Bercanda Bawa Bom, Frantinus Nirigi Dijerat Tindak Pidana

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
NASIONAL

Tentang Penulis
Admin Redaksi Kabar Mapegaa Online
Frantinus Nirigi diperiksa usai candaan bawa bom di pesawat. (Foto: Ade Putra/Okezone)

 

ANTARA/KABARMAPEGAA.com--Setelah  memperoleh sarjana dari Universitas Tanjungpura (Untan) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar),  Frantinus Nirigi,  terjerat dengan kasus infomasi Bom. Ia terjerat undang-undang tindak pidana saat hendak pulang ke Papua lewat  Lion Air  dengan  nomor penerbangan JT 687 .

 

Frantinus , mahasiswa asal Wamena Papua, ini menjadi perbincangan ramai setelah membuat kehebohan di Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin malam (28/5/2018) saat naik pesawat Lion Air tujuan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (CGK).

 

Pemuda 26 tahun asal Wamena itu terpaksa berurusan dengan polisi akibat perbuatannya mengatakan 'ada bom' kepada seorang pramugari yang sedang merapikan bagasi.

 

Kasus Bercanda Bom di Lion Air ini, pihak Corporate Communications Strategic Lion Air, telah melaporkan ke pihak kepolisian dan tengah dalam proses lebih lanjut bahkan Lion Air mengharapkan perbuatan tersebut diproses sampai kepada tingkat pengandilan.

 

Nirigi, terjerat kasus informasi bom dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana penerbangan. Setelah penetapan status ini, Frantinus resmi menjadi tahanan kepolisian. Saat ini kasusnya ditanggani oleh Polresta Pontianak.

 

Kemudian, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub akan menerapkan hukum pidana dan perdata bagi pelaku yang memberikan informasi palsu tentang bom.

 

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso mengatakan ketentuan tersebut berlaku di sisi darat seperti di bandara, tower pengatur lalu lintas penerbangan (air traffic control/ATC), dan peralatan penerbangan, juga di sisi udara seperti di pesawat terbang. Candaan bom selain membahayakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan penumpang, juga memberikan dampak psikologis dan membuat kerugian materiil pada maskapai.

 

"Kami mendukung pihak berwajib untuk mengenakan hukuman pidana dan perdata baik itu menggunakan UU No. 1/2009 tentang Penerbangan, KUH Pidana, KUH Perdata maupun aturan lain seperti UU Terorisme yang sudah disahkan," kata Agus, Selasa 29 Mei 2018 kepada awak media tempo.co.

 

 

Dengan adanya kejadian ini, Pardi, seorang doktor di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untan, yang juga dosen pembimbing Nigiri angkat bicara. Pardi mengatakan seakan tak percaya hal itu dilakukannya. Pardi juga tidak menampik kemungkinan ada stigma dalam melihat penampilan Nirigi.

 

Sementara itu, Dekan Fisip Untan, Sukamto pun memiliki pandangan serupa mengenai Nirigi. Di mata sang dosen, Nirigi merupakan sosok mahasiswa yang berperangai baik. Bahkan, sepengetahuannya tidak pernah bertingkah aneh. “Walau dari sisi akademi dia tidak menonjol. Itu yang saya tahu. Bukan berarti ini membela dia, tapi memang itu kenyataannya selama dia jadi mahasiswa,” katanya.

 

Maka dari itu, Sukamto meminta kepolisian harus bijak menangani kasus ini. Harus menyimpulkan dari dua sisi. Baik dari pramugari dan Nirigi. “Jangan hanya melihat dari satu sisi saja. Ini lebih kepada masalah miskomunikasi, bila saya melihat berita yang beredar. Dialek orang timur memang berbeda dengan dialek kita jadi terasa asing. Terutama karena kita ini juga lagi dirundung kekhawatiran akibat bom beberapa waktu lalu,” ujarnya.

 

Nirigi sudah berstatus alumni, pihak Fisip tidak mempunyai tanggung jawab apa-apa terhadapnya. Kalau memang Nirigi salah, tetapkan salah. Bila ia benar, tetapkan akan menjadi benar. “Berimbanglah dalam melihat kasus,” ujarnya.

 

Terlepas benar dan tidaknya Nirigi menyebut bawa bom, Sukamto tetap mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan bercanda. Harus lihat situasi dan kondisi. “Apalagi belum lama ini kita diteror bom, sehingga ngucap bom dikit aja udah bikin khawatir sekali," terangnya.

 

Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak mengakui bahwa Frantinus Nirigi adalah alumni Fisip Untan. Pemuda 26 tahun asal Wamena itu terpaksa berurusan dengan polisi akibat perbuatannya mengatakan 'ada bom' kepada seorang pramugari yang sedang merapikan bagasi.

 

Terkait kasus tersebut, Sekretaris Jenderal IKA Fisip Untan Deden Ari Nugraha menyatakan siap memberikan pendampingan hukum kepada Frantinus Nirigi. "Apabila terbukti secara sah melakukan tindakan melawan hukum, lanjut proses sesuai hukum, kami mendukung kepolisian," ujarnya kepada Okezone, Rabu (30/5/2018).

 

Namun, sambung dia, apabila tidak terbukti seperti apa yang disangkakan, maka kepolisian harus segera melepaskan Fran dari jeratan hukum. "IKA Fisip Untan akan berusaha memberikan bantuan hukum terhadap saudara kami. Ini sebagai solidaritas sesama alumni," tegas Deden kepada news.okezone.com

 

Ia menyebutkan, IKA Fisip Untan  juga mengaku akan melakukan konfirmasi dan meminta klarifikasi dari fakultas terkait kartu alumni tersebut.

 

Sanksi

  • Sanksi itu sesuai dengan UU No 1 2009 Pasal 54, setiap orang di dalam pesawat udara, selama penerbangan dilarang melakukan: a. Perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan, dan b. Pelanggaran tata tertib dalam penerbangan.
  • Nirigi terancam dijerat Pasal 437 ayat 1 UU Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan yang menyatakan setiap orang yang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud Pasal 344 huruf e. Terancam penjara paling lama 1 (satu) tahun.

 

Nirigi berurusan dengan polisi karena perbuatannya dengan mengucapkan 'Awas jangan kasar-kasar menyimpan tasnya. Ada bom, kepada seorang pramugari yang sedang merapikan bagasi.

 

Kuasa hukum Frantinus Nirigi mengatakan sikap pramugari yang tak ramah menyebabkan kliennya, 26 tahun, menyebutkan kata-kata “bom”. Terlebih kericuhan di pesawat juga dipicu pengumuman pramugari Lion Air, sehingga penumpang lain panik.

 

“Tasnya berat karena ada tiga buah laptop. Saat masuk bagasi, kabin sudah penuh. Namun tasnya harus masuk ke bagasi,” kata Theo Kristoporus Kamayo, dari kantor Firma Hukum Ranik, Marcelina dan rekan, Rabu, 30 Mei 2018, kepada Tempo.

 

Dengan kasus ini, kuasa hukum Frantinus Nirigi menilai Pramugari Lion Air tidak rama bikin  Frantinus Nirigi Emosi.

 

(Admin/KM)

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait