Begini lika-liku perjuangan Diakon Yosep Bunai, Pr menjawab panggilannya

Cinque Terre
Manfred Kudiai

7 Hari yang lalu
ROHANI

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Diakon Yosep Bunai, Pr bersama P. Yance Yogi,Pr berfose bersama keluarga seusai ibadah perdan di aula Rest Lemen, Auri, Nabire, Papua. (Foto: Manfred/KM)

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com--Setiap orang punya cita-cita. Untuk menggapainya ia mesti berjuang. Perjuangan adalah langkah yang wajib diambil untuk menjawab cita-citanya. Tidak sedikit orang yang dalam menggapai cita-citanya ia harus  lalui segala rintangan dan tantangan. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu dari sekian banyak orang, hanya orang-orang yang beruntung sajalah  yang tidak mengalami hambatan dalam menggapai cita-cita yang di impihkan walaupun tak luput dari cobaan setiap perjuangan.  

 

Seperti dalam dunia pendidikan. Di SD yang seharusnya hanya enam  tahun tetapi ada pula yang harus menjalani selama tujuh bahkan delapan tahun. Begitupun juga di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang seharusnya hanya kurung waktu tiga tahun tetapi ada saja yang menyelesaikan studi di SMP selama empat sampai lima tahun, bahkan hal yang sama pun dialami di Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) sederajat, hanya tiga tahun eeh, mala ada yang bertahan di SMA sampai empat tahun dan seterusnya dan seterusnya. Begitulah perjalanan riwayat pendidikan yang dilalui Diakon Yosep Bunai, Pr. 



Jika dihitung, di SD Diakon Yosep menempu pendidikan selama 7 tahun, begitupun juga di SMP, 4 tahun dan di SMA 5 tahun. Tapi semangatnya tak pernah pudar untuk mengejar apa yang dirinya cita-citanya.

 

Semua itu, baginya  adalah ujian yang  harus dilalui. Hal ini yang dirasakan oleh Diakon Yosep Bunai, Pr selama dirinya  berjuang menggapai cita-cita hingga  pada tanggaol 11 Oktober 2020, di gereja Katolik Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire oleh Mgr. Alowisius Muruwito, OFM bersama Administrator Diosesan, Pastor Marthen Ekowaibi Kuayo, Pr kepada Fr. Fransiskus Sondegau dari suku Migani, Fr. Yeheskiel Belau dari Migani, Fr. Silvester Bobii dari suku Mee, Fr. Silvester Dogomo dari suku Mee, Fr. Paulus leo Yeruwuan dari Kei, Fr. Febronius Angel dari Flores, dan Fr. Budi dari Jawa yangtelah ditahbiskan menjadi Diakon.

 

Untuk diketahui bahwa  dalam Gereja Katolik, Anglikan, dan Ortodoks, diakon membantu imam dalam tugas-tugas penggembalaan umat dan administrasi, namun bertanggung jawab secara langsung kepada uskup. Mereka memiliki peran khusus dalam liturgi, tugas utama mereka dalah membacakan Injil dan membantu dalam penyelenggaraan Ekaristi. 

 

Sementara itu,Diakon dalam gereja  Katolik Roma, sebelum Konsili Vatikan II, hanya para seminaris (mahasiswa seminari) yang ditahbiskan menjadi diakon. Mereka menjadi diakon hanya beberapa bulan sebelum akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Sejalan dengan rekomendasi dari konsili (dalam Lumen Gentium 29), pada tahun 1967 Paus Paulus VI mengeluarkan motu proprio (keputusan pribadi) Sacrum Diaconatus Ordinem, memulihkan praktik kuno untuk mentahbiskan menjadi diakon para pria yang bukan calon imam. Para pria tersebut dikenal sebagai para diakon permanen; orang-orang yang ditahbiskan menjadi diakon dan berniat melanjutkan menjadi imam, atau sementara dalam proses belajar di seminari untuk ditahbiskan menjadi imam, disebut para diakon transisi.

 

Diakon Yosep Bunai adalah anak dari Pewarta tertua dan berpengalaman di  Paroki Kristus Jaya Komopa, Paniai. Cita-citanya menjadi seorang Imam masih menjadi rahasia antara dirinya dengan Tuhan yang ia yakini. Sebab, kata dia, selama ia sekolah tidak  pernah mendapatkan tanda-tanda dari Tuhan bahwa kelak ia akan jadi seperti yang sekarang, yakni Diakon begitupun juga dalam panggilan Imamat nanti.

 

“Saya, sejak SMP sampai SMA, selalu merindukan sekolah yang berpola asrama, seperti Seminari di Jayapura dan sekitarnya tetapi hal itu tidak pernah terkabul, bahkan SMA, saya menamatkan di SMA YPPGI Timika,” terangnya dalam Kotbah perdananya di Aula Reset Lemen, Auri, Nabire, Papua, Senin, 12 Oktober 2020.

 

Untuk diketahui, Sekolah  SMA YPPGI TIMIKA yang dimaksud oleh Diakon  Yosep Bunai itu, beralamat di Jalan Weyapo, Kwamki, Mimika Baru, Kwamki, Kec. Mimika Baru, Kabupaten Mimika  yang adalah Sekolah swasta, juga disebut sebagai sekolah independen.

 

 “Saya sekarang jadi pendeta. Bukan Pendeta bagi KIMI tapi pendeta bagi Gereja Katolik,” ujarnya sambil  tersenyum.

 

Banyak pengalaman yang dirinya lalui selama perjuangannya hingga menjadi Diakonat.  Namun sebagain kecil ia utarakan kepada seluruh umat yang datang untuk merayakan pengucapan syukur atas ditabhisnya menjadi  Diakonat dan dalam misa perdana  kepada kurang lebih sekitar  700-an umat, yang datang dari beberapa rayon, seperti: Rayon Timika, Umat Paroki Kristus Raja Komopa dan Umat Paroki Kristus Sang Penebus,  Pupu Papa- Dauwagu,  maupun Rayon Nabire yang juga menjadi tuan rumah dalam acara ini.

 

Tantangan bertubi-tubi

Lebih lanjut, dalam kotbah perdananya dihadapan umat dari kedua Paroki dan dua Rayon serta dihadapan  Gereja (KINGMI) Papua, Jemaat Kasih, Klasisi, Nabire yang ikut terlibat  ambil bagian dan memeriahkan ibadah  perdana terebut, Diakon Yosep Bunai  menuturkan kendala yang dialaminya setelah ia harus kembali ke KPA dan melanjutkan studi di Nabire sebelum lanjut  ke Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur (STFT), Jayapura.

 

Kata Dia, Ia sangat-sangat merindukan kehidupan yang bebas seperti di masa SMA di Timika. Sebab di KPA, hidupnya seperti di penjara, dengan pendidikan yang berpola asrama itu.

 

“Saya macam tinggal dalam penjara, akhirnya saya sempat keluar dari KPA dan tinggal di luar, tetapi nasib berkata lain, Pimpinan  saya saat itu, Romo Yusup meminta saya untuk segera kembali.”

 

Awalnya, pikir Dia, Romo Yusuf akan memarahinyaa tetapi mala  sebaliknya, Romo tersebut memberinya makanan. “Mungkin, itu tanda pertama yang saya terima  dari Tuhan sejak masuk KPA.”

 

Tantangan datang bertubi-tubi, dari kehidupan berpola asrama yang ia rindukan, eeh setelah ia menjalani kehidupan perpola asrama dirinya merasa terkurung. Dan bahkan sampai dua kali ia meninggalkan KPA, tetapi rencana Tuhan berkata lain. Tahun berlalu, ia menyelesaikan studi di KPA dan melanjutkan studi selanjutnya di STFT Jayapaura, Papua.

 

Tugas Pelayanan

Setelah ia dinobatkan sebagai Frater,  Frater Yosep di  tugaskan di salah satu Paroki  di daerah terpencil yakni, Gereja Katolik Paroki Modio.  Menurut kesaksiannya, pertama ke Paroki yang ditugaskan dari keuskupan Timika tersebut, Fr. Yosep diantar oleh tiga pemuda asal Modio dan mereka berjalan selama empat hari empat malam untuk sampai di  tempat pelayanan.

 

“Saat itu saya merasa lelah, tetapi saya yakin, mungkin ini tanda kedua dari Tuhan tuk melayani umat di sana. Ditempat yang baru, jauh dari jangkauan hirup pikuk kehidupan di kota,” jelasnya.

 

Selama kurang lebih tiga tahun memnjalankan tugas pelayanaan di Paroki Modio, Ia selalu berbaur dengan umat paroki setempat. Dan dirinya memperkuat pertahanan keimanan Katolik di kalangan orang Muda Katolik sehingga setiap minggu selalu ada kegiatan di pastoran bersama OMK setempat. Baik, merancang program kerja maupun kegiatan rohani lainnya. Sempat, di bawa pimpinan Frater Yosep, pernah melakukan penanaman 1001 pohon di kawasan Mapia. Bagi,  Diakon Yosep, Hutan adalah tempat berlindung dan memberi kita makan.

 

Tidak hanya itu, pengakuan lain datang dari salah satu umat asal Gereja Katolik Paroki Modio, atasnama Fransiskus Tibakoto. Kata dia, Fr. Yosep selama ia tugas di sana sangat akrab dengan umat setempat. Ia selalu berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain.

 

“Boh, adik saya salut sama beliu, Fr, Yosep yang nanti akan ditabiskan menjadi Diakon. Beliu sangat menyatu dengan umat di sana. Itu tinggkatan orang tua, apalagi di kalangan OMK. Pelayanannya sangat dirasakan oleh umat di sana,” jelasnya kepada media kabarmapegaa.com belum lama ini.

 

Panggilan Ini Bersifat  Rahasia

Terkadang, setiap kesuksesaan yang kita peroleh  atau kita raih melalui perjungan yang panjang  setelah kita melalui lika-liku dalam perjuangan, keringat, tangisan serta lapar dan lain-lain akan terasa indah dan bahagia bilah kesuksesaan itu diberitahu kepada  sanak keluarga dan kedua orang tua, tetapi bagi Diakon Yosep tidak seperti demikian.

 

Diakon Yosep merahasiakaan semuanya, bahkan hari pentahbisan pun ia tak beritahukan kepada kedua orangtua maupun sanak-saudara, tetapi bukan rahasia lagi, bukan anak pewarta tertua di Agadide, Frans Bunai jika tidak menganal Yosep. Sehingga kabar  bahwa akan ditahbiskan Fr. Yosep menjadi Diakon tersampai juga di ujung timur Agadide khususnya dan pada umumnya di wilayah kekuasaan Keuskupan Timika.

 

“Sebenarnya,  upacara pentahbisan ini saya telah merahasiakan tetapi rahasia itu bocor karena saya orang umum sehingga dari  dua Paroki di Agadide sampai rayon Timika dan Panitia dalam hal ini tuan rumah rayom Naire telah membentuk kepantiaan pentabisan Diakonat dan bisa melaksanakan acara yang begitu meriah di aula Reset Lemen ini.”

 

Tidak sampai di situ, dirinya mengungkap rahasia yang dimaksud. Kata Yosep, selama study tidak pernah ada tanda-tanda dari Tuhan sehingga untuk panggilan menjadi diakon bahkan nanti sampai menjadi iman jika Tuhan kehendaki, itu adalah rahasia antara  dirnya dan Tuhannya.

 

“Saya, tidak bisa janji selanjutnya akan menjadi imam, dan kapan hari, dimana imamat itu ditahbiskan, itu juga adalah rahasia Tuhan dan Saya,” bebernya.

 

Akhirnya ia mengucap syukur

Dengan melihat kememerian yang dilakasanakan oleh  umat setempat, dirinya mengucapkan banyak terimakasih.

 

“Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh umat yang telah terlibat dan mengambil bagian untuk menyukseskan kegiatan ini, walau saat ini dunia dilanda Corona,” ucap terimaksih Diakon Yosep kepada ratusan umat.

 

Setiap kata-kata Diakon yang keluar dari lidahnya telah mampu membuat mama bahkan sampai bapak-bapak  yang mengambil tempat dalam aula, diluar aula bahkan pemuda meneteskan air mata dan jangankan keluarga, mereka lebih dulu menjatuhkan  air mata.

 

Dikutip Dream dari laman news.com.au, Senin 17 November 2014, para psikiater memiliki jawabnya. Menurut penelitian, tangis kebahagiaan merupakan cara tubuh untuk mengembalikan ‘keseimbangan emosional.’ Mungkin itu sebabnya tangis tak selalu mengisahkan tentang kesedian akan tetapi tangis juga adalah bagian dari kebahagiaan.  Begitulah yang terjadi dalam aula Reset Lemen siang tadi.

 

Sementara itu, pantauan Media ini, Ibadah perdana tersebut di pandu oleh  Pastor Paroki Titigi, Pastor Yance Yogi, Pr dibantu 5 diakon dan satu Frater.  Akhir dari kegiatan ini, diberikan kesempatan kepada ketua Paniai, Dedatus Kadepa, untuk melaporkan LPJ selanjutnya dilanjutkan dengan sambutan –sambutan. Sambutan hanya satu orang, berhubung waktu, sehingga dalam kesempatan ini hanya di sampaikan oleh Kepala Suku Mee, Di Nabire, Yulianus Kudiai. Rama-tama dan makan bersama.

 

Total dana yang digunakan dalam kegiatan syukuran pentahbisan diakon Yosep Bunai, Pr,  sebesar 69.907.000, 00. dan terpakai sebebsar  33. 580,000, 00.  Dan tersebut, menurut laporan ketua Panitia, Dedanus Kadepa mengatakan bersumber dari Rayon Timika, Nabire, Paroki Komopa, Paroki Dakabo serta sumbangan wajib dan sumbangan sukarela dari partisipan serta dari hasil keringat Panitia. Dalam hal ini, dengan melakukan pencarian dana di Nabire. Sisa dana dikembalikan kepada  Diakon Yosep, namun pihaknya mengaku ada pemotongan oleh pihak panitia. Hal tersebut disampaikan Dedanus di dalam sambutannya.

 

Akhirnya Ibadah Perdana Diakon Yosep Bunai, Pr dikahiri dengan makan bersama dan pemberian cindera mata dari kerabat, keluarga dan pihak lainnya kepada Diakon Yosep. Dan oleh Pater Yance Yogi, Pr mengungkap alasan dirinya (Diakon Yosep) di Intan Jaya. 

Kini tugas pelayanan yang berat dilanda Diakon Yosep . Ia harus daerah yang saat ini tengah terjadi kontak senjata antara TPNPB-OPM vs TNI/Polri. Untuk itu, dirinya berharap, mohon doa dari semua pihak agar tugas pengembalahan di sana berjalan sesuai dengan yang direncanakan Tuhan.

(*)

 

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait