah di impikan sejak kecil karena mereka juga mengetahui jika bertahan di program maka mereka akan diarakan ke jurusan yang bukan minatnya.

 

 

Dengan melihat permasalaan yang terjadi, maka pihak pemerintah harus mencari solusi terbaik dengan cara bagaimana merealisasikan impian anak-anak Papua. Dari pantauan, banyak anak-anak yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri jika mereka di titipkan di pihak ketiga. Pemerintah menjalankan cara ini selama 2 tahun belakang ini. Dan hasilnya, banyak yang tidak berhasil untuk kuliah di luar negeri sedangkan mereka yang hanya dapat pembekalan bahasa inggris di Indonesia 3 tahun lalu berangkat ke luar negeri dan sudah di bangku kuliah. Lebih lanjut lagi, kunci sukses siswa yang berhasil keluar negeri didukung dua factor penting.

 

 Yang pertama, lingkungan yang supportive, artinya tempat dimana seorang siswa berada mendukung perkembangan bahasa asing dan yang kedua, mempunyai semangat yang tinggi karena jurusan yang ditujuh adalah minatnya. Dalam konteks ini, Pemerintah seharusnya bisa melihat keberhasilan anak anak tersebut dan melanjutkan pola tersebut. Disisi lain, Pemerintah juga harus jeli dalam melihat situasi. Keberhasilan seorang siswa/i dalam menyelesaikan studynya harus didukung oleh pemerintah. Namun faktanya,Pemerintah hanya menyiapkan dana dan herannya lagi yang tentukan seorang siswa keluar negeri atau tidak berada di tangan institusi tersebut bukan pemerintah, tutur Abet Kobak (salah satu siswa penerima beasiswa).

 

Lebih lanjut, beliau mengatakan, jika ini berlanjut terus maka siswa yang mengikuti akan di rugikan karena usia yang terus berlanjut sedangkan masih di level yang sama dan kemungkinan besar pemerintah juga di rugikan dalam hal finansial. Faktor lain menghambat kesempatan untuk bersekolah di luar negeri adalah hasil tes semacam score IELTS dan Credit di college yang diadakan pihak ketiga terlihat manipulative dan jika tes-tes tersebut nilainya tidak mencukupi, maka siswa tersebut akan bertahan di institusi yang sama. Artinya, pemerintah tambah budget untuk perpanjangan masa bakti seorang siswa di institusi tersebut.

 

Jadi, konklusinya adalah pemerintah harus mengevaluasi dan membuat program yang fair buat siswa/i dan juga pemerinta itu sendiri. Dan pemerintah harus kembali membuat program seperti beberapa tahun lalu yang mana siswa hanya di kirim beberapa kota di Indonesia untuk membekali mereka dengan bahasa asing dan diberangkatkan, karena hasilnya cukup berhasil dimana banyak siswa yang berhasil duduk bangku kuliah kalau di bandingkan dengan program penitipan seperti sekarang ini.

 

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Parwisata (Trisakti) Bintaro, Jakarta)*

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait