Arie Kriting:  Kita ‘Orang Timur’ menggebu-gebu sekali memodernisasi semua hal

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

24 Hari yang lalu
NASIONAL

Tentang Penulis
Arie Kriting, seorang komika Indonesia dari Timur yang melawan stigma negatif tentang kawasan timur Indonesia. (Foto: BaKTI.Ist)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com-- Arie Kriting yang kedua kalianya membawakan materi dalam bentuk Komedi dengan tema "Orang Timur Bicara".  Arie tampil saat Festival Forum Kawasan Timur Indonesia yang digelar pada 24-25 Oktober 2018 di Four Points Hotel by Sheraton Makassar.  

 

Dalam kegiatan tersebut,  mengangkat beragam praktik cerdas dan inspirasi yang merupakan inisiatif lokal yang dinilai mengangkat unsur-unsur mendasar yang diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan.

 

Yayasan BaKTI  ini berdiri tahun 2004 sebagai bagian dari unit pertukaran pengetahuan Support Office for Eastern Indonesia (SOfEI). SOfEI adalah proyek multi donor yang diadministrasi oleh Bank Dunia. Pada tanggal 24 August 2009, dengan maksud memperkuat kepemilikan lokal dan fungsi keberlanjutan, BaKTI resmi menjadi yayasan dibawah payung hukum Indonesia. Peresmian Yayasan BaKTI berlangsung tanggal 8 February 2010.

 

Arie Kriting, seorang komika dalam melawan stigma negatif tentang kawasan timur Indonesia kembali hadir dan mengingatkan pentingnya jati diri sebagai orang Timur.

 

Dalam file presentasinya yang diungga  yayasan BaKTI di youtube,  (5/11/2018) itu, Arie menanyakan "Apakah sampai saat ini  menjadi orang Timur?. "Apakah sampai saat ini kita tetap menjadi orang Timur itu pertanyaan yang muncul ketika saya diminta bicara untuk orang Timur, kerana orang timur itu sebenarnya  definisinya,  kaya bagaimana, tidak tahu pasti dan kita tidak perna duduk mendefinisikan itu.”

 

Apakah orang Timur itu, apakah cuma orang yang lahir besar di Timur? Atau orang yang kepedulian terhadap orang Timur, ataukah saya ini, yang rambut kriting; kulit hitam; mata menyala?

 

Menurutnya kenapa hal ini penting untuk dibicarakan dan didiskusikan karena pertama melihat dari tuntutan jaman yang  teknologinya maju ini, membuat kita memodernisasi semua lini tanpa menimbang mana yang merupakan ketertinggalan dan mana yang merupakan ciri khas.

 

"Kita menggebu-gebu sekali memodernisasi semua hal, kita tidak lihat mana yang sebenarnya merupakan kekayaannya kita. sehingga ciri khasnya kita  kadang-kadang mala menjadi ketertinggalan. Padahal itu ciri khasnya kita," papar Arie

 

Makanya untuk hari ini, kata Arie tema utama adala lokalitas. "Karena menurut saya lokalitas  memang arus menjadi menu utama,  yang menjadi bahan bakar utama ketika kita mau mengejar ketertinggalan,"

 

"Bukan itu kita sadur terus budaya dari luar, budaya dari Jawa terus untuk masuk ke Indonesia Timur bikin kita merasa lebih maju. Tidak perlu," jelas Ari

 

 

kata Ari, kita terlalu sibuk untuk memodernisasi diri kita sampai pakaiannya saja kita tidak pake kita punya kain, ikat kepala baru belakangan ini kita menyadari bahwa itu kekayaan.

 

Menurutnya kita itu takut menjadi yang berbeda, lalu kita mencoba menghilangkan identitas kita yang sebenarnya. " Ini yang sa rasa orang Timur itu, kadang-kadang punya perasaan ini. Kita itu takut karena perbedaannya kita, makanya kita mencoba menilangkan identitas kita."

 

"Contohnya apa? Berapa banyak ade-ade nona diluar sana yang rebonding rambut? berepa banyak ade-ade nona yang menggunakan pemutih kulit dengan harapan kulitnya menjadi lebih cerah daripada sebelumnya sementara standar kecantikan selalu digariskan seperti itu. Yag rambut lurus, kulit putih, bibir merah."

 

Kemudian tanya Arie,  terus kita yang lahir dengan kulit hitam? Rambut keriting? Mata menyala ini menarik atau tidak, sebenarnya? Cantik atau tidak?

 

"Kita sangat-sangat cantik dengan kepribadian kita yang apa adanya. itu sebabnya saya punya rambut kriting saya pertahankan, itu sebabnya saya punya kulit hitam saya pertahankan. Itu identitas pribadi yang harus kita pertahankan. Itu identitas kita yang harus kita pertahankan karenaa itu identitas kita yang perrlu kita tahankan."

 

sementara itu Ari juga mengatakan, bukan hanya itu tetapi dari cara kita berpakaian, logat kita, dialeknya kita.

 

" Sekolah sedikit, pulang ke kampung sudah terapkan itu, lhugue-lhugue. Pulang, aku kamu-aku kamu. Ko su sekolah baru ko bikin diri sekalah?"

 

Menurutnya, sekolah itu bukan kamu punya cara berpakaian, sekolah itu bukan kamu punya rambut kriting jadi lurus, sekolah itu bukan kamu punya bucara jadi aku-kamu, aku-kamu tetapi sekolah itu supaya ko punya pemikiiran lebih maju dari yan sebelumnya.

 

"Jadi kita boleh, Indonesia Timur lebih maju tetapi dengan kebiasaan kita dan tidak menghilankan identitasnya kita; tidak menghiankan ciri khasnya kita. itu yang saya rasa penting untuk kita pahami."

 

Kata Ari, banyak memang implementasi kita  untuk mengejar kemajuan-kemajuan tadi." Menteri PU menjelaskan infrastruktur maju tapi kalo membuat kita hilang diatas tanahnya kita, saya pikir kita tidaklah menjadi seperti itu.

 

Slide selanjutnya, Ari menanyakan, ‘Haruskah kita menjadi orang timur? Kalau itu dianggap ketertinggalan, terus kenapa kita mau pertahankan! Klo memang yan rambut lurus sedangkan rambut kritikan jelak kenapa harus pertahankan, haruskah kita menjadi orang Timur?

 

"Menurut saya  harus sekali, harus sekali mempertahankan identitas kita. Kita jangan sampe lupa identitas kita, kita punya jatih diri."

 

Ari Kriting, selanjutnya singgung tetantang film karton Moana. Film Moana ini  adalah sebuah film petualangan fantasi musikal animasi komputer 3D Amerika 2016 yang diproduksi oleh Walt Disney Animation Studios dan film ke-56 dalam kanon fitur animasi Disney. Film tersebut disutradarai oleh Ron Clements, John Musker. Auli’i Cravalho, Dwayne Johnson, Temuera Morrison menjadi pengisi suara utama. Film tersebut dirilis oleh Walt Disney Pictures pada 23 November 2016 lalu.

 

Ari mengaku dirinya hampir semua film animasi telah ditonton. " Saya suka film animasi. " Saya sangat tersentuh sekali ketika saya nonton film Moana. Saya punya air mata sampe jatuh, kanapa? Demi Tuhan, saya menangis pas saya nonton film Moana saat mereka menyanyi dia punya lagu ini."

 

"Dia mencari bintang, tujuan akhirnya Dia. Dia mencari rumahnya Dia," jelas Arie

 

Di sini kalau kita lihat, lanjut Ari dari sekian banyak film animasi, baru kali ini, tokohnya itu, perempuan den laki, kulitnya bukan kulit terang rambutnya lurus. Ini Moana.

 

 "Dia ajarkan kita bagaimana caranya kita mencari rumah, Dia mencari rumahnay Dia. Dia rambutnya kriting, Kulit hitam, dan Dia muncul di layar, Dia bicara tentang, bagaimana orang-orang di laut Pasifik mencari nenek moyangnya Dia, bahwa dia tinggal di sebuah pulau dan tidak pernah pergi lagi dari tempat itu."

 

Itu bikin saya, kata  Ari,  Ia kita itu orangnya seperti itu. "Kita itu bangsa pencari. Kenapa kita tidak tingal di kita punya tempat, tidakmaju kemana-mana. Dari situ saya berpendapat bahwa, kalau dulu saya punya nenek moyang dulu adalah petualang, yang mengintar laut-laut pasfik, kenapa sekarang kita berhenti di tempat, Tidak Boleh," tegas Arie

 

Kemudian, kata Aria saya merasa bahwa kita itu kadang-kadang lupa dengan kita punya asal karena kita terlalu medernisasi kita punya diri. Padahal untuk mengetahui arah yan kita tuju, kita harus tahu dari mana kita berasal. Tidak mungkin kita pergi ke suatu tempat tanpa kita tahu kita punya asal.

 

"Kita mau sepergi ke mana sebenarnya. Orang Timur ini pergi ke mana sebenarnya. Kita tidak akan pergi kemana-mana tanpa kita tidak tahu tempat asal kita."

 

Pentingnya kita menggali kembali sejarah perradabannya kita (orang-orang Timur). Menurutnya peradaban orang-orang timur itu maju, besar dan mega, tapi hanya sedikit yang ditawarkan oleh buku sejarah dalam buku sejarah kurikulum resmi negara ini yang membicarakan soal sejajarahnya orang Timur.

 

"Mungkin dari kita kebanyakan sekolah di masa yang tidak terlalu jauh beda. Jika saya boleh  bertanya, berapa banyak  saudara-saudara belajar di buku sejarah ketia bersekolah tentang sejarahnya kita  orang-orang Timur, tapi kita sangat tahu tentang kerajaan Sriwijaya, sangat tahu tentang kerajaan Majapahit, Kerjaaan Kediri, Kerajaan Singasari. Tapi hanya sedikit sekali yang kita tahhu tentang Kerajaan Gowa Tallo."

 

Kalau kita melihat sejarah itu, sio, sejarah yang lain-lain itu, umm tebal-tebal tetapi tetapi kita punya sejarah Indonesia Timur itu, tipis. Yang penting mereka sudah perang! selesai.

 

"Kemana sejarah-sejarah kita yang lain, yang muliah. Dimana, dimana sejarah-sejarah kita yang lain. Padahal epos terbesar di muka bumi itu, yang tertebal, yang lebih tebal dari dari maha tebal dari kisah 'Mahabarata dan Ramayana' epos terbesar itu La Galigo. "La Galigo punya orang timur, tetapi pernah dikenalkan di buku sejarah? Hampir tidak pernah, padahal itu kkayaannya kita."

 

La Galigo diyakini merupakan salah satu karya sastra terpanjang yang pernah ada. Ahli sastra dan bahasa Bugis, R.A. Kern, dikutip Sirtjo Koolhof dalam La Galigo Menurut Naskah NBG 188: Jilid 1 (2017), memperkirakan jumlah halaman La Galigo mencapai 6.000 lembar kertas berukuran folio.

 

Dengan kata lain, La Galigo yang ditulis dalam bentuk sajak berbahasa dan beraksara Bugis kuno kemungkinan besar merupakan epos tertulis paling panjang dalam sejarah sastra dunia, melebihi Mahabharata.

 

Maka menurut saya, kata Ari secara intelektual, sebenarnya kita tidak miskin tetapi secara inteletual, kita dimiskinkan selama ini.

 

"Karena itu, kita butuh sejarah alternatif, kita butuh untuk mencari tahu sejarahnya kita sendiri. Kita punya sejarah itu banyak yang  besar-besar. Banyak yang luar biasa tetapi saya rasa, kurikulumnya kita di pendidikan tidak teratur mengakomodasi itu sehingga kita miskin secara sejarah. Kita lebih tahu sejarahnya orang lain daripada sejarahnya kita sendiri."

 

Dalam kesempatan itu, Ari menyinggung sedikit terkait ras Melanesian. Menurutnya Melanesia adalah tempat berasalnya orang Timur.

 

Untuk diketahui, Arie Kriting pertama tampil di  yayasan BakTI pada tahun 2015 lalu. Dalam kesempatan itu,  ia membawakan materi yang tak kalah dengan materi kedua "Orang Timur Bicara" dengan gaya yanag sama yang dibungkus dengan komedian  dengan tema, "Melawan Stigma Lewat komedi"

 

Melalui komedi, Arie Kriting mengangkat kekuatan besar yang membuat orang Indonesia Timur tetap bertahan hidup dan menertawakan duka kesehariannya.

 

Manfred Kudiai/KM

 

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait