Bernyani untuk Hidup

Cinque Terre
Alexander Gobai

3 Bulan yang lalu
KABAR PAPUA BARAT

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh : Frengky Syufi

 

“Qui bene cantat bis orat : siapa yang bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali”

 

Bunga bahasa ini disemanatkan secara khusus untuk mengenang 34 tahun (26 April 1984 - 26 April 2018) hari kematian sang legendaris dari Papua yang berkarya di bidang seni sebagai  musisi, antropolog dan kurator dari Universitas Cendrawasih (UNCEN) Papua yang dibunuh oleh militer Indonesia (Kopasandha) pada rezim Orde Baru karena dianggap oleh Pemerintah NKRI sebagai karya seni yang digagas oleh almarhum Arnold Clemens Ap dapat mengancam keutuhan NKRI.  Arnold Clemens Ap bersama rekan-rekannya Sam Kapisa dan Eddy Mofu mendirikan grup Mambesak yang bertujuan untuk menghibur masyarakat Papua, mengilangkan rasa ketidakpercayaan dalam diri, ketakutan yang menyelimuti pikiran serta jiwa setiap peribadi rakyat Papua karena tindakan represifitas yang dilakukan oleh para militer Indonesia sejak Papua di aneksasi ke Negara Indonesia pada 1 Mei 1961 hingga sekarang, menyatukan masyarakat Papua yang terdapat di tujuh wilayah adat (Mamta, Saereri, Domberai, Bomberai, Ha Anim, La Pago dan Mee Pago) dalam sebuah desain bingakai persatuan melalui kesenian.

 

 

Arnold Clemens Ap lahir pada 1 Juli 1945 dan meniggal karena ditembak oleh militer Indonesia pada 26 April 1984. Ia merupakan seorang budayawan, kurator dan musisi sekaligus pemimpin grup Mambesak dari Papua Barat. Pekerjaannya sebagai seorang budayawan dari Papua untuk mempersatukan masyarakat Papua, Arnold C. Ap juga dapat menyiarkan budaya Papua melalui radio mingguannya yang telah didirikan bersama beberapa sahabat karibnya. Hasil kinerja yang sangat baik dari seorang budayawan Papua tersebut di wanti-wanti atau di mata-matai oleh Negara Indonesia melalui aparatur Negara dalam hal ini militer Indonesia (Kopasandha) yang pada saat ini diganti nama menjadi Kopasus. Militer Indonesia menganggap gerakan yang dilakukan oleh grup Mambesak beserta studi-studi terkait kajian budaya tersebut terbukti menumbuhkan jiwa Patriotisme dan Nasionalisme Papua serta masyarakat Papua dapat menemukan jati diri (identitas) melalui kesenian yang digagas oleh grup Mambesak sehingga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Pemerintah kolonial Indonesia dalam memaksakan atau menghilangkan benih-benih Nasionalisme di Papua Barat agar bisa tetap bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

 

Langkah yang telah dilakukan oleh Arnold Clemens Ap dan rekan-rekannya yaitu untuk mempersatukan masyarakat Papua Barat dengan kesenian. Tindakan nyata yang dilakukan oleh Arnold C. Ap tersebut maka pada bulan November 1983 Ia di tangkap oleh militer Indonesia (Kopasandha) dan dipenjarakan serta disiksa dengan menuduh sebagai tersangka dari kelompok gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) meski tak ada tuduhan yang telah dibebankan kepadanya. Tepat pada tanggal 26 April 1984 ia di bunuh oleh militer Indonesia (Kopasandha) dengan melepasakan beberapa dentuman senjata sehingga timah panas pun mengenai bagian punggung dari Arnold Clemens Ap  dan merangkul nyawa sang budayawan dari Papua Barat sehingga ia jatuh dan tersungkur di atas tanah warisan moyangnya dan melepaskan napas terakhrirnya. Seorang sahabat dari Arnold C. Ap sebagai musisi juga menjadi korban dalam tindakan represiaf dari militer Indonesia adalah Eddy Mofu. Pemerintah Indonesia dengan watak kolonial berusaha untuk memberangus dan menghilangkan karya-karya revolusioner yang digagas oleh Arnold Clemens Ap dan beberapa sahabat karibnya untuk menyampaikan ke publik tentang situasi (realita) yang terjadi di Papua pada rezim Orde Baru.

 

Oleh karena itu, pada hari Kamis 26 April 2018  di Asrama Mahasiwa Papua,  Kamasan I, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Para mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua Komite-Kota (KK-AMP) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua  (IPMA - PAPUA) DIY, Front Rakyat Indonesia untuk pembebasan bangsa West Papua (FRI-WP)  dan gabungan mahasiswa dari masing-masing paguyuban yang berasal dari tujuh wilayah adat (Mamta, Saereri, Domberai, Bomberai, Ha Anim , La Pago dan Mee Pago) di Papua yang pada saat ini mengenyam pendidikan di kota Studi Yogyakarta juga turut mengambil bagian untuk memeriahkan acara yang telah dipersiapkan oleh panitia penyelenggara dalam rangka memperingati 34 tahun hari kematian Arnold Clemens Ap. Kegiatan ini dimulai tepat pada pukul 19.30 - 23.30 WIB dan dapat berjalan secara lancar tanpa adanya gangguan apa pun. Tema dari acara ini yaitu persatuan tujuh wilayah adat melalui kesenian untuk pembebasan Nasional West Papua. Masa yang berpartisipasi dalam agenda ini yaitu 587 peserta  yang terdiri dari panitia penyelenggara, perwakilan dari masing-masing kelompok gerakan dan masing-masing paguyuban yang berasal dari tujuh wilayah adat.

