Benarkah HIV Peudidi?

Cinque Terre
Manfred Kudiai

3 Bulan yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Ilustrasi, Istimewa

Oleh, Manfred Kudiai 

Sudah beberapa tahun di Nabire, kuping menangkap anggapan tak terdidik yang membikin frustasi bagi sahabat-sahabat yang hidup dengan virus HIV. Yang kemudian tres (yang membuat mereka patah semangat jalani hidup) akhirnya kematian datang menjemput mereka. 

Anggapan tidak terdidik yang saya maksud adalah dengan mengatakan "HIV peu didi". Sebutan dalam bahasa suku Mee yang artinya 'sakit tidak baik' ungkapan yang paling tidak enak didengar oleh kawan-kawan yang hidup dengan HIV. 

Logikanya begini, kalau demikian,  adakah sakit yang baik? Kalau ada maka, beritahu  saya, sakit apa dan jenis virusnya seperti apa yang ketika sakit bikin berat badan naik dan tambah bugar. Kalau jawabannya tidak ada maka tidak ada sakit yang  baik bukan? Sehingga, segera berhenti melabeli "peu didi" kepada mereka (orang dengan HIV). Stop, stigma mereka.

Saya sedikit mau berbagi, yah semacam edukasi seputar HIV. Pada dasarnya, HIV adalah kondisi yang bisa menyebabkan penyakit AIDS. HIV sendiri adalah singkatan dari jenis virus yaitu Human Immunodeficiency Virus. HIV secara spesifik menyerang dan menghancurkan sel CD4 (daya tahan tubuh atau yang biasa disebut anti bodi) yang menjadi bagian penting dari sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Di sini saya lebih fokus membahas mengenai stigma yang terbangun di masyarakat luas di Meepago.  Bagi sebagian orang,  mamandang mereka—kawan-kawan yang hidup dengan virus HIV— rendah.  Bahkan dicap paling rendah dari manusia lain sekitarnya.

Lebih para lagi, anggapan yang saya sebutkan diatas datang dari kaum terpelajar—mengaku intelektual di media sosial—padahal memahami cara kerja virus HIV pun amat sangat minim. Hanya pandai meneruskan apa kata orang lain tentang HIV kemudian dirasa sudah memahaminya. Padahal, pengetahuan tersebut diteriama lewat orang yang tak mengerti akan virus HIV.

Itu artinya orang buta menuntun orang buta, jadinya, sama-sama masuk jurang. Seperti ajaran Yesus "Orang Buta Menuntun Orang Buta..." baca Matius 15:1-14.

Jadi,  ketika sesuatu kata yang diulang-ulang dan selanjutnya dianggap sebagai sesuatu hal yang benar. Nyatanya keliru. Mana mungkin orang yang tidak mengerti akan HIV menuntun orang lain untuk mengerti HIV?

Kita memahami HIV dengan cara yang salah. Mementingkan apa yang kelihatan tetapi kita  tidak tahu cara kerja virus dalam tubuh. 

Bicara soal data, Kasus HIV/AIDS Papua Tembus 26 Ribu Kasus. Hal itu dilaporkan melalui  situs resmi milik pemerintah provinsi Papua—ketik saja di google, nanti ketemu yang saya maksud—sementara Nabire dikabarkan menduduki peringkat pertama seluruh Papua. 

Bahkan, beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah berita yang menurut saya keliru walau   kasus penularan penyakit HIV/AIDS di Papua semakin meningkat.

Baik, berita yang saya baca itu sedikit melengcen dari kenyataan. Sebab di sana terdapat kejanggalan-kejangalan. Mari simak isi berita yang saya maksud dibawa ini—saya hanya mengutip bagian yang mendukung argumen saya.

“Saya datang ke Kabupaten Paniai, di sana dilaporkan sudah empat marga penduduk asli punah gara-gara HIV,” ujar Pangdam XVII Cendrawasih, Mayjen TNI Fransen G Siahaan, pada acara tatap muka dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, di Nabire, Papua, Rabu (28/1/2015) malam.

Menurut dia, setidaknya terdapat dua faktor utama yang menyebabkan penularan HIV di Papua tumbuh dengan cepat. Pertama, maraknya minuman keras (miras). Kedua, perilaku seks bebas.

Ingin membaca seluruh isi dari berita diatas silahkan ketik di mesin pencari google 'WADUH! SUKU ASLI PAPUA TERANCAM PUNAH AKIBAT HIV'

Berita sudah lama, yang memang lama tetapi masih bisa menjadi refrensi yang menguatkan pendapat saya.  1) Belum ada bukti yang jelas empat marga  yang dimaksud, 2) Kalau benar, marga apa saja?

Dua hal ini membuat saya gagal memahami berita tersebut.  Sedangkan, hal yang saya mengiyahkan—sependapat dengan isi berita diatas mengara pada sebab yang mengakibatkan meningkatnya angka penyebaran virus. Seperti,  Miras dan berhubungan Seks tanpa pengaman diri.

Logikanya begini,  angka penyebaran virus HIV meningkat. Apakah masyarakat juga mengiyahkan akan kematian yang bertubi-tubi datang pada manusia pribumi Papua semuanya karena HIV? Silahkan direngkan!

Menurut saya, tidak seperti demikian.  Kita berpikir jernih,  kita patut bersyukur bahwa khususnya di Kabupaten Nabire menjadi juara HIV. Ini nilai yang positif.  Yah, positif. Bingung? 

Begini,  masyarakat Nabire dan sekitarnya bisa dikatakan sudah sadar bahwa melakukan tes VCT sangat penting.  Dengan begitu,  warga Nabire memberikan data yang pasti ketika melakukan VCT, kalau tidak,  data yang disebutkan tidak mungkin kita tahu. Di situ nilai positif yang patut kita syukuri. 

Untuk itu,  pesan bagi masyarakat luas,  terutama warga Nabire yang menganggap HIV penyakit yang menyebabkan kematian,  saya minta segera mengubah pandangan tersebut,  sebab hal itu keliru.  Yang membunuh adalah stigma negatif seperti sebutan 'peu didi'. 

Yang perlu dilakukan adalah menerima mereka selayaknya sebagai manusia. Dan tidak menolak hidup berdampingan dengan saudara kita yang menikmati hidup yang ada matinya ini ditengah-tengah kami. 

Yang perlu diketahui bahwa, hal yang perlu dilakukan adalah segara tes VCT dan melakukan pola hidup yang baik. Dan bagi yang hidup dengan HIV, jangan menyerah.  Sebab, virus tidak berkuasa atas dirimu sebab semuanya dapat dikendalikan. 

Dan untuk kita semua, mari membangun edukasi yang edukatif terkait HIV. Jangan beri kesempatan virus membunuh kita apalagi mengecap "peu didi" sebab diluar sana, banyak orang yang hidup bertahun-tahun dengan HIV serta meraka mampu meneruskan keturunan yang negatif terhadap HIV. 

Saya percaya,  ketika mengenal HIV kita akan tahu cara mengendalikannya, dan biarkan kita dikenang setelah raga tiada adalah karya. Bukan seperti pemberitaan yang keliru itu.

Untuk itu,  masalah fisik drastis jatuh bukan karena penyakitnya, melainkan juga mendapat masalah stigma atau cap buruk dari masyarakat akibat pemahaman masyarakat yang kurang tepat tentang HIV/AIDS maupun kawan-kawan yang hidup dengan HIV itu sendiri. 

Stigma membuat mereka (kawan-kawan yang hidup dengan HIV) menyembunyikan status HIV positifnya dan malu untuk memeriksakan kesehatannya. Akibatnya, ia tidak akan mendapat pengobatan dan perawatan yang bisa berakibat meningkatnya risiko kematian dan penularan HIV/AIDS di masyarakat. 

Oleh karena itu, mari kita pelajari apa sebenarnya itu HIV/AIDS agar kita tidak mengganggap mereka adalah orang yang buruk.

Untuk diketahui,  penularan HIV hanya melalui darah, cairan seksual, dan air susu ibu (ASI). HIV hanya bisa menular melalui transfusi darah yang tidak aman, penggunaan jarum suntik yang tidak aman, hubungan seksual, ibu menularkan ke anaknya, baik saat melahirkan maupun menyusui, dsb.

Masih ditemukan kesalahan persepsi yang berkembang di masyarakat, seperti masyarakat masih mengira bahwa HIV menular melalui sentuhan fisik seperti berpegangan tangan, menggunakan pakaian yang digunakan oleh mereka yang hidup dengan HIV  menggunakan peralatan makan bersama ODHA, hidup bersama ODHA, dsb. 

Sebenarnya, hal-hal tersebut  tidaklah menularkan HIV. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kita bisa berinteraksi seperti biasa dengan mereka dan tidak perlu menjauhi apalagi mengucilkan mereka. (*)

#Budaya

#Pemerintahan

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait