Budaya Kekuasaan dan Peralihan Fungsian Noken di Papua

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Noken Papua bentuk BK

 

Oleh: Renold Ishak Dapla

 

Bahasa suku Kimyal, Kabupaten Yahukimo “Wenogne sisa’ di” yang artinya Budaya Kekuasaan Baru, “damen agleng wina’ sisa’ ne gom ulamla’  papua sogo ag se yubu” artinya Peralih Fungsian Noken di Papua. Jangan lupa bahasa karena lupa bahasa itu lupa diri pula.

 

Artikel, KABARMAPEGAA.COM--Mari kita lanjut dalam pembahsan, hal yang paling substantif dan fundamental adalah proses produksi noken yang mengalami perubahan secara besar-besaran. Ini mempunyai dampak berpaur luka kronis sosial dalam mengkonservasi material lokal yaitu bahan lokal yang saat ini di marjinalkan dari dominasi materi luar. Pandangan dominasi budaya barat ini tidak sebatas merubah arah dan bahan pembuatan noken papua, namun ia merubah peyimpanan segala barang yang berharga secara budaya papua maupun juga tempat sandaran hati manusia papua. Keminiman corak produksi noken pada abad 21 ini tampaknya hilang dan lebih khususnya produksi noken berbasis bahan lokal. Potensi dan kekuatan budaya luar memang datang dengan tajam, karenanya kondisi sosial setempat terdapat mengalami perubahan secara terstruktur, ini adalah suatu peluru tajam yang sifatnya merugikan basis marial lokal.

                                        

Dalam konteks ini terdapat tiga poin penting di wajibkan untuk di telusuri secara bertanggung jawab. Poin-poin yang di maksud disini adalah perbedaan antara melihat noken berbasis lokal, noken yang berbasis moderen dan noken yang kemudian berbasis kontemporer.

 

Pertama, noken yang berbasis pada lokal adalah noken yang sifat alamiah, alamaih dalam hal bahwa noken itu sudah ada sebelum moderen dan kontemporer hadir dan mendampingi di area papua. Kedua adalah moderen, gaya moderen ini di mulai dari bangsa eropa, kemudian menyebarkan ke dunia ketiga yang saat ini di kenal dengan negara-negara perkembang. Moderen ini menyebarkan segala bentuk barang dan material yang ada dari eropa kuno, karena perkembangan moderen seperti demikian, sehingga seiring berjalannya waktu, gaya modern ini pun sering dapat dikritisi oleh negara serta orang-orang lain yang kemudian tidak setuju untuk menerima arsitektur moderen yang adalah di bungkusi dengan kekuasaan, karena dianggap bahwa hal moderen adalah perilaku yang meninggalkan nilai-nilai tradisi local, karena untuk menanggapi dan meresponi kritikan ini, sehingga arsitektur mulai lebih peduli dengan konteks dan tradisi lokal tetapi dengan tetap menggunakan material berteknologi tinggi seperti kaca, baja, dan beton. Dari sinilah awal masa post-modern dengan munculnya arsitek kontemporer yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pada zamannya.

 

Analogi ketiga poin di atas itu adalah bagaimana perkembangan zaman dan hasil produksi baru yang berasal dari dunia barat yang mana menduduki di negara Asia Amerika Latin dan Afrika (A3), tidak hanya di wilayah A3 saja, akan tetapi juga di wilayah-wilayah pasifik Melanesia. Memang pandangan melaluhi kaca mata dunia barat bahwa apapun yang meleka lalukan adalah nilai yang paling superioritas sedangkan budaya setempat yang selalu eksis sejak moyang itu di abaikan, perbuatan manusia ini adalah hal yang keji. Nilai-nilai dan norma di daerah papua itu di subordinasikan secara tidak manusiawi. Hal ini adalah perlawanan yang kemudian menghilangkan nila-nilai daerah papua secara perlahan dan banyak orang yang selalu membahas soal kemanusia di papua, itu memang wajar saja karena pelangkaran HAM di papua adalah historis yang penuh kelam. Di dalamnya, tidak hanya saja pada menghilangkan nyawa, namun juga mengilangkan nilai dan budaya yang melekat pada orang papua sejak poleolitikum. Pendominasian budaya baru adalah monopoli dengan kekuasan untuk orang papua harus menghormati budaya baru itu sebagai miliknya sedangkan budaya tersebut belum masuk di tanah papua, orang papua sudah ada dan kemudia segala macam bentuk materia yang bernafas maupun juga tidak bernafas sudah ada sejak komunal.

 

Hal hal itu adalah bagaimana dominasi yang perkembang biak menjadi besar, tumbuh subur dan menjalar di seluruh teritori wilayah yang terjajah papua. Moderen sudah hadir dalam rumah kita papua itu adalah realitas yang kita terima saat ini, karena moderen sudah-telah hadir di dalam noken papua. Realitas yang kita terima secara lapang dada tanpa menolaknya, namun di sisi lainya adalah kita lawan pendominasian yang moderen selain kita terima, karena tanpa perlawanan kita atas penurunan nila budaya kita, maka kita bukan lagi orang papua yang mempertahankan budaya kita yaitu noken papua.

 

Mari kita masuk pada noken, sejak dahulu kala, nilai noken di papua adalah bukan untuk menjual belikan untuk melengkapi kekurangan ekonomi, namun nilai noken adalah tempat rahasia yang menyembunyikan sebaga bentuk barang. Tidak hanya itu, noken juga adalah tempat bersembunyian bodi agar seluruh tubuh kita di sehat dan aman, noken adalah rumah sakit orang papua di waktu pertama, di dalam noken telah ada obat-obat natural, telah ada selimut serta bantal polo yang di buat secara teratur alami. Bersyukur atas estetika keindahan noken papua ini untuk konservasikan dengan hukum adat yang ada sebagai pagar menjaga noken. Kita tidur di noken, makan minum di noken, segala macam hal yang buruk maupun juga tidak terburuk ada di dalam noken buatan tangan mama, karena itu noken bukan hanya sebatas alat yang kemudian menempatkan di punggung untuk membawa segala jenis barang, namun noken juga memiliki nilai paling tinggi sebagai tempat bersembunyi ketelanjangan orang papua, tempat menutupi hal-hal yang melekat pada tubuh orang papua, bahkan noken juga adalah alat yang mana kemudian berdemokrasi secara bersama pula.

 

Perbedaan pembuatan noken saat ini sangat melebihi dengan basis material yang kemudian datang dari luar tanah papua. Nama noken itu tetap ada, hanya saja basis materi itu semakin hari semakin tidak terlihat. Bahan-bahan pembuatan noken di kampung yang mama-mama mengambil di hutan itu sudah tidak nampak. Waktu-waktu yang saat itu Mama pegang parang kemudian ke hutan untuk mengambil alat-alat pembuatan noken itu kini diam. Ketika mama-mama papua pegunungan yang datangkan bahan dari hutan, kemudian pada sore hari mama mengukpas kulit kayu, bersihkaan, kemudian menyemurkan di dekat api serta di mata hari itu kini tidak ada. Pada sore hari, mama-mama kumpul di satu tempat, sambal cerita-cerita menganyam noken itu sudah berubah. Noken-noken asli dengan pembuatan noken dari bahas lokal itu sekarang mama-mama tidak di pakai lagi, apakah ini terjadi ketika mama-mama papua tidak ingin lagi menganyam noken, ataukah karena mama-mama papua marah atas kehadiran sentral produksi baru? Jawabanya adalah karena alat produksi baru ini lebih dominasi atas budaya pembuatan noken dan material baru, itu membuat mama-mama di papua tidak tertarik lagi dengan pembuatan noken yamg basisnya adalah bahan lokal.

 

Bahan dan alat produksi baru yang di maksudkan di sini adalah semacam benang gulung yang panjang, jarum yang ukuran Panjang, dan pabrik menciptakan benang dan jarum. Mama-mama papua selalu membuat noken yang berbentuk bintang kejora, gelang-gelang, noken berbentuk tas kecil hingga yang besar, baju, celana dan sepatu, itu memang kreativitas mama-mama papua yang patut di apresiasi sebab mama-mama papua mengangkat nilai-nilai yang tersembunyi di dalam noken. Akan tetapi salah satu hal yang tidak kita lihat bahkan tidak sadar adalah alat dan bahan yang kita gunakan untuk pembuatan noken tadi itu adalah instrument yang kemudian kita marjinalkan bahas pembuatan noken yang berbasis lokal.

 

Nilai noken saat ini selalu di angkat oleh mama-mama papua dari Sorong sampai Merauke, saya sebagai anaknya patut mengapresiasi akan usaha dan tanggung jawab sebagai mama. Namun, yang yang harus mama serta kita orang asli papua yang harus lihat dan memperhatikan adalah nilai bahan lokel telah menghilang. Bahan-bahan lokal yang ada di papau, baik itu di papua pesisir pantai, papua bagian lembah dan papua bagian pegunungan nilai yang seharusnya tidak di tinggalkan. Nilai bahan lokal yang sungguh penuh makna, segala macam misteri keindahan yang tersembunyi di sana. Nilai dan pilosofi bahan lokal adalah membersihkan keegoisan, membangun persatuan, menyelesaiakan masalah, memutuskan sesuatu secara bersama, melestariakn serta menjaganya sebagai sentral produksi noken yang kontenya penuh makna.

 

Motivasi serta dorongan Dalam pembuatan noken yang berbasis moderen ini lebihnya mengarah pada bagaimana mama-mama papua itu menciptakan ekonominya. Usaha-usaha yang di lakukan oleh mama-mama papua memang punya makna yang sungguh dasyat. Mama-mama membuat noken dengan bahan moderen untuk menghidupi keluarga dalam Pendidikan maupun juga hal rumah tangga lainya. Mengapa mama-mama papua harus jual noken? Sedangkan Analisa radikalnya atas isi noken ini bisa di bilang bahwa mama-mama papua dari Sorong sampai Merauke itu sedang menjual nilai noken serta budaya papua yang kemudian terselubungi di dalam noken papua.

 

Soal ekonomi, mama-mama papua di waktu komunal tidak pernah menjual noken untuk memenuhi kebutuhan, akan tetapi hal yang selalu dilakukan oleh mama-mama papua di waktu itu adalah mengisi barang-barang semacam potongan daging babi yang sudah masak, mengisi potongan kayu-kayu yang siap di bakar ketika pulang ke rumah, kemudian juga mama-mama di papua memberikan noken itu secara gratis kepada mama-mama lain di papua tanpa di bayar itu adalah hal sosial yang tertanam sejak dahulu kala. Ketika negara-negara barat tiba di papua, noken ini menjadikan sebagai alat tukar tambah, karena dalam kehadiran orang dari luar papua, di sana hadir juga nilai keuangan. Nilai keuangan inilah yang membuat mama-mama papua harus jual noken papua serta nilainya. Ketika ada nilai uang, maka mama-mama papua yang dulunya mempunya sentral produksi noken dengan bahan yang ada di daerah, sekarang, hal itu berubah secara drastis, karena ada keterganungan pada nilai uang, maka sentral produksi mama-mama lebih mengarah pada noken yang berbasis moderen untuk menciptakan ekonimi yang layak dan mudah untuk menafkahi keluarga atas Pendidikan, barang-barang baru serta lainya yang di butuhkna dengan nilai uang.

 

Di papua mempunyai banyak suku, disana tentunya ada cara pembuatan noken yang amat beda. Dari setiap suku yang ada, tidak pernah menjual noken kepada suku yang lain untuk memperoleh ekonomi, sebab di papua mempunyai nilai sosial yang cukup tinggi, di kasih secara gratis kepada manusia papua lainya. Pertanyaanya, Mengapa kebanyakan orang papua yang tinggal di kota saat ini biasa bawah uang dalam celana, di luar dompat? Karena memang orang papua itu memberikan segala sesuatu dengan rasa simpati kepada orang-orang papua lainya tanpa pila-pila, artinya pembawaan dari sejak lama bahwa sesutu yang di berikan kepada manusia lain secara simpati, tidak ada keniatan dalam hati orang papua untuk harus balas budi, karena memang itu adalah suatu nilai serta karakter serta kebiasaan yang telah tertanam di dalam orang papua.

 

Memang ada nilai tukar di kala itu, namun nilai tukar yang eksis di waktu itu tidak sebanding dengan saat ini yang kemudian eksis dengan nilai tukar dengan jumlah uang yang besar. Di waktu tertentu yang tukar barang dengan noken, namun hal itu tidak selamanya, namun saat ini, tidak ada yang sifatnya harus mengambil bon, atau di ambil secara gratis, karena nilai penukaran sangat tinggi di hari ini. Pasti nilai itu akan ada dan selalu tinggi, sebab kondisi objektif yang di hadapi oleh orang papua saat ini adalah dalam situasi yang penuh fanah. Ada waktu yang balas budi, ada waktu yang di kasih secara simpati, ada waktu yang menolak di saat memberikan barang (noken), kenapa orang tersebut menolaknya? Sebab ia memberikan bukan secara balas budi, bukan untuk mendaptkan nilai yang lebih tinggi, namun orang itu memberikan barangnya miliknya karena ia anggap bahwa Sebagian besar yang ia miliki harus memberikan kepada orang lain, itilah nilai sosial orang papua yang tinggi yang tidak dapat di miliki oleh orang lain yang berada di bumi ini. Mengapa harus saya mengangkap diri orang papua itu mempunyai nilai yang tinggi, karena memang saya sebagai orang papua memuji nilai-nilai yang di lakukan oleh orang papua, nilai yang kemudian secara alamiah, tanpa meliaht hari esok, orang papua memberikan segalanya dengan penuh kasih.

 

Hal kasih yang di lakukan oleh orang papua itu hadir sejak zaman batu, sebelum injil masuk dan kemudian memberitahuakn soal kasih, orang papua itu sudah memiliki kasih yang cukup tinggi, Ketika agama masuk di papua, hal itu sebagai menunutupi atau melengkapi daru Sebagian kekurangan soal kasih.

 

Sejak komunal, manusia papua di bentuk secara sosial. Orang papua di bentuk dan berakar serta perkembang biak dalam situasi yang ada, maka itu menjadi suatu nilai, norma serta moral yang tertinggi yang harus dipegang, dikembangkan, diteruskan oleh orang papua itu sebagai warisanya. Budaya dan keuasaan baru yang kemudian masuk sebagai tamu, lalu saat ini menjadi tuan rumah adalah bagi dari pada pengembangan budayanya, karena itu untuk mempertahankan budaya papua pada umumnya dan lebih khusus basis material noken adalah nilai tertinggi yang harus di pertahankan, berdiri tegak, lurus tanpa miring kiri dan kanan, berdiri di atas tanahnya. Ia harus berdiri dengan hukumnya sendiri di teritori wilaya papua, sebab basis merial ini mempunya hukum tradisional yang kuat Ketika di lihat dengan kaca mata orang papua (adat orang papua).

 

Kehilangan nilai pewarnaan melaluhi budaya baru dalam pembuatan noken adalah hal yang sangat fundamental, sedangkan pewarnaan pada benang di sejak zaman batu hingga saat ini adalah mempunyai ontology filosofi  noken yang mengarah pada persatuan budaya kita papua, suku kita papua, bahasa dan wilayah kita di papua, kita dalam satu papua di dalam satu noken papua. Bunga-bunga yang di siapkan oleh mama-mama papua untuk mewarna dengan berbagai macam  dengan ragam warna yang ada untuk mewarnai makna-mana serta nilai itu tiada. Kini warna itu di terima secara instan, dalam pandangan sebagian mama-mama papua yang selalu membuat noken ini adalah hal yang membantu mereka dalam pembuatan noken, namun ini juga adalah nilai kebudayaan yang kemudian hilang berlahan.

 

Rencana menghilangkan budaya pembuatan noken juga adalah bagian dari pada genosida, sebab genosida atas orang papua bukan hanya pada orang-orang papua saja, namun juga mangarah pada menghilangkan budaya secara terstruktur dengan alat produksi moderen secara perlahan. Hal ini memang tidak memiliki nilai kehormatan atas eksisnya budaya-budaya di daerah, pulau, benua serta negara-negara yang ada di jagad raya ini. Orang-orang yang tidak menghargai budaya orang lain adalah mereka yang derajat kemanusiaan serta nilai budaya yang patut di harga telah hilang akibat nilai tukar.

 

Penegasanya sebagai hal yang harus mempertahankan dan serta menerimanya adalah hal kontruksi instrument moderen serta kontemporer yang hadir saat ini. Hal ini telah menghampiri di depan orang papua saat ini, karena itu pastinya ada yang terima akal hal kehadiran budaya baru, namun ada juga yang akan tidak terimanya. Di posisinya yang terima, tetap memperjuangkan nilai-nilai budaya noken dengan bahan moderen yang kemudian hadir saat ini, akan tetapi orang papua yang tidak terima budaya baru, terus mempertahankan nilai yang eksis sejak manusia zaman batu.

 

Manusia hari ini yang harus melihat dan adat dan tetap mempertahankan nilai noken dengan bahan dasar yang ada. Hal ini tidak bisa dapat kita menyanggal, namun membangkitkan nilai dan budaya pembuatan noken dengan basis materi noken atas kekuatan orang papua itu sendiri, sebab khalik memberi orang papua dengan kekuatan yang amat tajam untuk melihat semua materi yang ada di papua untuk tetap eksis dan tanamkan nilai-nila serta moral pelestarian lingkunag dan noken sebagai pemberian Tuhan yang amat tinggi bagi bangsa papua.

 

Penulis adalah Renold Ishak Dapla, mahasiswa asal papua, anggota aktif AMP KK_Yogyakarta

 

Sumber:

  1. Pekei, T. (2015). Sang pengali noken. Pejuang di tengah pengakuan duni. tigy: Deiyai.
  2. Mote, donatus. (2016). Noken dalam pilpres papua 2014. Yogyakarta.
  3. Fanon, Frantz. 2018. Kebudayaan dan Kekuasaan. Resist Book: Yogyakarta. Diterjemahkan oleh Muhammad Taufiqurrohman.

#Pemerintahan

#Lingkungan dan Hutan

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait