Cara Membaca Berita Nasional Tentang Pengungsi Nduga

Cinque Terre
Manfred Kudiai

19 Hari yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Masyarakat Nduga berrsembunyi di Hutan. Foto: Istimewa

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Sejak awal meletusnya kontak senjata pada Desember 2018 hingga saat ini terhitung  sudah memasuki 8 bulan. 40 ribu warga yang mengungsi dan 182 orang yang meninggal termasuk seorang bocah yang dijadikan sandera oleh TNI, memicu banyak perhatian. Untuk membuka akses bantuan secara cepat, terlebih dahulu akses jurnalis nasional juga internasional menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk misi kemanusiaan.

 

Hal tersebut dikakatan Jhon Gobai, Ketua Umum Pengurus Pusat Aliansi Mahasiswa kepada kabarmapegaa.com, saat dihubungi via telpon seluler, Sabtu (03/8).

 

“Tengah Papua yang berduka atas terbatasnya akses pers,  juga menjadi satu indikasi bagaimana bangsa ini, terutama negara yang punya kekuatan atas kekuasaan membangun narasi tentang kebenaran di Nduga,” jelasnya.

 

Jhon menjelaskan “ Saya yang jauh dari Nduga, yang tinggal di Jawa, tentu pers sangat membantu dalam memahami kondisi Nduga. Berita nasional sangat ramai memberitakan tentang Nduga, konflik Nduga, lebih spesifik lagi tentang KKB, KKSB, dan TNI yang hadir untuk pembangunan seraya membersihkan gerakan bersenjata, tentara Pembebasan Nasional Papua Barat. Hal itu terus berjalan hingga bulan ke delapan, Juli baru fakta yang dikonferensikan oleh Tim Solidaritas Peduli Pengungsi Nduga.”

 

Menurutnya, beberapa media, terutama suarapapua, jubi.co, tempo, CNN Indonesia menggambarkan sisi korban pengungsi akibat konflik, kondisi kesehatan, gizi buruk, dan tak ada akses pendidikan, dsb. Potres Nduga yang berujung rumah terbakar, tak ada gedung yang terlihat utuh. Begitu juga dipenuhi oleh militer dalam jumlah pembangunan jalan dan kelompok lain yang seriusi saling kontak dengan TPN PB.

 

“Sejak itu saya bisa membedakan mana berita nasional dari “Jakarta” dan Nasional Jakarta dari Papua. Konferensi itu mengundang sejumlah tanggapan dari pejabat negara. Terutama beberapa media meliput berita bantahan terhadap laporan tim pengungsi.”

 

Misalnya, kata Jhon,  regional kompas meliput Kodam Cenderawasih tentang pengungsi Nduga. Judul beritanya tertulis "Warga Nduga Bermigrasi, Bukan Mengunsi" kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol CPL Eko Daryanto (29/7/2019). “Dari judulnya bisa kita pastikan orientasi wartawan dan arahnya kemana.”

 

Jadi, menurut Jhon,  untuk membaca berita tentang Nduga-Papua, Pertama, baca siapa narasumber berita itu. Akan berimbang ketika terdapat dua narasumber yang terwakili korban dan rezim (karena konflik yang melibatkan instruksi Jokowi). Kedua, isi berita. Kalau ada istilah KKB, KKSB, maka itu sumbernya dari TNI dan Polri. Ketiga, berita dari Jakarta, mesti dilihat muatannya apakah ada verifikasi (turun ke TKP, saksikan korban, atau bersumber dari pihak korban/sumber terpercaya oleh masyarakat luas).

 

“Sehingga ketika saya membaca berita yang diliput oleh Dhias Suwandi kontributor Jayapura yang sumbernya satu, Kodam Cendrawasih, yang nyatanya juga satu pihak pelaku atas berakibat pada pengungsian itu, maka saya hanya tersenyum sendiri. “Pace ini dapat berapa isi berapa?” Bertanya dalam diam sambil terpaksa ganti berita bola Persebaya versus Persipura, sore ini,” bebernya.

 

Artinya, lanjut Jhon,  kita dapat mengukur kualitas pers di Indonesia. Semakin buruk kualitas, sepanjang itu pula Pers Indonesia turut melanggengkan kolonialisme Indonesia beserta tuannya Imperialisme asing di Papua.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Peristiwa Nduga

Baca Juga, Artikel Terkait