Aparat Hentikan Aksi Damai di Sorong, 10 Orang Massa Aksi Ditangkap

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

9 Bulan yang lalu
KABAR PAPUA BARAT

Tentang Penulis
Saat aksi penangkapan terhadap massa aksi di Jalan. berlangsung di areal kios Anda, Jl. F. Kalasuat-Malanu, kota Sorong. (Foto: Mando/Ist)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com—Gabungan aparat hadang massa aksi damai di Sorong,  Papua Barat.  Sepuluh Massa aksi ditangkap.  Aksi  damai  tersebut tujuannya  ke kantor walikota Sorong, Namun  langsung di hentikan oleh aparat kepolisian, dengan alasan tidak memiliki surat ijin aksi. Rabu, (18/9/2019).

 

Monda Fildan dari Komunitas Kaki Abu mengakui kejadiaan itu. Dirinya menjelaskan kepada Kabar Mapegaa, bahwa massa aksi damai   dihentikan Polisi. Pembubaran aksi damai oleh aparat keamanan  dengan alasan tidak memiliki izin.

 

“Ia terdapapat kawan-kawan kami,  yang juga sebagai massa aksi, terdepat sepuluh orang  ditangkap oleh aparat keamanan pada saat aksi damai tadi,” katanya kepada kabar mapegaa.com, Rabu (18/9/2019).

 

Aksi kali ini, massa aksi menunutut kepada  negara untuk bertanggungjawab atas kunjungan tokoh-tokoh Papua dan Papua bagar yang telah mengatasnamakan Papua.

 

“Tokoh-tokoh yang kinjugi Presiden di Istana, bukan perwakilan rakyat Papua. Maka itu, dengan tegas kami menolak,” katanya.

 

Ada pun tuntutan aksi, sebagi berikut:

  1. Menyikapi persoalan dialog 61 tokoh bersama bapak presiden RI dan menolak 9 point tuntutan para tokoh -tokoh Papua kepada presiden RI.
     
  2. Tarik kembali pasukan Militer organik dan non-organik yang berada di tanah Papua.
     
  3. Usut tuntaskan kasus pelanggan HAM di Papua serta buka ruang demokrasi yang dibungkam 
     
  4. Adili pelaku penembakan warga masyarakat sipil di bumi West Papua
     
  5. Segera bebaskan kawan-kawan aktivis yang di tangkap di seluruh daerah tanah ini.
     
  6. Kami seluruh rakyat Papua dan Papua barat cuma minta satu kata adalah Jangan pernah katakan kami monyet dan rasisme.
     
  7. Pertanggung jawaban pemerintah terhadap kepulangan mahasiswa Papua yang berkualitas di kota studi se-jawa dan Bali.
     
  8. Kami orang Papua dan Papua Barat hanya minta satu kata adalah Referendum.

 

Kata Mando, aksi yang tujuannya akan diarahkan ke kantor walikota Sorong langsung di hentikan oleh aparat kepolisian, dengan alasan tidak memiliki surat ijin aksi. “Mahasiswa di cegat oleh aparat kepolisian pada saat sedang melakukan aksi di areal kios Anda, Jl. F. Kalasuat-Malanu, kota Sorong.” katanya.

 

Mando menambahkan: “Disaat sedang melakukan aksi, mahasiswa langsung di grebek oleh aparat Polantas kota Sorong. Mahasiswa yang ditahan sampai saat ini.”

 

Mereka yang ditangkat tepat di di Jl. F. Kalasuat  yakni:  1) Rianto Ruruk [Kordinator Lapangan], 2) Paul Kareth, 3)  Simon Aifat, 4) Samuel Bamme, 5)  Yeheskiel Kalasuat.

 

Selain penangkapan di Jl. F. Kalasuat,   terjadi terjadi aksi yang sama yang  dilakukan oleh aparat kepolisian di depan studio Elin, Jl. Basuki Rahmat, kota Sorong.

 

Nama Mahasiswa yang ditangkap, sebagai berikut: 1) Daniel Kambuaya, 2) Laurensius Y. Syufi (Sekretaris Lapangan), 3) Dolfo Nauw, 4)  Abit Yewen, 5)  Jhoni Bame.

 

“Setelah dibubarkan, mahasiswa yang ditangkap langsung dibawah ke Mapolres Sorong kota untuk di amankan dan dimintai keterangan terkait tujuan aksi,” jelas Mado.

 

Menurut keterangan salah seorang peserta aksi, kami merasa aneh dengan tindakan yang di ambil oleh pihak kepolisian dengan menghentikan aksi dan menangkap teman-teman kami.

 

“Surat pemberitahuan sudah kami berikan dan kami bingung pada saat pihak kepolisian datang meminta surat ijin, padahal ini aksi damai dan tidak ada tindakan pengrusakan apapun atau akan membakar ban, tegas Yansen Kambu,” katanya.

 

Untuk diketahui sesuai laporan yang diterima kabarmapegaa.com,  sampai saat ini, mahasiswa yang ditangkap masih ditahan di Polres Sorong Kota.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

 

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait