BAKUJAGA: Komunitas Peduli HIV/AIDS di Papua

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Bulan yang lalu
KESEHATAN

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Pertemuan pertama komunitas BAKUJAGA, Jumat (1/6/2018) kemarin, bertempat di Cupajjo Cafe, Jl. Selokan Mataran, DIY. (Foto: Doc. Prib/BAKUJAGA.Ist)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com — Menjaga kelangsungan hidup manusia Papua di atas tanah leluhurnya. Mengemban   misi   kemanusiaan   dan   politis   dalam   rangka menangkal proses genosida yang sedang terjadi di antara manusia-manusia Papua. Berangkat dari dari keprihatinan inilah, BAKUJAGA dibentuk untuk dalam upaya mengajak generasi muda Papua dalam membantu mencegah Penyebaran Virus HIV/AIDS di Papua. Pertemuan komunitas ini berlangsung di Yogyakarta. Jumat (1/6/2018) kemarin, bertempat di Cupajjo Cafe, Jl. Selokan Mataran, DIY.

 

BAKUJAGA memiliki dua tujuan, yakni: 1) Sosialisasi tentang HIV/AIDS di tingkat mahasiswa,  2) Meminimalisir stigma buruk terhadap ODHA. 

 

Komunitas BAKUJAGA ini kerinduan Jurnalis dan Novelis Papua, Aprila Wayar sejak tahun sejak dirinya masih berada semester tiga di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja.

 

Hal ini diungkap dalam pertemuan yang diselenggarakan bersama ketua-ketua paguyuaban mahasiswa Papua Yogyakarta. Namun yang hadir hanya ketua Ipmanapandode Joglo, Tiyopigu M Kudiai ditemani Fransiskus Tigi dan Erick Alfian Yoku.

 

Selain mereka, ada pun Perwakilan dari Yayasan Kebaya Jogja, Ibu Ruly, Victor van Kalen yang pernah terlibat dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di PKBI Merauke pada 2000 lalu yang kini menetap di Jogja dengan menjalankan misi kemanusian dan Fasilitator Lapangan di LSM Lokal Perkumpulan Silva Papua Lestari, Eduardo A.A. Mote yang akrab di sapa dengan Edo.

 

“Saya bertemu dengan Edo dan Viktor, kita ngobrol-ngobrol tentang Papua dan kita sampai pada kesimpulan  bahwa kita bertiga punya kepentingan yang sama, tentang HIV/AIDS di Papua, sehingga kami tergerak untuk  mulai bergerak dengan isu ini,” jelas Novelis Perempuan pertama Papua ini.

 

“Ketertarikan kita bertiga untuk bentuk komunitas BAKUJAGA ini, kita cuma berpikir yang simpel saja. Tidak ada lembaga siapapun di belakang kita, tidak punya kepentingan politik apapun. Kami juga tidak bekerjasama dengan partai mana pun. Kita bergerak karena kita ingin  bergerak sebab kita punya keprihatinan yang sama,”  paparnya.

 

Lanjut Aprila, saya tahu bahwa isu ini terlepas dari isu Papua besar, kita selalu bicara keprihatinan tentang Papua. “Karena itu hari ini bukan hanya orang asli Papua tetapi semua orang Pua yang ada di atas tana Papua terancam dengan HIV/AIDS.”

 

“Hal yang paling menampar saya, ketika orang-orang yang saya sayang, teman-teman terbaik saya, generasi muda Papua  satu per satu meninggal karena penyakit ini. Jadi saya pikir kita tidak bisa tinggal diam” tegasnya penuh prihatin.

 

“Puji Tuhan, akhirnya saya punya kerinduan terwujud. Jangan tungguh samapi kita kena, mari kita mulai bergerak sekarang,” ujar Aprila penulis novel Sentu Papua ini.

 

Kemudian, Eduardo, Fasilitator Lapangan di LSM Lokal Perkumpulan Silva Papua Lestari sejak februari 2017-Mei 2018 ini mengatakan kita menolak informasi dan kita mendiamkannya? Sementara proses penyebarannya terus berjalan tiada henti.

 

“Fakta menunjukan bahwa  data  mutakhir  dirilis  pada  tanggal 23  Mei  2018  oleh  www.kabarpapua.com mengenai jumlah kasus HIV/AIDS di Papua. Dengan mengutip pernyataan Aloysius Giyai selaku  Kepala  Dinas Kesehatan Provinsi Papua, jumlah  kasus yang ditemukan  mencapai 35.000 kasus3. Angka ini meningkat sebanyak 3000 kasus dari tahun 2017 yang berjumlah 32.000 kasus,” jelasnya

 

Komunitas BAKUJAGA ini, kata Edo memberdayakan dari dalam, entah mau bangun Papua dengan cara apapun, baik itu Pemerintah, swasta adalah pilihan. Tetapi yang pasti kita harus jaga kehidupan sumber daya manusia Papua.

 

“Ini yang sering kita lupa, isu yang kita percaya saat ini, sedang terjadi genoside. Kemudian genoside itu kita menganggap dari dari luar, itu faktor eksternal bahwa kematian orang Papua lebih banyak berada pada kekerasaan Militer, tetapi kalau dibandingkan dari jumlahnya, kematian orang Papua  lebih banyak kerena HIV/AIDS. Dia tidak terlihat tetapi membunuh kita secara perlahan-lahan,” Jelas Edo yang juga pernah bekerja sebagai Jurnalis di Merauke TV dan Jaya TV ini.

 

Sementara itu, situasi saat ini di Papua, masyarakat Papua pada umumnya sangat minim pengetahuan dan materi tentang HIV/AIDS sehingga terbangun stigma yang buruk terhadap ODHA.

 

“Kita sering menghindar dan membangun stigma yang buruk sehingga orang 'malas tahu' tentang penyakit ini."

 

Dalam kesempatan yang sama, Victor membenarkan perkataan Edo tentang stigma buruk yang terbangun di kalangan masyarakat.

 

“Stigma ini juga akan menjdi bagian kompanye dari komunitas BAKUJAGA karena teman-teman kita, sodara-sodara kita yang sudah kena, atau ODHA, mereka sering mengalami stigma yang buruk, saya telah membuktikan itu dari pengalaman saya sendiri waktu saya di Merauke, sejak tahun 2000,” katanya.

 

Sementara Victor di tempat yang sama berpesan agar masyarakat tidak boleh takut dengan penyakit ini dan sebelum terlambat segera periksa ke rumah sakit atau komunitas-komunitas yang ada. Penting untuk VCT.

 

“Cantik belum tentu sehat, ganteng belum tentu sehat, baik belum tentu sehat, sopan belum tentu sehat, sehingga adik-adik yang masih pelajar dan sudah mahasiswa saya kasih tahu, jangan takut untuk VCT. Biar tahu, aman atau tidak, sehat atau tidak, kalau sehat pertahankan itu, kalau terinveksi virus dapat segera di atasi sebelum terlambat,” ajak Victor.

 

HIV/AIDS sebetulnya tidak mematikan asal kalian mau terapi ARV. Fakta hari ini, HIV tidak mematikan, virus HIV/AIDS itu adalah stigma buruk itu sendiri. Jangan ada stigma buruk lagi,” pungkasnya.

 

Latar Belakang

 

Sejarah masuknya virus HIV di Tanah Papua pertama kali terdeteksi di Merauke pada tahun 1992. Penularan virus ini terjadi melalui hubungan seksual antara para nelayan asal Thailand dengan masyarakat lokal setempat (Taloid Jubi).  Nelayan ini sebelumnya sering masuk-keluar di Lokalisasi Belt Besi dan Yobar, serta tempat hiburan lain di daerah itu. Nelayan Thailand ini berada di Merauke karena kehabisan persediaan air minum, stok makanan, dan mencari pusat hiburan di kota itu setelah beberapa pekan berlayar di laut. Mereka membina hubungan intim dengan PSK di Merauke. Namun, ada di antara mereka memiliki penyakit aneh yang belum pernah ditemukan dokter selama itu di Merauke. Ternyata, orang itu mengidap  virus  HIV.  Dalam  satu  dekade  terakhir,  monster  yang  ditinggalkan  nelayan Thailand tersebut berkembang dan menyebar sampai keseluruh pelosok Papua. Bahkan di Kabupaten Puncak Jaya yang terpencil juga ditemukan tiga kasus HIV/AIDS.( brooypic.blogspot.com).  Sejak saat itu, jumlah   masyarakat   Papua   yang   terinfeksi   terus   bertambah.   Beberapa   faktor   yang mendorong  peningkatan  ini  antara  lain  adalah  perilaku  seks  bebas  yang  dipicu  oleh konsumsi alkohol berlebihan dan penolakan untuk menggunakan alat pengaman ketika melakukan seks beresiko. Belakangan penularannya saat ini melalui individu-individu yang tidak mengetahui status mereka dan melakukan hubungan seksual secara bebas dengan orang  lain.  Data  mutakhir  dirilis  pada  tanggal 23  Mei  2018  oleh  www.kabarpapua.com mengenai jumlah kasus HIV/AIDS di Papua. Dengan mengutip pernyataan Aloysius Giyai selaku  Kepala  Dinas Kesehatan Provinsi Papua, jumlah  kasus yang ditemukan  mencapai 35.000 kasus (kabarpapua.co). Angka ini meningkat sebanyak 3000 kasus dari tahun 2017 yang berjumlah 32.000 kasus. Sebelumnya Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, melalui staf ahli, Ani Rumbiak, mengatakan bahwa berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, di Provinsi Papua sampai Juli 2017 terdapat 28.771 penderita HIV-AIDS; yang terdiri atas HIV: 10.134 dan AIDS: 11.060. Dari jumlah tersebut 26.525  usia reproduksi 15-49 tahun (99,08 %) dan 14. 684 (54,9 %) wanita usia reproduksi yang menderita HIV/AIDS .(Kompasiana.com)

 

Ini merupakan kasus yang terdokumentasi dan hanya di Provinsi Papua saja (tidak termasuk   provinsi   Papua   Barat),   sisanya   masih   tersembunyi   akibat   ketidaktahuan, penolakan untuk pemeriksaan hingga pengucilan dari keluarga dan masyarakat.  Dengan menggunakan analogi Fenomena Gunung Es, maka kemungkinan jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat dari jumlah kasus yang terdekteksi.  Dengan demikian, BAKUJAGA percaya bahwa  meningkatnya kasus HIV/AIDS di Papua adalah  kurangnya informasi akibat tidak tersedianya sarana informasi maupun penolakan dari orang-perorangan mengenai pengetahuan HIV/AIDS. Jika hal ini didiamkan atau tugas penanggulannya hanya diberikan kepada beberapa lembaga tertentu saja yang mengurusi persoalan ini, bukan tidak mungkin 5 hingga 10 mendatang satu generasi Papua akan lenyap. Jika sudah demikian, siapakah yang akan membangun tanah Papua?

 

Tujuan

 

Berangkat dari dari keprihatinan inilah, BAKUJAGA dibentuk untuk mengambil bagian dalam suatu pekerjaan besar menjaga kelangsungan hidup manusia Papua di atas tanah leluhurnya.   Pekerjaan   ini   mengemban   misi   kemanusiaan   dan   politis   dalam   rangka menangkal proses genosida yang sedang terjadi di antara manusia-manusia Papua. Apa gunanya meraih independensi politik suatu saat jika tidak ada lagi manusia yang hidup didalamnya untuk membangun tanah Papua? BAKUJAGA memiliki dua tujuan, yakni:

 

1) Penanggulan virus HIV dan penyakit AIDS

 

BAKUJAGA akan memfasilitasi layanan medis bagi teman-teman generasi muda Papua yang sudah terinfeksi hingga mendapat terapi ARV.

 

2) Pencegahan  penyebaran  virus  HIV/AIDS 

 

BAKUJAGA  akan  mengedukasi  generasi muda Papua melalui sosialisasi dan advokasi. Edukasi ini berisi tentang pengetahuan yang  berkaitan  dengan  HIV/AIDS  serta  kemampuan  diri  secara  mandiri  untuk menjaga diri dari bahaya penyebaran virus. Edukasi ini juga bertujuan untuk meminimalisir stigma yang berkembang di masyarakat khususnya diantara generasi muda Papua terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dan kehidupan mereka. Hal ini agar generasi muda Papua bisa turut membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para ODHA (khususnya anak muda Papua yang sudah terinfeksi virus HIV) sehingga mereka mampu meningkatkan kualitas hidup dan terus berkarya selama hidup mereka.

 

Implementasi

 

Metode yang akan diadposi BAKUJAGA adalah sebagai berikut:

1) Koordinasi dan Kerjasama dengan ikatan mahasiswa Papua dimanapun untuk mengadakan sosialisasi dan advokasi dengan segala sumber daya dan media yang tersedia melalui kegiatan-kegiatan Makrab Mahasiswa Papua.

 

2) Koordinasi, kerjasama maupun kolaborasi program atau kegiatan dengan berbagai pihak  terkait  baik  Pemerintah  maupun  Swasta.  Pemerintah  dalam hal ini  Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) provinsi dan kabupaten di Papua dan Papua Barat maupun Swasta seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun Yayasan yang bekerja di bidang penanggulangan HIV/AIDS di manapun berada,

 

3) Memfasilitasi VCT (Voluntary Consueling and Testing) gratis pada semua peserta yang hadir di setiap kegiatan BAKUJAGA. Dengan adanya VCT gratis ini diharapkan bisa dilakukan penanganan lebih lanjut bagi yang sudah terinfeksi. Tindakan lanjut yang bisa dilakukan adalah melakukan pendampingan hingga mendapatkan terapi ARV.

 

Pewarta: Manfred Kudiai

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait