Berpisah, Ibu dan Anak

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

3 Bulan yang lalu
CERPEN

Tentang Penulis
Saat terbawah derasnya air - Berpisah, Ibu dan Anak. (Ilst/KM)

 

Oleh, Mikael Gobai*)

 

CERPEN, KABARMAPEGAA.com - Di pagi yang cerah, ada seorang ibu duduk depan pintu rumahnya sambil memikirkan tentang kehidupan keluarganya. Memikirkan tentang kehidupan keluharga, seharusnya bukan seorang perempuan yang memikirkan. Tapi bagi ibu itu, bukan jadi suatu alasanya.

Ibunya digantikan posisi oleh sang suaminya, sebagai kepalah keluarga dengan anak-anaknya. Hal itu menjadi tanggung jawab yang berat bagi seorang ibu. Tetapi, begitulah pilihan Tuhan. Sang suaminya ditinggalkan karena maut memisahkan dengan istri tercinta dan anak-anaknya tiga (3) tahun sebelumnya. Itulah alasannya seorang ibu itu, jadi bapa dan ibu bagi anak-anaknya setelah suaminya ditinggalkan mereka.

Pada pagi hari itu, ibu itu memikirkan selain kehidupan juga tentang anaknya Umy. Umy sudah tiga hari lamanya, belum pulang-pulang juga setelah pergi ke mertuanya. Pada hal, sebelumnya Umy berjanji kepada ibunya akan pulang setelah dua hari di sana.

Bagi ibunya sangat mengharapkan anaknya segera pulang. Karena Umy adalah anak satu-satunya yang jadi teman ibunya selama hidup mereka setelah ayahnya Umy tiada. Biasanya ibu itu pergi di kebun pagi-pagi dengan anaknya Umy. Tapi hari itu, ia tidak tergerak hati untuk pergi ke kebun. Ia merasa tidak enak sendirinya pergi ke kebun. Karena biasanya ibu itu pergi selalu dengan anaknya Umy. Sudah dua hari ibu itu pergi sendiri tanpa anaknya.  Lalu, pagi itu ia memutuskan harus menunggu anaknya balik dari mertuanya.

Tiga jam kemudian, anaknya nampak di pintu gerbang di rumah mereka. Ibunya pun merasa gegas sembuh sebuah perasaan yang ia simpan. Umy tiba dan menyapa ibunya. Ibunya langsunga memberi petatas kepada anaknya dengan tampak senang hati.

Beberapa menit kemudian setelah Umy makan, ibunya ajak Umy berkata “Kita pergi ke kebun siang ini.”

Jawab Umy “Iya ibu.” Umy tanpa pikir panjang menjawab meski baru pulang dengan perjalanan yang cukup jahu.

Kemudian, Umy dan ibunya mulai bergerak dan keluar dari rumah mereka. Ketika ibunya keluar, ibunya melihat di langit nampak awan hitam, menandahkan bahwa akan hujan tidak lama lagi. Tapi, ibunya ajak dengan segera anaknya untuk lebih cepat perjalan mereka. Jika tidak pergi ke kebun, mau makan apa untuk santapan malam dengan anak-anaknya, itulah alasannya.

Sesampai di kebun, tanpa lama-lama lansung ibunya membagi tugas, “Umy gali petatas dan petik sayur, ibu akan bersikan rumput,” kata ibunya kepada anaknya.

Tanpa pikir panjanga langsunga mulai bekerja. Setelah beberapa jam kemudian, bunyi gemuruh mulai tampak. Awan hitam meyelimuti anak dan ibunya, dan suasana jadi nampak gelap. Kebun mereka jahu lebih pojok di antara tetangganya yang lain dan harus melewati salah satu kali yang melintasi sepanjang jalan.

Setitik-titik embun hujan pun kena di tubuh mereka. Langsung ibunya menyuruh, “Umy siapkan petatas dan sayur didalam noken, kita segera harus pulang,” dengan nada teriakan panik ibunya berkata.

Umy mendengarkanya lalu siapakan petatas dan sayur kedalam noken. Sembari menunggu ibunya, Umy kumut kulit kayu hampasan pagar cincang. Umy sudah siapkan tiga noken, satu untuk petatas dan satu untuk sayur dan satu juga untuk hampasan kayu. Hujan sudah jatuh dan membasahi mereka. Umy dan ibunya panik dengan ingin cepat pulang. Bukan soal hujan yang membauat Umy dan ibunya panik, tapi takuntnya akan banjir kali yang melintasi sepanjang jalan itu.

Ibunya menyuruh anaknya supaya bagi tiga noken itu.

“Ibu bawah yang sayur saja, nanti Umy bahwa kayu dan petatas,” kata Umy kepada ibunya.

Namun, ibunya membantahnya juga lalu berkata, “tidak! kalo Umy mau bawah dua noken biar untuk kayu ibu yang bawah.”

Tidak ibu! Banta juga Anaknya “Umy kan biasanya bahwa dua tiga noken”

Tidak! Ibunya masih membanta juga.

Sudah tiga kali Umy dan ibunya tawar menawar dan akhirnya Ibunya menyerah.

Hujan sudah membasai mereka. Mereka mulai bergerak untuk pulang ke rumah. Hujan tidak terlalu lebat.

“Ibunya meminta kepada Umy supaya jangan terlalu cepat perjalanannya, takutnya akan terjadi apa-apa” ibunya berkata dengan hati.

Sesampai di kali itu, Umy menyuruh ibunya lebih dulu menyebrang. Kali itu tampaknya tidak terjadi banjir yang besar, meskipun hujan. Ibunya tanpa pikir panjang lebih dulu menyebrang. Setelah ibunya sampai di seberang, ibunya menunggu anaknya. Anaknya mulai bergerak untuk menyebrang. Ketika Umy tiba di tengah-tengah kali itu, langsung terjadi banjir besar seperti air kolam yang terbongkar satu kali kencang yang dasyat. Kemudian, anaknya terbawa air. Ibunya pun langsung melompat kedalm air untuk menhannya. Namun, sayang ibunya tidak menemukan anak buah hatinya. Berpisah dari situ.

Kisah cerita ini, bukan fiksi tapi nonfiksi. Dari cerita ini mau menunjukan bahwa panggilan Tuhan itu datang lewat berbagi segi kehidupan. Hidup itu misteri. Apapuan yang terjadi tentu menurut kehendaknnya sebab Tuhan yang maha tahu ranah hidup manusia. Tuhan maha baik.

 

Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Jakarta – (Jakarta, 09 Februari 2019)

Editor: Frans P

Baca Juga, Artikel Terkait