 

Pada kesempatan ini juga panitia penyelenggara memberikan kesempatan bagi perwakilan dari masing-masing kelompok gerakan untuk  menyampaikan sambutan (orasi politik) yang terkait dengan 34 tahun kematian Arnold C. Ap yang dibunuh oleh militer Indonesia, kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Papua dan hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa West Papua. Deki Derek Degei sebagai ketua panitia dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa walaupun Arnold Clemens Ap dan rekan-rekannya telah di bunuh oleh Pemerintah kolonial Indonesia tetapi yang tidak dibunuh oleh pemerintah Indonesia adalah hasil karya-karyanya yang sudah mendunia serta jiwa atau rohnya mereka yang menjadi spirit atau energi yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat bagi generasi muda Papua untuk terus bersuara tentang keadilan dan kebenaran sampai merebut kebebasan dari tangan penjajah kolonial Indonesia di tanah West Papua. Sambutan yang kedua dibawakan oleh Aris Yeimo selaku Presiden Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMA-Papua) Daerah Istimewa Yogyakarta. Presiden IPMA-Papua mengihimbau sekaligus mengajak kepada seluruh mahasiswa Papua yang berada di kota studi Sejawa – Bali agar berkonsolidasi dan bersatu untuk melihat persoalan di Papua (Merauke – Sorong) dari dekat menggunakan kaca mata nurani. Tegas Aris Yeimo dalam sambutannya bahwa jika mahasiswa Papua tetap diam, apabila mahasiswa Papua menerapkan semboyan 3K (kos, kuliah dan kampus), acuh tak acuh serta tidak mau keluar dari sona nyaman untuk menyuarakan tentang persoalan yang terjadi di Papua maka pada saat yang sama juga kita mahasiwa Papua telah mengiyakan agar kasus penembakan, pemerkosan, penganiayaan, pencurian, pencaplokan tanah  akan tumbuh menjadi subur di tanah West Papua kalau kita tidak bersatu dan melawan untuk menyuarakan keadilan kabenaran yang dipermainkan oleh Negara kolonial Indonesia bagi bangsa West Papua.

 

Sambutan selanjutnya yang disampaikan oleh Front Rakyat Indonesia untuk pembebasan bangsa West Papua (FRI-WP) yang dibawakan oleh kawan Riko. Dalam sambutan tersebut kawan Riko menyampaian bahwa untuk membebaskan bangsa-bangsa yang tertindas terutama bangsa West Papua  maka kita perlu bersolidaritas tanpa batas dan berjuang sampai menang. Semua golongan harus bersatu dan melawan tindakan-tindakan Negara Indonesia yang melanggar hak-hak dasar manusia (HAM), menyuarakan keadilan dan kebenaran yang dibungkam oleh Negara kolonial Indonesia di Tanah West Papua dan memberikan kebebasan bagi bangsa West Papua untuk menentukan Nasibnya sendiri secara demokratis sebagi sebuah solusi.

 

Oleh sebab itu, mari kita bersatu untuk melawan semua ketimpangan yang terjadi di Negara Indonesia tanpa adanya perbedaan warna kulit, perbedaan asal daerah, perbedaan kelas sosial dan perbedaan ras. Pada kesempatan yang sama juga, Julia Opki selaku Presiden Komite-Kota Aliansi Mahasiswa Papua (KK-AMP) Daerah Khusus Istimewa Yogyakarta menyampaikan orasi politik bahwa selama Papua masih bergabung dengan Indonesia maka tidak ada jaminan kehidupan bagi bangsa West Papua karena Pemerintah Indonesia hanya membutuhkan sumber daya alam yang terdapat di Papua bukan manusianya. Apabila manusia Papua yang berjuang untuk mempertahankan jati dirinya maupun mepertahankan tanahnya maka ia pasti berhadapan dengan moncong senjata yang seharusnya tidak digunakan untuk menembak masyarakat karena senjata yang di pegang oleh militer Indonesia adalah senjata miliknya rakyat. Senjata tersebut seharusnya digunakan sesuai dengan fungsinya yaitu menjaga keamanan negara, melindungi dan mengayomi masyarakat. Seusai sambutan maka Presiden Komite-Kota Aliansi Mahasiswa Papua (KK-AMP) membuka acara peringatan 34 tahun kematian seniman asal Papua Barat Arnold Clemens AP dengan memukul mic secara simbolis bahwa acara tersebut siap dimulai dan dilaksanakan.

 

Pada acara peringatan 34 tahun kematian Arnold Clemens Ap ini diisi dengan berbagai kegiatan yang dibawakan oleh  masing-masing kelompok gerakan, masing-msing paguyuban dan beberapa organisasi gerakan pembebasan bangsa West Papua. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah orasi politik, drama, pantun, puisi, MOB ala Papua dan beberapa tarian daerah yang berasal dari tujuh wilayah adat di Papua. Kegitan ini dapat berjalan secara lancar dan meriah. Di akhir penghujung acara para  mahasiswa Papua yang bergabung di Komite-Kota Aliansi Mahasiswa Papua (KK-AMP) Daerah Istimewa Yogyakarta, Front Rakyat Indonesia untuk Pembebasan Bangsa West Papua dan seluruh mahasiswa Papua yang berasal dari masing-masing Paguyuban menyatakan sikap secara terbuka kepada publik untuk turun ke jalan bersama para buruh melakukan aksi secara damai memperingati hari buruh dan hari aneksasi Papua masuk ke Negara Kestauan Republik Indonesisa (NKRI) pada hari Selasa, 1 Mei 2018.

 

 

Penulis adalah Mahasiswa Kerjasama dari Keuskupan Manokwari - Sorong  dan Keuskupan Agats-Asmat yang Kuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.  

 

Baca Juga, Artikel Terkait